Firli Bicara 17 Tahun KPK: Penuh Intimidasi dan Ancaman

CNN Indonesia | Selasa, 29/12/2020 18:13 WIB
Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan selama 17 tahun lembaga antirasuah menjalankan tugas dan fungsinya acap kali dibayangi intimidasi dan teror. Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan selama 17 tahun lembaga antirasuah menjalankan tugas dan fungsinya acap kali dibayangi intimidasi dan teror. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengatakan selama 17 tahun lembaga antirasuah menjalankan tugas dan fungsinya acap kali dibayangi intimidasi dan teror.

Hal itu disampaikan bertepatan dengan peringatan hari lahir KPK Desember 2003.

"Mulai dari intimidasi dan ancaman atas keselamatan jiwa dan raga hingga kekerasan/serangan fisik langsung kepada insan KPK, adalah contoh konsekuensi yang telah kami hadapi dalam perjuangan memberantas laten korupsi di negeri ini," kata Firli dalam keterangan resminya, Selasa (29/12).


Firli yang juga merupakan jenderal polisi bintang tiga itu mengungkapkan intimidasi dan teror tidak membuat kinerja insan KPK menurun. Justru, menurut dia, ancaman tersebut semakin menggugah gelora memberantas korupsi.

"Salah jika menganggap teror bahkan serangan langsung (fisik) dapat menciutkan nyali kami, mengerutkan keberanian, menyurutkan semangat, apalagi berharap kami menjadi takut menjalankan tugas yang dipercayakan rakyat kepada kami," imbuhnya.

Mengutip data laporan kinerja KPK 2019, salah satu ancaman berbau mistis pernah menimpa seorang personel Koordinator Wilayah II bernama Dian Patria.

Kejadian mistis yang menimpanya berawal saat ia melakukan pemantauan di Bendungan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada 2017.

Sepulangnya dari kegiatan pemantauan, Dian sering mengalami sesak napas. Meski begitu, ia tetap melanjutkan tugas dengan mengunjungi daerah Kalimantan Timur untuk melakukan peninjauan ke sejumlah area tambang yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) non Clear and Clean dan habis masa berlakunya.

Di sela tugasnya, ia sempat berobat ke Rumah Sakit. Dokter menyatakan bahwa ada cairan di jantung dan paru-paru yang mewajibkannya harus dirawat di ruang ICU selama dua pekan dan bertahan dengan bantuan ventilator.

Dari sejumlah dokter yang menanganinya, tak ada satu pun yang dapat menjelaskan penyakit yang sebenarnya menjangkiti tubuh Dian.

Selain itu, terdapat sejumlah teror lain yang didapati insan KPK. Di antaranya seperti benda mirip bom di rumah pimpinan KPK saat itu Agus Rahardjo dan dua bom molotov yang dilempar ke rumah Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif pada Januari 2019.

Kemudian penganiayaan dua anggota Tim Surveillance di Hotel Borobudur pada 2 Februari 2019, hingga penyiraman air keras yang dialami penyidik senior Novel Baswedan.

Firli menyadari pekerjaan KPK jauh dari kata tuntas lantaran masih ada penyelenggara negara yang berani melakukan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, ia meminta peran aktif masyarakat dalam memberikan setiap informasi perihal dugaan tindak pidana korupsi.

"Ibarat pepatah 'sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga'. Kejahatan korupsi yang mereka tutup rapat, akhirnya dapat kami kuak di mana para pelaku korupsi mulai dari kelas teri hingga kelas kakap (big fish) kita seret ke meja hijau dan uang rakyat yang mereka korupsi dikembalikan ke negara," ucap dia.

(ryn/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK