PA 212 Tolak Usulan Tan Malaka Diulas di Buku Sejarah

CNN Indonesia | Selasa, 05/01/2021 01:16 WIB
Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin menyebut buah pemikiran Tan Malaka berbahaya bagi generasi muda. Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin menolak usulan Tan Malaka diulas lebih banyak dalam buku pelajaran sejarah di sekolah (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin menolak usulan peran Tan Malaka diulas lebih banyak dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Novel menolak karena Tan Malaka merupakan tokoh komunis.

"Kita menolak, karena masih diduga kuat komunis," kata Novel kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/1).

Novel menilai buah pemikiran Tan Malaka cenderung beraliran kiri atau komunis. Dia cemas pemikiran Tan Malaka memberi dampak buruk pada anak didik jika diulas lebih banyak dalam buku pelajaran.


Menurut Novel, Tan Malaka juga tidak patut dijadikan pahlawan nasional.

Novel lantas membandingkan Tan Malaka dengan Barisan Pertahanan Tionghoa atau Pao An Tui yang didirikan di Indonesia pada tahun 1947 silam. Menurutnya, posisi Tan Malaka dan Pao An Tui sama kontroversialnya dalam sejarah bangsa Indonesia.

Novel mengklaim umat Islam dan ulama juga tidak akan menyetujui bila Tan Malaka dan Pao An Thui diuraikan peranannya lebih banyak dalam buku sejarah.

"Padahal ulama dan umat Islam jelas menolak karena diduga umat Islam ini yang menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh Pao An Thui," tambah Novel.

Sebelumnya, pihak keluarga berharap peran Tan Malaka dijelaskan lebih banyak dan rinci dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Tan Malaka dinilai memiliki peran penting dalam perjuangan Indonesia hingga merdeka pada 1945 silam.

"Jasa dan peranan Tan Malaka sangat patut dikenang dalam ingatan dengan cara memasukkan kiprah sejarah yang pernah beliau lakukan ke dalam kurikulum pendidikan Sejarah," kata Hengky Novaron Arsil, ahli waris Tan Malaka.

Tan Malaka sendiri sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No 53 Tahun 1963 yang diteken oleh Presiden Sukarno pada 23 Maret 1963 lalu.

Nama Tan Malaka sempat dihapus dalam buku sejarah di sekolah-sekolah pada masa Orde Baru. Namun, Tan Malaka tidak benar-benar hilang. Kisah perjuangan serta buah pikirnya terus dikaji kalangan akademis.

(rzr/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK