Relawan Sinovac Bandung: Setengah Jam Pegal, Nafsu Makan Naik

CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2021 11:50 WIB
Relawan vaksin Sinovac di Bandung mengakui jarum vaksin Sinovac lebih besar, dan membuat setengah jam pascapenyuntikan badan jadi pegal-pegal. Vaksin Sinovac. (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 Sinovac, pada Senin (11/1). Tingkat efikasi diklaim mencapai 65,3 persen.

Salah seorang relawan uji klinis di Bandung, Herlina Agustin (52) ikut membagikan cerita pengalamannya mengikuti pengujian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Bio Farma itu.

Proses penyuntikan pertama dilakukan di Puskesmas Dago, Kota Bandung, 28 Agustus 2020. Sebelumnya, para relawan melalui serangkaian tes mulai dari test swab, pengecekan darah hingga tes fisik.


Herlina mengaku, tidak ada reaksi di tubuhnya saat disuntik. Namun ia mengakui ukuran jarum vaksin yang diklaim lebih besar ketimbang jarum saat pengambilan darah.

"Memang pegal banget (setelah disuntik). Terutama yang pertama, tidak menyangka jarum suntiknya besar. Saya rasa ada setengah jam merasakan pegal," katanya, Selasa (12/1).

"Masih sama (besar) dari yang pertama. Tapi yang kedua sudah siap mental," ucap wanita yang bekerja sebagai dosen itu.Penyuntikan kedua atau dosis penyuntikan yang terakhir berlangsung pada 11 September 2020. Sama halnya dengan penyuntikan pertama, Herlina mengungkapkan jarum suntik berdiameter agak besar.

Uji klinis vaksin fase III dilangsungkan di Pusat Uji Klinis yaitu di FK Unpad dan melibatkan sampel 1.620 orang atau relawan dengan rentang usia 18 hingga 59 tahun.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Unpad, Kusnandi Rusmil menerangkan bahwa setiap relawan diambil sampel darahnya sebanyak tiga kali. Pertama yakni sebelum vaksinasi, kedua setelah vaksinasi tahap kedua, dan terakhir sampel darah diambil setelah relawan beraktivitas selama lima bulan.

Sepanjang jangka waktu itu, para relawan tetap melaporkan hal-hal yang terjadi selama berkaitan dengan vaksin.

Nafsu Makan Meningkat

Alih-alih merasa sakit, Herlina merasa pikirannya lebih tenang setelah menerima vaksinasi. Ia merasa lebih terlindungi dari ancaman covid-19. Meskipun tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Sejauh ini aman enggak ada apa-apa. Enggak ada keluhan yang spesifik, seperti demam itu enggak ada, pusing, bengkak atau merah juga enggak ada," tuturnya.

Herlina menyadari satu hal, selang beberapa hari dari suntikan pertama ke kedua, ia merasa dirinya bertambah gemuk. Hal itu karena nafsu makan yang tiba-tiba meningkat semenjak mendapatkan vaksinasi.

"Sebelum uji klinis biasa saja tapi setelah uji klinis makan jadi enak. Tapi saya enggak tahu itu karena vaksin karena relawan enggak tahu apa dapat vaksin atau plasebo," ujarnya.

Dalam tahapan uji klinis, baik vaksin atau obat, relawan akan dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok uji dan kelompok plasebo atau obat kosong. Peneliti menggunakan plasebo selama penelitian untuk membantu mereka memahami efek vaksin atau obat baru dan mana yang sebenarnya sugesti belaka.

Selama menjalani uji klinis, Herlina juga mengaku tidak diperkenankan mengikuti vaksinasi dari luar. Hal itu dilakukan karena peneliti akan menentukan efikasi dari vaksin yang diujikan. Sehingga terlihat kemampuan vaksin dalam membentuk antibodi.

"Karena selama mengikuti uji klinis ini relawan masih terus dipantau. Infonya sampai Mei. Jadi saya sebagai relawan baru akan divaksin Juni setelah efikasi dan laporan beres," katanya.

Herlina sendiri tergerak ingin menjadi relawan uji klinis vaksin karena pekerjaannya yang sering ke lapangan bertemu dengan banyak orang. Selain dosen, ia aktif di berbagai kegiatan sosial. Karena itu, Herlina merasa membutuhkan vaksin agar tidak terpapar Covid-19.

"Saya masih menerapkan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) sejak sebelum dan saat mengikuti uji klinis. Tapi aktivitas normal seperti biasa biasa seperti mengajar dan tergabung di kesukarelawanan," kata dia.

(hyg/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK