Jumlah Asli Kasus Covid RI Diprediksi Lampaui 1 Juta

CNN Indonesia
Selasa, 26 Jan 2021 16:57 WIB
Jumlah kasus positif covid-19 di RI diprediksi sudah melebihi 1 juta orang. Kemampuan pemeriksaan yang minim menjadi penyebab. Jumlah asli kasus covid di RI diprediksi sudah melampaui 1 juta. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus covid-19 telah menembus 1 juta orang per Selasa (26/1) sejak pertama kali ditemukan di Indonesia pada Maret 2020.

Kendati demikian, data tersebut dinilai belum menunjukkan kondisi pandemi secara riil. Jumlah nyata kasus covid-19 diprediksi telah melebihi angka 1 juta.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menduga 1 juta kasus covid-19 sesungguhnya sudah didapat sejak lama.


"Dulu saya pernah estimasi, antara 10 sampai 20 kali kasus yang dilaporkan, ketika kita mencapai sekitar 100-200 ribu. Saat itu sesungguhnya orang sudah terinfeksi mungkin saja sudah 1 juta," kata Pandu kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Mengutip data covid19.go.id, akumulasi kasus tembus di angka 100.303 orang pada 27 Juli 2020. Artinya, Pandu menduga kasus corona di Indonesia sudah mencapai 1 juta sejak enam bulan lalu.

Dugaan itu ia dapat dengan menganalisa jumlah kasus terkonfirmasi positif, suspek yang belum diperiksa, dan orang yang sudah diperiksa swab polymerase chain reaction (PCR).

Ia juga memperhatikan laju kasus yang terus meningkat dan persentase orang tanpa gejala (OTP) yang mencapai 70-80 persen kasus terkonfirmasi positif.

Dengan kemampuan pemeriksaan yang menurutnya masih minim, ia meyakini jumlah kasus yang tak terdeteksi masih lebih masif dibanding catatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19.

"Kalau kita belajar ilmu wabah, ini hanya puncak gunung es. Yang terlihat hanya yang masuk rumah sakit, yang meninggal. Jadi under representative dari keadaan yang sesungguhnya. Apalagi testing kita sangat terbatas," tambah dia.

Infografis perjalanan sejuta kasus Covid-19 di IndonesiaInfografis perjalanan sejuta kasus Covid-19 di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

Secara terpisah, epidemiolog dari Universitas Airlangga Windhu Purnomo berpendapat pemeriksaan harus dilakukan setidaknya pada 15 persen dari populasi masyarakat untuk menggambarkan kondisi pandemi yang lebih luas.

Menurut dia, Indonesia tidak bisa membanggakan jumlah kasus yang masih terlampau rendah dibanding negara dengan populasi besar seperti India, Amerika Serikat atau Iran, dengan kapasitas pemeriksaan yang masih kalah jauh.

"Kalau kemampuan periksa kita seperti India saja. Mungkin kasus kita 5-6 kali lipat dari yang diumumkan itu," jelasnya.

Windhu memperingatkan ketika pemerintah tak segera meningkatkan kapasitas pemeriksaan, ada potensi ledakan kasus besar menjadi tak terkendali karena tidak terdeteksi oleh sistem. Akibatnya, negara tak mampu mengatasi kondisi itu.

Untuk meningkatkan dan memperbaiki kemampuan pemeriksaan, lanjut dia, dibutuhkan komitmen dalam perkara politik anggaran. Ia menilai pemerintah belum sepenuhnya serius dalam mengalokasi dana penanganan covid-19 di ranah kesehatan masyarakat.

"Berapa persen sih anggaran untuk penanganan pandemi kesehatan masyarakat? Lebih kecil dari penanganan dampak ekonomi. Ya gimana mau ditingkatkan jumlah tracing dan testing kalau seperti itu," tuturnya.

Sementara ia menduga masih ada pemerintah daerah yang tak transparan ketika mengungkap data kasus di wilayahnya, karena berpandangan ledakan kasus bakal dinilai sebagai rapor buruk oleh pemerintah pusat.

Windhu mengatakan cara pandang ini membuat sejumlah daerah sengaja menutupi laporan hasil pemeriksaan yang sebenarnya atau mencicil data kasus terkonfirmasi positif hingga berhari-hari.

"Itu kan secara epidemiologi menghasilkan informasi yang keliru. Kebijakannya pun keliru karena kebijakan yang baik seharusnya mengacu pada data yang benar," tambah dia.

(fey/psp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER