Penggusuran Warga oleh Pertamina Ricuh, 22 Orang Terluka

CNN Indonesia | Kamis, 18/03/2021 04:13 WIB
Sedikitnya 22 orang warga terluka dalam kekerasan saat  penggusuran yang dilakukan Pertamina Training Consulting terhadap warga Pancoran. Sedikitnya 22 orang warga terluka dalam kekerasan saat penggusuran yang dilakukan Pertamina Training Consulting terhadap warga Pancoran. Ilustrasi penggusuran. (cnnindonesia/Yogi Anugrah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perwakilan warga Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan yang tergabung dalam Forum Pancoran Bersatu mengaku mengalami kekerasan dalam upaya penggusuran kembali yang dilakukan PT Pertamina Training and Consulting (PTC) pada Rabu (17/3).

Diketahui, warga di wilayah pemukiman tersebut terlibat sengketa lahan dengan Pertamina. Menurut laporan warga, serangkaian upaya penggusuran paksa dilakukan beberapa kali dengan intimidasi dan kekerasan.

Ujungnya, kekerasan terjadi pada Rabu (17/3) malam. Perwakilan Forum Pancoran Bersatu, Leon Alvinda Putra mengatakan akibat kekerasan itu sejumlah warga terluka. 


"Jumlah data korban kekerasan Pancoran 22 orang. Dengan rincian korban luka ringan 15 orang, korban luka berat 7 orang. Seorang warga dengan luka berat masih dirawat di RS Tebet," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/3) dini hari.

Leon mengatakan warga yang dirawat mengalami luka berupa kepala bocor dan kaki sobek. Melalui sejumlah foto dan video yang diterima CNNIndonesia.com terdapat sejumlah warga yang terlihat tak sadarkan diri maupun luka-luka.

Menurut catatan yang disampaikan Leon, kericuhan bermula ketika organisasi masyarakat dan preman mendatangi lokasi pemukiman warga dan memblokade akses masuk dan pintu belakang Gang Buntu II sekitar pukul 15.00 WIB.

Warga kemudian menuntut preman-preman itu segera pergi karena terus melakukan intimidasi. Pihak ormas dan preman juga diminta segera mengembalikan sekolah PAUD di wilayah pemukiman yang dikuasai secara paksa.

Sekitar pukul 17.00 WIB, warga dan perwakilan forum melakukan negosiasi dengan pihak Pertamina, Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pancoran. Pertamina meminta warga mengirimkan perwakilan untuk melakukan mediasi. Namun warga menolak.

"Karena yang sudah-sudah mediasi hanya berujung intimidasi dan ancaman untuk menandatangani surat penerimaan kerohiman," tutur Leon.

Buntut dari negosiasi itu, Pertamina akhirnya menyerahkan kembali bangunan sekolah PAUD ke warga. Namun aparat dan ormas tidak keluar dari wilayah pemukiman.

Sekitar pukul 18.30 WIB, Leon mengatakan kondisi sudah mulai memanas. Kericuhan kemudian pecah pukul 22.00 WIB. Ia menyebut ormas berupaya memprovokasi warga dan melempari batu ke arah warga sehingga terjadi bentrokan.

Leon mengatakan sempat ada tembakan gas air mata ke posko medis yang digunakan untuk mengungsikan warga yang luka-luka karena bentrokan. Karena kondisi yang tak kondusif, warga berupaya menghubungi ambulans dari rumah sakit terdekat.

Namun tidak ada yang mau menangani.

"Akses bantuan yang ingin masuk ke posko medis sulit dijangkau, karena seluruh pintu masuk ke Pancoran Gang Buntu II dijaga ketat oleh aparat," ucapnya.

CNNIndonesia.com telah berupaya mengkonfirmasi kejadian ini kepada Kanit Reskrim Polsek Pancoran Iptu Supardi dan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Jimmy Christian Samma.

Namun, sampai berita ini diturunkan yang bersangkutan belum memberikan tanggapannya.

Upaya konfirmasi juga sudah disampaikan kepada Legal Manager PT PTC Achmad Suyudi dan yang bersangkutan belum menjawab.

Sebelumnya, Yudi mengatakan Pertamina telah memiliki 25 sertifikat Hak Guna Bangunan yang dapat membuktikan kepemilikan lahan di Gang Buntu II secara hukum.

Ia pun berdalih keterlibatan aparat dilakukan sebagai upaya penertiban dan pengamanan kondisi di lapangan. Sementara PT PTC, lanjut dia, tidak menutup ruang komunikasi bagi warga yang ingin menyampaikan aspirasi.

(fey/agt)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK