ANALISIS

Wajah Perempuan sebagai Martir Teror

CNN Indonesia | Jumat, 02/04/2021 16:32 WIB
Seorang perempuan usia 25 yang menyerang Mabes Polri pada Rabu sore lalu menambah panjang daftar perempuan dan anak muda yang terlibat aksi teror. Tim gabungan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (4/2/2021). (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelaku teror di Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri), ZA (25), menambah daftar panjang perempuan di pusaran terorisme.

Perempuan berusia 25 tahun itu, sebagaimana keterangan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, merupakan pelaku seorang diri (lonewolf) yang terpapar ideologi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sebagai informasi, keterlibatan perempuan dalam tindak pidana terorisme di Indonesia bukan barang baru. Selain teror di Mabes Polri, juga teror bom di depan Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada 28 Maret lalu, keterlibatan perempuan juga ada pada aksi-aksi sebelumnya setidaknya lima tahun terakhir di Indonesia.


Sebelumnya, pada Desember 2016 silam, ada dua perempuan diduga kuat terlibat dalam rencana aksi teror yakni TS yang diduga hendak melakukan pengeboman di Bekasi dan Dian Yulia Novi (DYN) yang berhasil diamankan sebelum melaksanakan aksinya meledakkan diri di dekat kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Keduanya disebut berbaiat kepada ISIS.

Kemudian pada 2018, simpatisan ISIS lain di dalam negeri yakni Puji Kuswati membawa anak perempuannya berusia sembilan dan dua belas tahun meledakkan bom bunuh diri dalam serangkaian serangan tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Tak berselang lama dari peristiwa itu, Tri Ernawati meledakkan diri di Polrestabes Surabaya.

Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, mengungkapkan tak dapat dipungkiri memang telah terjadi pergeseran pola penyerangan yang melibatkan perempuan. Menurut dia, ada tiga tahapan seputar perempuan dengan terorisme.

Pada awalnya, tutur dia, perempuan hanya berperan sebatas pendukung rencana (supporting system). Lalu pada kurun waktu 1990-2000-an berkembang dengan adanya kajian mengenai peran perempuan yang lebih progresif, namun pada realitanya tak dipraktikkan.

Sementara tahapan ketiga, pada sekitar 2015 khususnya di kalangan pendukung ISIS, ada konsensus yang membolehkan perempuan terlibat langsung dalam perencanaan maupun eksekusi.

"Bukan hanya jadi support system, bukan hanya memiliki kelompok kajian akhwat/perempuan, tapi juga boleh maju ke depan dalam konteks boleh melakukan rekrutmen, boleh aktif dalam fundraising [penggalangan dana], boleh aktif dalam propaganda baik sebagai produsen maupun distributor peran khas khilafah. Tapi juga boleh ikut di medan perang: memegang senjata, melakukan amaliah," kata Taufik kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Kamis (1/4).

Ia menuturkan dalam dokumen 'Women of The Islamic State, a Manifesto on women by the Al-Khansaa Brigade' disepakati bahwa melibatkan perempuan dalam peperangan diperbolehkan, namun jika keadaan darurat. Brigade Al-Khansaa diketahi sebagai polisi wanita atau unit penegakan agama dari kelompok ISIS.

Namun, seiring waktu berjalan tepatnya pada 2017, kelompok tersebut berpendapat perempuan diperbolehkan ikut berperang. Hal itu berkaitan dengan posisi ISIS di Mosul dan Raqqa--Irak dan Suriah--yang terhimpit oleh sekutu.

Alasan Peran Perempuan yang Kini Terlihat Progresif

Taufik menuturkan sejumlah latar belakang di balik perempuan kini memiliki peran lebih progresif. Alasan pertama yang menurut dia juga aneh adalah tuntutan ekualitas atau persamaan status hak maupun kewajiban antara perempuan dan laki-laki.

"Ini agak aneh karena kaitannya dengan gerakan feminisme," ujarnya.

"Kemudian muncul fatwa tersebut yang diperbolehkan. Bisa disebut bahwa perempuan juga punya kesempatan untuk mengalami radikalisasi yang sama yang katakanlah dengan laki-laki. Jadi, ini bukan semata-mata gerakan maskulinitas gitu," sambungnya.

Mabes Polri Diserang TerorisTangkapan layar rekaman CCTV yang menangkap aksi ZA, 25, melakukan penyerangan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, 31 Maret 2021. (Arsip Istimewa)

Sementara alasan kedua dan ketiga berkaitan dengan ketersediaan sumber daya dan balas dendam. Penangkapan ataupun pembunuhan terhadap pelaku terorisme-- terlebih suami dari si perempuan tersebut-- menurut Taufik, membuat perempuan bisa dimanfaatkan.

"Kedua resources. Kalau di wilayah, Indonesia, banyak penangkapan, itu bisa menimbulkan katakanlah kekurangan sumber daya sehingga perempuan dilibatkan. Lebih spesifik mungkin ada konteks balas dendam misal suaminya tertangkap atau terbuhun, kan, akhirnya ada kecenderungan perempuan ikut balas dendam," kata dia.

Sementara itu terkait para perempuan yang tergolong kelompok milenial itu terlibat aksi teror, Taufik menduga itu dipengaruhi pula tingkat adrenalin yang terpacu untuk membela agama.

"Saya kira lebih ke dorongan adrenalin rush yang kuat untuk membela agama, di mana system yang injustice menurut mereka perlu 'dilawan dengan konkret'. Anak muda juga kan less consideration ya. Kadang cenderung tidak kritis. Dalam konteks begitu mudah mencerna ajaran dan doktrin," kata dia.

Tantangan Pemerintah dan Aparat

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK