Kemenkes Ungkap Dua Kondisi Tak Bisa Divaksinasi saat Puasa

CNN Indonesia | Selasa, 13/04/2021 03:25 WIB
Kemenkes berharap masyarakat tidak terlalu cemas dan mempercayakan tenaga kesehatan yang melakukan wawancara sebelum divaksinasi. Orang yang terlalu lemah akibat berpuasa tidak bisa divaksinasi virus corona (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan dua kondisi bagi warga berpuasa yang tidak bisa menerima suntikan vaksin virus corona (covid-19).

Hal itu ia sampaikan guna merespons kekhawatiran publik terutama keluarga dari warga lanjut usia (lansia) yang akan divaksinasi siang hari saat tengah menjalankan ibadah puasa.

"Nanti akan dilakukan screening pada sasaran vaksinasi, kalau dilihat memang misalnya terlalu lemas karena puasa, atau tekanan darah terlalu rendah. Maka vaksinasi ini kemungkinan akan ditunda," kata Nadia melalui konferensi pers yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Senin (12/4).


Namun, Nadia meminta warga untuk tidak mendiagnosis gejala tubuh secara mandiri. Nadia tetap meminta warga sasaran vaksinasi mengunjungi fasilitas kesehatan atau sentra vaksinasi terdekat.

Nadia juga mengungkapkan bahwa vaksinasi vaksinasi tidak akan membatalkan puasa. Sebab vaksinasi Covid-19 dilakukan dengan cara injeksi intramuskular.

Intramuskular sendiri merupakan teknik vaksinasi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot. Tindakan ini, kata dia, boleh dilakukan pada siang hari saat berpuasa dengan catatan tidak menimbulkan bahaya.

Selain itu, Nadia mengatakan bahwa sejauh ini belum ada penelitian yang mendukung perihal vaksinasi saat puasa. Namun menurutnya, berdasarkan para ahli, puasa merupakan proses detoksifikasi alias pembersihan zat-zat yang kurang bermanfaat dalam tubuh, sementara vaksinasi dinilai sebagai upaya menambah daya imun tubuh.

"Tentunya dengan efek yang sama antara vaksin yang pada prinsipnya adalah memberikan atau meningkatkan kesehatan kita, ditambah juga dengan puasa yang tujuannya tidak mempengaruhi kesehatan kita, maka tentunya kita tidak perlu khawatir," katanya.

Mobilitas Naik

Di kesempatan yang sama, Nadia membeberkan bahwa mobilitas alias pergerakan masyarakat mulai meningkat kembali di April ini

Peningkatan itu dinilai menyusul kebijakan larangan mudik lebaran 6-17 Mei yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Kondisi itu lantas dikhawatirkan akan membawa peningkatan kasus covid-19 di tanah air, khususnya angka kesakitan dan kematian pada warga lanjut usia (lansia) di kampung halaman pelaku mudik.

"Meskipun pemerintah meniadakan mudik lebaran tahun ini, namun pergerakan masyarakat ke daerah tujuan mudik di awal April mulai meningkat. Dan kita melihat adanya penambahan mobilitas dari masyarakat sejak April ini," ujarnya.

Merespons masyarakat yang 'curi start' untuk mudik, Nadia mengaku saat ini pihaknya tengah menggenjot program vaksinasi virus corona (covid-19) untuk lansia. Upaya itu dinilai mampu meminimalisir angka penularan bagi para lansia yang rentan terpapar virus corona.

Nadia memastikan sebanyak 60 persen ketersediaan vaksin covid-19 di bulan April akan dialokasikan khusus untuk program vaksinasi lansia Indonesia. Upaya itu dilakukan guna menggenjot angka vaksinasi lansia yang berjalan lamban.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes ini lantas menargetkan sebanyak 90 persen dari 21.553.118 orang lansia rampung menerima suntikan dosis pertama pada akhir Juni 2021 mendatang.

"Tentunya untuk mengantisipasi lonjakan kasus, strategi pemerintah saat ini adalah percepatan vaksinasi lansia yang merupakan salah satu kunci kita, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan mudik," jelas Nadia.

(khr/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK