Menelisik Keterlibatan TNI AD di Penelitian Vaksin Nusantara

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 08:47 WIB
TNI memastikan vaksin Nusantara bukan programnya meski dilakukan di RSPAD. Vaksin diputuskan hanya untuk penelitian sel denditrik. Ilustrasi penyuntikan vaksin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Uji klinis vaksin Nusantara yang tengah digarap di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto resmi dihentikan usai kesepahaman dalam Ntota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Kementerian Kesehatan dan TNI AD.

Vaksin yang digagas mantan Menteri Kesehatan Letjen TNI (Purn) Terawan Agus Putranto itu diputuskan lewat MoU tersebut hanya untuk kepentingan penelitian sel denditrik berbasis pelayanan.

Pihak TNI memastikan vaksin Nusantara sejatinya buka bagian dari program TNI meski penelitiannya dilakukan di RSPAD, rumah sakit di bawah institusi pertahanan angkatan darat tersebut.


"Bahwa program vaksin Nusantara bukan program TNI. Terkait dengan inovasi, TNI akan selalu mendukung dengan catatan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan BPOM," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Achmad Riad dalam konferensi pers yang digelar Senin (19/4).

Riad mengatakan, hal tersebut penting demi pengurusan perizinan kerja sama TNI dengan berbagai pihak.

"Penggunaan peneliti, tenaga ahli, dan lain-lain akan diatur metode kerja samanya tanpa mengganggu tugas pokok kedinasan," ujar Riad.

Kepala Pusat Kesehatan TNI Mayjen Tugas Ratmono juga memastikan pihaknya akan terus mengawal penelitian vaksin Nusantara agar sesuai aturan.

"Katakanlah [penelitian] ini dilakukan di RSPAD, tentu sudah ada suatu proses legal standing yang harus kita lakukan dan kita kawal bersama," kata dia.

Usai kesepahaman dengan BPOM dan Kemenkes, maka penelitian vaksin Nusantara hanya fokus pada penelitian sel denditrik yang tak bisa dikomersialkan dan tak perlu izin edar.

Berdasarkan keterangan TNI AD, penelitian sel dendritik ini juga bukan kelanjutan uji klinis adaptif fase I yang pernah dilakukan tim peneliti vaksin Nusantara dan tidak disetujui BPOM.

Penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana sel denditrik yang biasa digunakan untuk penyembuhan kanker digunakan juga dalam penyembuhan covid-19.

"Menggunakan denditrik sel untuk meningkatkan imunitas terhadap virus Sars-Cov-2. Penelitiannya jadi itu. Kembali ke penelitian ilmiah berbasis pelayanan," kata dia. ucap Kepala RSPAD Gatot Soebroto Letnan Jenderal TNI Albertus Budi Sulistya.

Penggunaan vaksin Nusantara diketahui sempat kembali berpolemik usai sejumlah tokoh hingga anggota DPR melakukan pengambilan sampel darah yang merupakan rangkaian vaksin Nusantara beberapa waktu lalu.

Dari mulai Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, pasangan selebritas Anang-Ashanty, dan sederet nama anggota DPR.

BPOM sebelumnya dengan tegas telah menyatakan belum mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II untuk vaksin Nusantara karena belum memenuhi syarat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Selain itu, BPOM juga menemukan bahwa komponen yang digunakan dalam penelitian vaksin Nusantara tidak sesuai dengan pharmaceutical grade. Kebanyakan komponen yang digunakan juga disebut impor dan antigennya bukan dari virus Corona di Indonesia.

Tak hanya itu, BPOM juga mendapati ketidaksesuaian pelaksanaan uji klinik dengan Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) atau Good Clinical Practice (GCP) dalam uji klinis fase I.

BPOM sempat menyarankan agar penelitian vaksin itu diulang dari tahap praklinis hewan namun ditolaksejumlah anggota DPR.

(tst/pris)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK