Tren Kasus Melandai, Wagub DKI Minta Warga Tak Euforia

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 15:45 WIB
Masyarakat diminta tak terhanyut euforia akibat pelandaian kasus positif Corona dan tetap disiplin protokol kesehatan dan tak mudik. Warga diminta untuk tetap patuh protokol kesehatan meski kasus positif Covid-19 melandai. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalismaa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga didorong tak larut dalam euforia berlebihan menanggapi angka kasus Virus Corona yang melandai dan diminta tetap patuh larangan mudik lebaran 2021. Jika tidak, lonjakan kasus Covid-19 seperti di India dapat terjadi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan warga harus belajar dari negara-negara lain yang mengalami lonjakan kasus dan makin mematikan usai sempat melandai.

"Kita Indonesia, Jakarta mengalami penurunan, tapi tidak boleh lupa, tidak boleh euforia. Tetap disiplin yang tinggi, protokol kesehatan yang baik, yang ketat. Jangan terjadi peningkatan kembali," ungkap dia, di Balai Kota Jakarta, Selasa (20/4).


"Mumpung ini trennya turun. Harus diikuti dengan peningkatan disiplin. Justru bukan pelonggaran daripada warga," lanjutnya.

Riza juga menekankan agar warga untuk tidak melakukan aktivitas mudik Lebaran tahun 2021 yang sudah dilarang oleh pemerintah pusat pada periode 6-17 Mei 2021.

"Sayangi kakek, nenek, orang tua, keluarga kita di kampung. Banyak cara untuk berkomunikasi dengan keluarga di kampung, dengan cara video call, media sosial," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus positif Covid-19 di Jakarta sempat melandai pada Maret. Namun belakangan, jumlah kasus aktif Covid-19 di Jakarta kembali meningkat dalam dua pekan terakhir ini. Terkini, kasus aktif di Jakarta mencapai 6.924 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, angka tersebut meningkat cukup tinggi dibanding dua pekan sebelumnya atau 5 April dengan jumlah 6.075 kasus aktif.

"Ini mulai meningkat lagi. Saya ingatkan warga DKI bahwa 3M termasuk menghindari kerumunan dan menghindari mobilisasi sangat penting. Karena, pengalaman kita tahun lalu dan akhir minggu ini, menunjukkan aktivitas penduduk sudah meningkat dan angka sudah bergerak naik," kata Widyastuti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/4).

Meskipun kasus aktif mengalami kenaikan, Widyastuti memastikan penyebaran virus corona di Ibu Kota masih terkendali. Salah satunya yakni melihat indikator ketersediaan tempat tidur isolasi dan ICU di sejumlah rumah sakit rujukan Jakarta mengalami penurunan.

Berdasarkan data Dinkes, sampai dengan 18 April persentase keterisian tempat tidur isolasi sebesar 38 persen atau 2.691 dari 7.087 tempat tidur yang tersedia. Kemudian kapasitas ICU dari total 1.056 hanya terisi 500 pasien atau sekitar 47 persen.

Senada, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menekankan kepatuhan pada larangan mudik agar Indonesia tak dilanda 'tsunami Covid-19' seperti yang terjadi di India dalam beberapa pekan terakhir ini.

"Yang pasti kita terus menerus mengedukasi masyarakat. Adanya larangan mudik itu kan salah satu upaya kita menjaga supaya mengurangi mobilitas," kata Nadia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/4).

"Tentunya kita menahan diri jangan sampai kemudian terjadi lonjakan kasus di kemudian hari. Kita tahu bahwa peningkatan kasus selalu berhubungan dengan mobilitas yang tinggi," imbuhnya.

Langkah antisipasi lainnya menurutnya adalah dengan terus menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro, khususnya di daerah-daerah tujuan mudik, daerah dengan zona merah atau wilayah yang mengalami peningkatan kasus.

Pemerintah pun resmi memperpanjang PPK Mikro hingga 3 Mei 2021. Penerapan PPKM Mikro akan diperluas ke lima provinsi di Indonesia, sehingga total 25 provinsi di Indonesia yang menjalankan pembatasan ini.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaInsert Artikel - Waspada Virus Corona. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

"PPKM kan masih dilakukan terutama di tingkat RT/RW dan desa, selain 3T juga tetap kita tingkatkan," kata dia.

Percepatan Vaksinasi

Nadia, yang juga menjabat Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes ini, menyatakan pihaknya juga mendorong program vaksinasi nasional didorong untuk dipercepat sebagai upaya mengantisipasi lonjakan kasus covid-19 seperti di India.

Sebab, vaksin merupakan salah satu upaya menekan laju penyebaran virus dan dianggap mampu menurunkan tingkat keparahan saat warga terpapar covid-19. Namun demikian, Nadia juga mewanti-wanti masyarakat yang sudah divaksin tak lantas bisa melepas atribut protokol 3M sebab merasa kebal akan penularan covid-19.

"Kita tahu bahwa vaksin kan memberikan perlindungan kepada individu untuk dia tidak menjadi sakit. Kalau pun sakit, tidak parah atau berakhir kematian. Itu perlindungan yang diberikan," pungkasnya.

Lonjakan kasus covid-19 di India menjadi pembicaraan global. Negara berpenduduk 1,3 miliar itu mencapai rekor tertinggi kasus harian 261.500 orang pada Minggu (18/4).

Kondisi itu menyebabkan rumah sakit tak mampu menampung, banyak pasien tak mendapat alat kesehatan penunjang, serta petugas krematorium dan pemakaman ikut kewalahan.

(dmi/khr/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK