PBNU Klarifikasi Pidato Said Aqil soal Pasukan China

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 15:20 WIB
Wasekjen PBNU mengatakan pasukan China yang dimaksud Said turut membantu lahirnya Indonesia itu adalah peristiwa sejarah sebelum era Majapahit. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beredar cuplikan rekaman video yang memperlihatkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj sedang berpidato yang menyebutkan Indonesia takkan ada tanpa kehadiran pasukan China.

Dalam cuplikan rekaman video yang viral di media sosial tersebut, Said Aqil terlihat merunut sejumlah peristiwa hingga munculnya Indonesia yang merdeka.

Awalnya, ia mengatakan bahwa tanpa lahirnya Sumpah Palapa yang diprakasai Gadjah Mada, maka tak akan ada Sumpah Pemuda.


"Tanpa sumpah pemuda, tak ada semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Tanpa sumpah Palapa, tak ada Sumpah Pemuda," kata Said.

"Tanpa Majapahit, tidak akan ada sumpah Palapa. Tanpa pasukan China, takkan ada Majapahit. Artinya? tanpa pasukan China, tidak ada Indonesia," tambahnya.

Sebagai informasi, Sumpah Palapa diucapkan Gajah Mada yang bertekad menyatukan nusantara di bawah Majapahit kala menjadi panglima kerajaan tersebut.

Pernyataan Said itu kemudian menjadi polemik di jagat digital, sehingga PBNU pun meluruskan pernyataan tersebut.

Wakil Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi menjelaskan konteks pidato Said Aqil Siraj hanya sekadar melihat dalam konteks sejarah Indonesia.

"Itu yang di-highlight oleh Kiai Said Aqil bahwa sebenarnya tentara China berperan secara langsung atau tak langsung atas berdirinya dan kejayaan kerajaan Majapahit. Gitu aja. Kerajaan Majapahit itu kan memang jadi cikal bakal tak langsung dari Indonesia ya, " kata Masduki kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/5).

Masduki lantas menjelaskan konteks pidato Said Aqil yakni tentang sejarah penyerangan Kubilai Khan dan bala tentaranya ke Jawa.

"Konteksnya [pidato Said] itu Kubilai Khan dan tentara China. Kan mau menyerang Singasari... Tentara Kubilai Khan datang ke kerajaan di Jatim, Singasari, minta kerajaan itu tunduk pada China," kata Masduki.

Namun, Singasari yang kala itu dipimpin Raja Kertanegara menolak utusan Kubilai Khan. Alhasil, Kubilai pun marah dan mengirimkan pasukan besarnya ke Singasari.

"Lalu kemudian ya marahlah pasti kerajaan di China sana. Kemudian datang lah membalaslah perlakuan enggak baik dari kerajaan itu. Nah ketika datang itu Raden Wijaya sebagai pendiri dari Majapahit itu memakai taktiknya bagaimana menjatuhkan kerajaan Singasari dengan memanfaatkan tentara China yang datang. Akhirnya tentara China habisi Singasari. Kemudian berdirilah kerajaan Majapahit," tutur Masduki.

Oleh karena itulah, sambungnya, Said pun menilai tanpa peran tentara Kubilai Khan, maka Majapahit tak akan berdiri.

[Gambas:Instagram]

Sebagai informasi, Kubilai Khan (1215-1294) adalah cucu dari Genghis Khan yang memimpin kerajaan Mongol. Merujuk pada situs ensiklopedia umum Britannica, Kubilai Khan berhasil meneruskan pekerjaan kakeknya, Genghis sejak tahun 1211 untuk menaklukkan China seutuhnya pada 1279.

Adapun dalam sejarah Indonesia, ketika tentara yang diutus Kubilai Khan untuk menaklukkan Singasari itu tiba, kekuasaan kerajaan tersebut telah berpindah ke Daha (Kediri) setelah Kertanegara ditaklukkan Jayakatwang. Kemudian menantu Kertanegara, Raden Wijaya, bekerja sama dengan tentara Kubilai untuk menghancurkan Jayakatwang.

Setelahnya, Raden Wijaya kemudian memanfaatkan kecerdikannya untuk memukul pasukan Kubilai Khan dari Tanah Jawa. Raden Wijaya lalu mendirikan Majapahit yang kemudian dikenal sebagai salah satu kerajaan besar di nusantara.

"Artinya tanpa ada peranan tentara Kubilai Khan ke Singasari itu Majapahit enggak berdiri. Karena waktu itu Raden Wijaya masih jadi bagian, dia tinggal di Mojokerto, itu masih jadi bagian dari kekuasaan kerajaan Singasari," kata Masduki.

Menurut Masduki, tak sekali saja Said berpidato soal Indonesia tak akan ada tanpa ada pasukan China seperti yang ada dalam video tersebut. Ia mengatakan Said sering mengeluarkan pidato tersebut ketika berbicara mengenai peranan China dan Nusantara.

"Intinya yang dimaksud Kiai Said itu tentang pentingnya kita majemuk ini berintegrasi. Konteksnya tak saling bergesekan antara suku dan satu sama lain," kata dia.

(rzr/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK