Kemenag Tetapkan 88 Lokasi Pemantauan Hilal Lebaran 2021

CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 06:49 WIB
Sebanyak 88 titik lokasi pemantauan hilal penentuan Lebaran 2021 telah ditetapkan Kementerian Agama. Titik-titik pemantauan tersebar di sejumlah provinsi. Petugas dari Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Selatan mengamati posisi hilal menggunakan teropong saat Rukyatul Hilal di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (12/4/2021). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Kementerian Agama (Kemenag), Syariah Agus Salim menyatakan pihaknya akan menurunkan sejumlah pemantau hilal (Rukyatul hilal) penentuan Idulfitri 1 Syawal 1442 Hijriah di 88 lokasi yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Rukyatul hilal penentuan 1 Syawal 1442 akan dilakukan Kemenag pada Selasa (11/5) sore ini.

"Kemenag menjadwalkan akan melakukan rukyatul hilal pada 88 titik di seluruh Indonesia," kata Agus dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.


Agus memaparkan titik pemantauan hilal di DKI Jakarta akan dilaksanakan di Gedung Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Masjid Al-Musyariin Basmol Jakarta Barat, Pulau Karya Kepulauan Seribu dan Masjid KH Hasyim Asy'ari Jakarta Barat.

Agus menjelaskan nantinya sidang isbat dilakukan dengan beberapa sesi. Sesi pertama, kata dia, akan dimulai pukul 16.45 WIB. Sesi ini berupa pemaparan posisi hilal Awal Syawal 1442H oleh anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag.

Setelah Magrib, sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama akan digelar secara tertutup. Sidang itu diawali dengan mendengarkan laporan data hisab dan hasil rukyatul hilal.

"Hasil sidang isbat akan diumumkan Menteri Agama secara telekonferensi serta disiarkan langsung oleh TVRI sebagai TV Pool dan live streaming medsos Kemenag," kata dia.

Sementara itu, Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan sidang isbat dilakukan mengikuti protokol kesehatan. Sehingga tidak semua perwakilan hadir secara fisik di kantor Kementerian Agama.

Kemenag sendiri akan menghadirkan Menag, Wamenag, Majelis Ulama Indonesia, Komisi VIII DPR, serta sejumlah duta besar negara sahabat dan perwakilan ormas. 

Panitia juga menyiapkan aplikasi pertemuan dalam jaringan (zoom meeting), baik untuk peserta sidang maupun media. Sebab, peliputan juga akan dilakukan secara terbatas.

Tak hanya Kemenag, beberapa lembaga lain juga ikut serta menerjunkan tim untuk memantau hilal 1 Syawal 1442 H. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerjunkan tim pemantau hilal di 29 titik yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Sementara itu, Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur akan melaksanakan rukyatul hilal di 27 titik di Jatim.

Ketua PW Lembaga Falakiyah NU Jatim Shofiyullah atau Gus Shofi, Senin (10/5), menyebut dari sudut pandang Ilmu Falak, hilal sangat mungkin tidak bisa dilihat saat dipantau hari ini. Itu karena, ijtimak baru diperkirakan terjadi pada Rabu (12/5), sekira pukul 02.00 WIB dini hari.

Ijtimak atau disebut pula konjungsi geosentris, adalah peristiwa di mana bumi dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari Bumi. Ijtimak merupakan pedoman utama penetapan awal bulan dalam Kalender Hijriah.

"Syarat lahirnya hilal kalau sudah terjadi ijtimak. Jadi, kalau ijtimaknya belum terjadi enggak mungkin lahir hilal," ucapnya.

Ia memprediksi saat pemantauan posisi hilal akan berada minus empat derajat di bawah ufuk. Sementara syarat terlihatnya hilal di Indonesia minimal dua derajat di atas ufuk.

"Minus itu maksudnya berarti menunjukkan bulan itu saat Maghrib, yang itu saat yang paling bagus untuk melihat hilal, hilal itu sudah terbenam lebih dulu. Jadi kalau sudah terbenam, kami mau melihat apa. Kan, tidak mungkin," ujar dia.

(rzr/frd/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK