LaporCovid-19: 3.443 Nakes Telat Dapat Insentif Januari-Maret

CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 21:02 WIB
LaporCovid-19 kini menerima laporan sebanyak 41 tenaga kesehatan di berbagai daerah belum menerima insentif per 6 Mei 2021. LaporCovid-19 mencatat 3.443 tenaga kesehatan telat mendapat insentif Januari-Maret 2021. Ilustrasi (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga LaporCovid-19 mengatakan 3.443 tenaga kesehatan telat menerima insentif Januari-Maret 2021. Jumlah tersebut didapat dari laporan yang diterima selama dua periode mulai 8 Januari-5 Februari, dan 5 Februari-18 Maret 2021.

"Hasilnya terakumulasi sedikitnya terdapat 3.443 tenaga kesehatan belum menerima insentif mereka," kata relawan LaporCovid-19, Firdaus Ferdiansyah dalam jumpa pers daring, Selasa (11/5).

LaporCovid-19 kemudian melalukan audiensi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan DPR.


Dalam pertemuan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membuka blokir dana insentif dan santunan kematian nakes pada 13 April lalu. Pembayaran intensif ribuan nakes itu pun bisa dilakukan.

Namun, kata Firdaus, hasil pemantauan terbaru per 6 Mei, sebanyak 41 nakes masih belum menerima insentif.

Kondisi itu belum termasuk 30 nakes lain yang menerima insentif namun mengaku masih mendapati sejumlah masalah. Masalah-masalah itu mulai dari penyaluran terlambat hingga jumlah insentif yang tidak sesuai.

LaporCovid-19, juga mencatat dari 41 nakes yang belum menerima insentif, 16 di antaranya dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

"16 di antaranya terpapar (Covid-19), di mana 14 di antaranya mereka melayani merawat pasien, dan 2 lain tidak langsung," kata Firdaus.

Firdaus lantas mencontohkan nakes Di Kota Batu, Jawa Timur mengalami pemotongan insentif sejak 8 Mei 2020. Ia hanya menerima insentif sebanyak Rp3 juta dari Rp7,5 juta yang seharusnya. Kemudian sejak November-Desember 2020, insentif tersebut justru tak diberikan.

"Itu terjadi sejak awal, sejak mereka bertugas dan mereka mendapatkan insentif itu sudah dipotong, itu sudah berlanjut," kata Firdaus.

Masih di Jawa Timur, sejumlah nakes di Nganjuk melaporkan tidak mendapat insentif mulai Maret-Juni 2020. Insentif baru diberikan pada Juli-Agustus sebanyak Rp15 juta. Nahasnya, sejak September 2020-April 2021 nakes kembali melaporkan tidak mendapat insentif.

LaporCovid-19 mencatat, DKI Jakarta menjadi wilayah yang paling banyak melaporkan nakes tidak mendapat insentif sebanyak 18 laporan, disusul Bali sebanyak 10 laporan, Banten 7 laporan, Sumatera Selatan 3 laporan, NTT 2 laporan, dan Jawa Barat 1 laporan.

1.082 Nakes Sempat Positif Covid-19

Di sisi lain, LaporCovid-19 menyatakan sebanyak 1.082 dari 3.443 tenaga kesehatan yang tertunda mendapat insentif selama Januari-Maret 2021 sempat dinyatakan positif Covid-19.

"Di periode satu ada 854 tenaga kesehatan yang terinfeksi. Sedangkan pada periode kedua, ada 228 nakes yang terinfeksi Covid-19," Firdaus.

Ferdi mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, mereka bukan saja tertunda mendapat insentif, namun harus menerima kenyataan dengan dinyatakan positif Covid-19.

Ferdi mengatakan sebagian besar yang dinyatakan positif Covid-19 adalah tenaga kesehatan yang menangani langsung para pasien Covid-19.

Pada periode pertama antara 8 Januari-5 Februari jumlahnya mencapai 624 tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung menangani pasien Covid-19.

Sedangkan di periode kedua, sebanyak 179 dari 228 yang dinyatakan positif bersentuhan langsung menangani pasien Covid-19.

"Ini adalah gambaran, apakah mereka melayani secara langsung atau tidak. Jadi lebih banyak yang menangani secara langsung, melayani atau merawat pasien itu tidak menerima insentif," ujarnya.

Jumlah tersebut didominasi dari laporan nakes di wilayah DKI Jakarta, disusul Bali, Banten, Sumatera Selatan, NTT, dan Jawa Barat.

(thr/fra)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK