Pengamat Sebut Ambisi Nadiem soal Startup di Kampus Sia-sia

CNN Indonesia | Rabu, 26/05/2021 05:15 WIB
Pengamat menilai membangun startup di pendidikan tinggi sulit, karena tidak diawali dari pendidikan dasar, maka dinilai salah sasaran. Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim. (Antara Foto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat Pendidikan dari Vox Populi Institut Indonesia, Indra Charismiadji menilai obsesi Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim membangun startup di pendidikan tinggi tak akan ada hasilnya, cenderung pemborosan.

Menurut pandangannya, serangkaian kebijakan Nadiem menunjukkan mantan bos Go-jek itu tidak paham cara membangun sumber daya manusia lewat pendidikan.

"Akhirnya akan menyia-nyiakan uang rakyat. Dan itu siapa yang mau mempertanggungjawabkan? Karena pasti nggak ada hasilnya. Cuma nyebar duit itu," kata Indra ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/5).


Sejauh ini sudah ada dua kebijakan Nadiem yang mendorong pembuatan startup di kalangan pendidikan tinggi. Beberapa waktu lalu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek mengumumkan pembentukan mata kuliah startup.

Awalnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Paristiyanti Nurwardhani mengatakan startup bakal jadi mata kuliah wajib di seluruh kampus. Namun pernyataan itu dikoreksi. Ia mengatakan mata kuliah startup digital bersifat opsional dan bakal mulai berjalan tahun 2022.

Kemudian tak lama setelahnya, Nadiem sendiri mengumumkan penggelontoran dana hingga Rp180 miliar untuk perguruan tinggi vokasi yang ingin membentuk startup bersama industri.

Indra menilai kedua kebijakan itu tidak logis jika tujuannya untuk meningkatkan jumlah dan kualitas startup di Indonesia. Ia mengatakan Nadiem salah sasaran dengan menyasar perguruan tinggi untuk memenuhi ambisi itu.

"Orang membangun startup itu butuh keterampilan dasar. Mereka harus punya penalaran yang kritis. Artinya mereka harus liat bukan sesuatu yang sudah ada, tapi yang baru yang harus mereka ciptakan," katanya.

Indra mengatakan, kompetensi itu masih jarang dimiliki mahasiswa karena pembelajaran sejak jenjang pendidikan dasar yang tidak mengasah kompetensi seperti bernalar kritis.

Indra menilai ini menjadi salah satu kendala di lingkup pendidikan Indonesia yang belum dibenahi. Alih-alih mengguyur dana ke pendidikan tinggi untuk membuat startup, ia menyaran Nadiem perbaiki dulu kualitas pendidikan dari akarnya.

"Ibaratnya kita mau petik buah, tapi nggak mau tanam bibitnya. Mungkin nggak? Kan nggak mungkin. Ibarat atlet, mengharapkan inovasi level Susi Susanti, tapi baru kita siapkan pas dia kuliah. Mungkin nggak?," pungkas Indra.

(fey/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK