'Penak Jamanku,' Rindu Soeharto, dan Kekecewaan Reformasi

iam, CNN Indonesia | Selasa, 08/06/2021 17:07 WIB
Jargon 'Piye kabare le? Penak jamanku, to?' dinilai sebagai bentuk kerinduan pada Orba sekaligus kekecewaan rakyat yang tak kunjung sejahtera di era Reformasi. Ilustrasi demo mendorong penuntasan agenda reformasi, seperti penuntasan kasus HAM dan pemberantasan korupsi. (Foto: ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulloh Jakarta Adi Prayitno mengatakan slogan "Piye kabare le, tesih enak jamanku to?" merupakan kontra-narasi yang coba digaungkan loyalis Soeharto.

Mereka mencoba membangun kesan bahwa kondisi saat ini, pasca-Reformasi, tidak lebih baik dari zaman Orde Baru.

"Artinya loyalis Soeharto ini ada sisa-sisa orang yang menikmati indahnya kekuasaan Orde Baru ini tidak sepenuhnya hilang," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (8/6).


Perbandingan ini, terutama, dilakukan pada bidang ekonomi dan stabilitas politik. Dalam masalah ekonomi, mereka akan menggaungkan bahwa pada era Soeharto pernah mencapai swasembada pangan. Sementara, pada kondisi politik tanah air saat itu cenderung stabil.

"Bagi loyalisnya ini ya Soeharto adalah pahlawan dan di zaman Soeharto lebih baik," ujarnya.

Loyalis tersebut, menurut Adi, berasal dari kalangan elite, terutama orang yang memiliki pengaruh dalam partai yang dekat dengan trah Soeharto. Sementara, pada tingkat akar rumput, orang yang menjadi pendengung slogan ini tidak terekam.

Walau respons terhadap slogan ini rendah, lanjutnya, para pendukungnya tetap terus menggaungkan itu.

"Soeharto yang dianggap diktator, dianggap sebagai pemimpin otoriter tapi banyak jasanya, bagi para pengikutnya. Itu logika para pengikutnya," jelas Adi.

Adi sendiri tidak menampik bahwa ada orang-orang yang kecewa dengan proses reformasi sambil membandingkannya dengan zaman pra-reformasi.

"Meski belakangan ada huru hara politik tapi pada prinsipnya reformasi jauh lebih merata," ujar Adi.

Sejumlah kalangan, terutama aktivis antikorupsi, mengkritisi proses Reformasi yang tak usai hingga kini. Misalnya, korupsi masih merajalela. Selain itu, KPK, yang merupakan anak kandung Reformasi, kian dilemahkan.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD menyatakan bahwa kasus korupsi hari ini, atau 23 tahun pasca-Reformasi, terjadi dalam skala yang semakin luas.

"Kenyataannya saja, sekarang, hari ini korupsi itu jauh lebih gila dari zaman Orde Baru. Saya tidak katakan semakin besar atau apa jumlahnya. Tapi meluas," kata Mahfud sebagaimana disiarkan dalam kanal Youtube UGM, Sabtu (5/6).

Adi juga tidak menampik bahwa era reformasi ini memiliki cacat bawaan Orde Baru, yakni korupsi. Ia sepakat dengan pernyataan Mahfud MD yang menyebut bahwa korupsi pada era reformasi lebih massif.

Hal itu, menurutnya, karena distribusi kekuasaan tidak hanya di pusat, melainkan ke daerah-daerah. Sehingga banyak korupsi dilakukan oleh kepala desa, bupati, atau wali kota.

"Memang reformasi ini membawa cacat bawaan seperti apa yang disampaikan Mahfud MD saya kira cukup beralasan," jelas Adi.

(arh)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK