Ledakan Covid di Kota-kota Kecil, Alarm 'Bara dalam Sekam' RI
CNN Indonesia
Rabu, 09 Jun 2021 06:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Seorang pasien berbaring di kursi menunggu masuk ruang IGD RSUD Dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (2/6/2021). (ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lonjakan kasus virus corona (Covid-19) mulai marak ditemukan di sejumlah kabupaten/kota kecil hingga komunitas mikro seperti RT/RW di Indonesia setidaknya dalam dua pekan terakhir.
Analisis pemerintah RI maupun masing-masing daerah mencatat kumpulan penyumbang kasus covid-19 terbanyak berasal dari klaster keluarga.
Salah satunya, awal pekan ini Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengalami perburukan kondisi pandemi covid-19. Kasus covid-19 harian meningkat, mayoritas tenaga kesehatan yang sudah divaksin juga ikut terpapar, hingga menyebabkan keterisian tempat tidur rumah sakit nyaris penuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan itu didapatkan setelah pandemi covid-19 di Indonesia sempat stagnan berada di zona 'aman' sejak pertengahan Februari 2021. Sejak pasien pertama Covid-19 diumumkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020, Indonesia sempat mengalami puncak kasus tertinggi mencapai 14 ribu kasus dalam sehari di akhir Januari 2021.
Kemudian, kasus mulai mengalami pelandaian di bawah 7 ribu kasus-setengah dari puncak-hingga hari ini. Namun, pada laporan data harian 7 Juni kemarin, penambahan kasus nyaris mendekati 7 ribu alias 6.993 kasus dalam sehari. Pemerintah kemudian mengonfirmasi bahwa lonjakan kasus pada sepekan belakangan bisa diklaim sebagai dampak dari Idul Fitri 1442 Hijriah.
Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo menyoroti kondisi Covid-19 Indonesia terkini sebagai hasil akumulasi dari kasus-kasus positif corona yang 'tertimbun' sejak 2020 lalu. Windhu menilai terkuaknya kasus covid-19 di klaster mikro menunjukkan covid-19 RI tak ayalnya menjadi 'bara dalam sekam' soal pandemi global yang terjadi di Indonesia.
"Jadi pandemi di Indonesia saat ini sudah seperti bara dalam sekam, bukan seperti arti peribahasanya ya. Namun 'bara dalam sekam' yang menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja," kata Windhu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/6).
Windhu lantas menekankan bahwa kasus-kasus covid-19 yang belum terkuak akan mulai menyeruak apabila strategi tes, telusur, dan tindak lanjut (3T) pemerintah benar-benar ditingkatkan secara maksimal. Apabila sebaliknya, maka ia yakin pandemi covid-19 di Indonesia semakin panjang dan tak jelas arah pengendaliannya.
Petugas kesehatan melakukan tes cepat antigen kepada penumpang bus yang akan masuk ke Surabaya di akses keluar Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/6/2021). (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Windhu juga mengkritisi klaim pemerintah yang sempat menyebutkan bahwa kenaikan kasus covid-19 pasca lebaran tahun ini tidak lebih besar dari tahun kemarin. Ia mengatakan temuan kasus covid-19 akan selaras dengan hasil pemeriksaan warga.
Bila dihitung dalam sepekan terakhir, jumlah pemeriksaan covid-19 terhadap warga justru malah menurun. Pada periode 1-7 Juni, jumlah warga yang diperiksa sebesar 382.412 orang. Sementara sepekan sebelumnya jumlah yang diperiksa 431.114 orang. Artinya, ada penurunan jumlah pemeriksaan Covid-19 sebanyak 48.702 orang.
"Kita lihat dulu jumlah pemeriksaannya, wong kita masih sedikit. Sehingga kasus yang dilaporkan itu bisa jadi, kemungkinan besar, di bawah permukaan itu sudah banyak sekali," kata dia.
Apalagi ditambah dengan varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang saat ini juga mulai bermunculan di Indonesia, maka Windhu mewanti-wanti bahwa kasus Covid-19 bisa lebih besar lagi terjadi dibanding tahun lalu. Pasalnya, beberapa varian yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)' memiliki kemampuan penularan masif hingga kebal dari vaksin Covid-19 yang sudah diberikan.
Menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja Epidemiolog Unair, Windhu Purnomo
Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman terakhir mengungkapkan sejauh ini sudah ada 59 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong VoC yang merupakan varian yang diwaspadai WHO. Rinciannya, 23 kasus dari B117, 32 kasus dari B1617, dan 4 kasus dari varian B1351.
"Seperti dokter di Bangkalan ada yang meninggal, padahal sudah divaksin. Ini yang saya khawatirkan ada kemunculan varian di lingkup-lingkup mikro. Ini yang juga harus diperiksa sampel Whole Genome Sequencing-nya," ujar Windhu.
Tak hanya di Bangkalan, Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus per 4 Juni lalu mencatat sebanyak 358 tenaga kesehatan terpapar Covid-19, meski mereka sudah menerima suntikan dosis vaksin covid-19 secara lengkap.
Untuk itu, Windhu kembali menekankan, bahwa strategi surveilans pandemi covid-19 di Indonesia tidak mengalami perubahan sejak awal. Strategi 3T dan protokol kesehatan 3M tetap menjadi primadona strategi pengendalian wabah di seluruh dunia.
"Tameng, proteksi kita dari awal tetap sama, 3T dan 3M itu tidak boleh lelah dilakukan," tegas dia.
Oleh karena itu, Windhu juga meminta agar pemerintah membenahi strategi dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berskala Mikro atau micro lockdown yang saat ini mulai berlaku di seluruh Indonesia sejak awal Juni hingga 14 Juni mendatang.
Windhu menilai konsep micro lockdown di PPKM Mikro memang sudah apik, hanya saja ia menyoroti pemetaan zona risiko wilayah masih saja diberlakukan.
Padahal menurutnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah mengatakan ada beberapa pihak forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) yang sengaja menekan jumlah tes harian agar temuan warga Covid-19 di wilayahnya relatif dilaporkan sedikit.
Ia menduga itu dilakoni pemda dengan harapan daerah yang dipimpinnya dapat masuk kategori wilayah dengan risiko penularan rendah atau zona hijau.
"Jadi gunanya apa zonasi, lebih baik semua daerah diberlakukan micro lockdown. Apa yang disampaikan Pak Menkes itu memang betul terjadi. Zonasi jadi seperti buah delima, kuning di luar merah di dalam. Atau semangka, hijau di luar tapi dalamnya merah," kata Windhu.
Krisis protokol kesehatan pascavaksinasi di halaman selanjutnya...
Tak berbeda dari Windhu, Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman pun menilai temuan-temuan terkini soal kasus kenaikan kasus covid-19 yang mulai menjangkiti kota-kota kecil menunjukkan bahwa kasus terpapar virus corona Indonesia yang dilaporkan pemerintah masih kategori puncak gunung es.
Dicky pun memprediksi, apabila pengendalian pandemi covid-19 tak kunjung diperbaiki, maka pada periode Juni-Juli ini merupakan masa potensi puncak tertinggi kasus akan terjadi lagi.
"Klaster yang saat ini mulai muncul itu menunjukkan bahwa ini cerminan puncak gunung es, karena kasus di masyarakat bisa lebih dari itu," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/6).
Dicky lantas menyoroti dua faktor penyebab klaster-klaster di lingkup mikro mulai merebak di Indonesia. Pertama, dari sisi pemerintah, ia menyebut pemerintah sedari awal serba telat dalam mengencangkan upaya 3T (telusur, tes, tindak lanjut).
Ia menganalogikan strategi 3T dengan orang yang sedang memancing. Apabila sedari awal pemerintah menggunakan alat jaring penangkap yang benar, maka pemerintah akan mendapat banyak hasil tangkapan ikan.
Menurutnya dengan kondisi tangkapan ikan atau warga terpapar Covid-19 yang cukup banyak, maka pemerintah tinggal melakukan penguncian terhadap mereka atau melakukan karantina dan perawatan. Langkah itu, sambungnya, diharapkan bisa mengunci agar tidak terjadi penyebaran penularan yang meluas.
Lebih lanjut, Dicky mengaku sangsi dengan dat ayang dikumpulkan pemerintah dari mulai awal pandemi hingga terkini bahwa jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang sebenarnya adalah 1,8 juta di nusantara ini. Ia memprediksi kasus covid-19 Indonesia sejatinya lebih daripada itu, namun banyak didominasi kasus positif corona dengan asimptomatik alias Orang Tanpa Gejala (OTG).
"Kalau saya setidaknya prediksi di antara 5-10 persen, jadi 5 persen akhir tahun lalu, kalau sekarang mengarah 10. Jadi sekitar 20 jutaan, tapi itu didominasi OTG," kata dia.
Suasana tempat isolasi pasien OTG virus Covid-19 di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Jumat, 8 Januari 2021. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Kemudian, kedua, penyebab klaster Covid-19 meningkat juga disebabkan kontribusi warga.
Ia menilai saat pandemi Covid-19 sudah berjalan kurang lebih 14 bulan di Indonesia, psikologis warga mulai berubah. Dengan kata lain, sambungnya, kesadaran warga terhadap protokol kesehatan covid-19 malah merosot.
Dalam paparan data Satgas Covid-19 per 30 Mei misalnya, dapat dilihat masih ada 53 dari 352 kabupaten/kota yang tingkat kepatuhan memakai masker di bawah kurang dari 60 persen. Sementara rata-rata secara nasional dari 10.402.550 warga yang dipantau dalam sepekan, masih ada 11,55 persen warga yang tidak memakai masker.
Sementara untuk menjaga jarak, masih ada 55 dari 352 kabupaten/kota yang tingkat kepatuhan menjaga jarak di bawah kurang dari 60 persen. Sedangkan untuk rata-rata secara nasional masih ada 12,4 persen masyarakat yang tidak menjaga jarak.
"Kesadaran 3M warga menurun, padahal 3M itu tidak cukup, tapi harus 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas," ujar Dicky.
Dicky pun menduga bisa saja kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia juga ditengarai beberapa masyarakat yang merasa kebal Covid-19 pascavaksinasi. Padahal menurutnya vaksinasi bukan jurus utama dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Atas dasar itu, dia meminta pemerintah untuk tidak terlalu mengglorifikasi vaksin di Indonesia.
Dia menerangkan masih ada beberapa negara yang vaksinasinya memang rendah seperti Australia dan Selandia Baru, namun strategi 3T-nya tetap dikencangkan. Alhasil, negara-negara tersebut sejauh ini malah bisa dikatakan terbilang berhasil mengendalikan pandemi Covid global di wilayahnya masing-masing sejak beberapa bulan lalu.
Kemudian, capaian vaksinasi covid-19 di Indonesia juga masih cenderung lamban dan jauh dari target awal. Kemenkes mencatat sebanyak 17.812.458 orang telah menerima suntikan dosis vaksin virus corona per Senin (7/6) Pukul 18.00 WIB. Sementara 11.231.321 orang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.
Itu artinya, selama hampir lima bulan vaksinasi Indonesia berjalan, baru sekitar 6 persen dari target 181.554.465 warga sasaran vaksinasi yang sudah menerima suntikan dosis vaksin secara lengkap. Padahal Presiden Joko Widodo menargetkan vaksinasi kepada 60-70 persen penduduk Indonesia itu rampung pada Desember 2021.
"Dari kenaikan kasus di kota-kota kecil ini kita harus belajar. Saya juga selalu ingatkan, bahwa vaksinasi itu memang penting, tapi bukan ujung tombak. Apalagi dengan Indonesia yang capaian vaksinasi masih rendah sejauh ini. Tetap harus maksimal di 3T dan 5M," pungkas Dicky.
Lonjakan kasus virus corona (Covid-19) mulai marak ditemukan di sejumlah kabupaten/kota kecil hingga komunitas mikro seperti RT/RW di Indonesia setidaknya dalam dua pekan terakhir.
Analisis pemerintah RI maupun masing-masing daerah mencatat kumpulan penyumbang kasus covid-19 terbanyak berasal dari klaster keluarga.
Salah satunya, awal pekan ini Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengalami perburukan kondisi pandemi covid-19. Kasus covid-19 harian meningkat, mayoritas tenaga kesehatan yang sudah divaksin juga ikut terpapar, hingga menyebabkan keterisian tempat tidur rumah sakit nyaris penuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan itu didapatkan setelah pandemi covid-19 di Indonesia sempat stagnan berada di zona 'aman' sejak pertengahan Februari 2021. Sejak pasien pertama Covid-19 diumumkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020, Indonesia sempat mengalami puncak kasus tertinggi mencapai 14 ribu kasus dalam sehari di akhir Januari 2021.
Kemudian, kasus mulai mengalami pelandaian di bawah 7 ribu kasus-setengah dari puncak-hingga hari ini. Namun, pada laporan data harian 7 Juni kemarin, penambahan kasus nyaris mendekati 7 ribu alias 6.993 kasus dalam sehari. Pemerintah kemudian mengonfirmasi bahwa lonjakan kasus pada sepekan belakangan bisa diklaim sebagai dampak dari Idul Fitri 1442 Hijriah.
Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo menyoroti kondisi Covid-19 Indonesia terkini sebagai hasil akumulasi dari kasus-kasus positif corona yang 'tertimbun' sejak 2020 lalu. Windhu menilai terkuaknya kasus covid-19 di klaster mikro menunjukkan covid-19 RI tak ayalnya menjadi 'bara dalam sekam' soal pandemi global yang terjadi di Indonesia.
"Jadi pandemi di Indonesia saat ini sudah seperti bara dalam sekam, bukan seperti arti peribahasanya ya. Namun 'bara dalam sekam' yang menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja," kata Windhu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/6).
Windhu lantas menekankan bahwa kasus-kasus covid-19 yang belum terkuak akan mulai menyeruak apabila strategi tes, telusur, dan tindak lanjut (3T) pemerintah benar-benar ditingkatkan secara maksimal. Apabila sebaliknya, maka ia yakin pandemi covid-19 di Indonesia semakin panjang dan tak jelas arah pengendaliannya.
Petugas kesehatan melakukan tes cepat antigen kepada penumpang bus yang akan masuk ke Surabaya di akses keluar Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/6/2021). (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Windhu juga mengkritisi klaim pemerintah yang sempat menyebutkan bahwa kenaikan kasus covid-19 pasca lebaran tahun ini tidak lebih besar dari tahun kemarin. Ia mengatakan temuan kasus covid-19 akan selaras dengan hasil pemeriksaan warga.
Bila dihitung dalam sepekan terakhir, jumlah pemeriksaan covid-19 terhadap warga justru malah menurun. Pada periode 1-7 Juni, jumlah warga yang diperiksa sebesar 382.412 orang. Sementara sepekan sebelumnya jumlah yang diperiksa 431.114 orang. Artinya, ada penurunan jumlah pemeriksaan Covid-19 sebanyak 48.702 orang.
"Kita lihat dulu jumlah pemeriksaannya, wong kita masih sedikit. Sehingga kasus yang dilaporkan itu bisa jadi, kemungkinan besar, di bawah permukaan itu sudah banyak sekali," kata dia.
Apalagi ditambah dengan varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang saat ini juga mulai bermunculan di Indonesia, maka Windhu mewanti-wanti bahwa kasus Covid-19 bisa lebih besar lagi terjadi dibanding tahun lalu. Pasalnya, beberapa varian yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)' memiliki kemampuan penularan masif hingga kebal dari vaksin Covid-19 yang sudah diberikan.
Menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja Epidemiolog Unair, Windhu Purnomo
Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman terakhir mengungkapkan sejauh ini sudah ada 59 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong VoC yang merupakan varian yang diwaspadai WHO. Rinciannya, 23 kasus dari B117, 32 kasus dari B1617, dan 4 kasus dari varian B1351.
"Seperti dokter di Bangkalan ada yang meninggal, padahal sudah divaksin. Ini yang saya khawatirkan ada kemunculan varian di lingkup-lingkup mikro. Ini yang juga harus diperiksa sampel Whole Genome Sequencing-nya," ujar Windhu.
Tak hanya di Bangkalan, Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus per 4 Juni lalu mencatat sebanyak 358 tenaga kesehatan terpapar Covid-19, meski mereka sudah menerima suntikan dosis vaksin covid-19 secara lengkap.
Untuk itu, Windhu kembali menekankan, bahwa strategi surveilans pandemi covid-19 di Indonesia tidak mengalami perubahan sejak awal. Strategi 3T dan protokol kesehatan 3M tetap menjadi primadona strategi pengendalian wabah di seluruh dunia.
"Tameng, proteksi kita dari awal tetap sama, 3T dan 3M itu tidak boleh lelah dilakukan," tegas dia.
Oleh karena itu, Windhu juga meminta agar pemerintah membenahi strategi dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berskala Mikro atau micro lockdown yang saat ini mulai berlaku di seluruh Indonesia sejak awal Juni hingga 14 Juni mendatang.
Windhu menilai konsep micro lockdown di PPKM Mikro memang sudah apik, hanya saja ia menyoroti pemetaan zona risiko wilayah masih saja diberlakukan.
Padahal menurutnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah mengatakan ada beberapa pihak forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) yang sengaja menekan jumlah tes harian agar temuan warga Covid-19 di wilayahnya relatif dilaporkan sedikit.
Ia menduga itu dilakoni pemda dengan harapan daerah yang dipimpinnya dapat masuk kategori wilayah dengan risiko penularan rendah atau zona hijau.
"Jadi gunanya apa zonasi, lebih baik semua daerah diberlakukan micro lockdown. Apa yang disampaikan Pak Menkes itu memang betul terjadi. Zonasi jadi seperti buah delima, kuning di luar merah di dalam. Atau semangka, hijau di luar tapi dalamnya merah," kata Windhu.
Krisis protokol kesehatan pascavaksinasi di halaman selanjutnya...
3M Tak Cukup, Apalagi Hanya Vaksin
Warga mendapatkan penyuntikan dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tak berbeda dari Windhu, Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman pun menilai temuan-temuan terkini soal kasus kenaikan kasus covid-19 yang mulai menjangkiti kota-kota kecil menunjukkan bahwa kasus terpapar virus corona Indonesia yang dilaporkan pemerintah masih kategori puncak gunung es.
Dicky pun memprediksi, apabila pengendalian pandemi covid-19 tak kunjung diperbaiki, maka pada periode Juni-Juli ini merupakan masa potensi puncak tertinggi kasus akan terjadi lagi.
"Klaster yang saat ini mulai muncul itu menunjukkan bahwa ini cerminan puncak gunung es, karena kasus di masyarakat bisa lebih dari itu," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/6).
Dicky lantas menyoroti dua faktor penyebab klaster-klaster di lingkup mikro mulai merebak di Indonesia. Pertama, dari sisi pemerintah, ia menyebut pemerintah sedari awal serba telat dalam mengencangkan upaya 3T (telusur, tes, tindak lanjut).
Ia menganalogikan strategi 3T dengan orang yang sedang memancing. Apabila sedari awal pemerintah menggunakan alat jaring penangkap yang benar, maka pemerintah akan mendapat banyak hasil tangkapan ikan.
Menurutnya dengan kondisi tangkapan ikan atau warga terpapar Covid-19 yang cukup banyak, maka pemerintah tinggal melakukan penguncian terhadap mereka atau melakukan karantina dan perawatan. Langkah itu, sambungnya, diharapkan bisa mengunci agar tidak terjadi penyebaran penularan yang meluas.
Lebih lanjut, Dicky mengaku sangsi dengan dat ayang dikumpulkan pemerintah dari mulai awal pandemi hingga terkini bahwa jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang sebenarnya adalah 1,8 juta di nusantara ini. Ia memprediksi kasus covid-19 Indonesia sejatinya lebih daripada itu, namun banyak didominasi kasus positif corona dengan asimptomatik alias Orang Tanpa Gejala (OTG).
"Kalau saya setidaknya prediksi di antara 5-10 persen, jadi 5 persen akhir tahun lalu, kalau sekarang mengarah 10. Jadi sekitar 20 jutaan, tapi itu didominasi OTG," kata dia.
Suasana tempat isolasi pasien OTG virus Covid-19 di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Jumat, 8 Januari 2021. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Kemudian, kedua, penyebab klaster Covid-19 meningkat juga disebabkan kontribusi warga.
Ia menilai saat pandemi Covid-19 sudah berjalan kurang lebih 14 bulan di Indonesia, psikologis warga mulai berubah. Dengan kata lain, sambungnya, kesadaran warga terhadap protokol kesehatan covid-19 malah merosot.
Dalam paparan data Satgas Covid-19 per 30 Mei misalnya, dapat dilihat masih ada 53 dari 352 kabupaten/kota yang tingkat kepatuhan memakai masker di bawah kurang dari 60 persen. Sementara rata-rata secara nasional dari 10.402.550 warga yang dipantau dalam sepekan, masih ada 11,55 persen warga yang tidak memakai masker.
Sementara untuk menjaga jarak, masih ada 55 dari 352 kabupaten/kota yang tingkat kepatuhan menjaga jarak di bawah kurang dari 60 persen. Sedangkan untuk rata-rata secara nasional masih ada 12,4 persen masyarakat yang tidak menjaga jarak.
"Kesadaran 3M warga menurun, padahal 3M itu tidak cukup, tapi harus 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas," ujar Dicky.
Dicky pun menduga bisa saja kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia juga ditengarai beberapa masyarakat yang merasa kebal Covid-19 pascavaksinasi. Padahal menurutnya vaksinasi bukan jurus utama dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Atas dasar itu, dia meminta pemerintah untuk tidak terlalu mengglorifikasi vaksin di Indonesia.
Dia menerangkan masih ada beberapa negara yang vaksinasinya memang rendah seperti Australia dan Selandia Baru, namun strategi 3T-nya tetap dikencangkan. Alhasil, negara-negara tersebut sejauh ini malah bisa dikatakan terbilang berhasil mengendalikan pandemi Covid global di wilayahnya masing-masing sejak beberapa bulan lalu.
Kemudian, capaian vaksinasi covid-19 di Indonesia juga masih cenderung lamban dan jauh dari target awal. Kemenkes mencatat sebanyak 17.812.458 orang telah menerima suntikan dosis vaksin virus corona per Senin (7/6) Pukul 18.00 WIB. Sementara 11.231.321 orang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.
Itu artinya, selama hampir lima bulan vaksinasi Indonesia berjalan, baru sekitar 6 persen dari target 181.554.465 warga sasaran vaksinasi yang sudah menerima suntikan dosis vaksin secara lengkap. Padahal Presiden Joko Widodo menargetkan vaksinasi kepada 60-70 persen penduduk Indonesia itu rampung pada Desember 2021.
"Dari kenaikan kasus di kota-kota kecil ini kita harus belajar. Saya juga selalu ingatkan, bahwa vaksinasi itu memang penting, tapi bukan ujung tombak. Apalagi dengan Indonesia yang capaian vaksinasi masih rendah sejauh ini. Tetap harus maksimal di 3T dan 5M," pungkas Dicky.