Tiga Aktivis Jalan Kaki dari Sumut Minta Jokowi Tutup PT TPL

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 20:12 WIB
Para aktivis ingin langsung bertemu Jokowi dan meminta agar PT Toba Pulp Lestari ditutup karena diduga telah menyerobot lahan adat di Toba, Sumatera Utara. Tiga aktivis berjalan kaki dari Sumatera Utara untuk menemui Presiden Jokowi di Jakarta. Mereka ingin meminta Jokowi menindaklanjuti kasus penyerobotan lahan adat di Toba, Sumatera Utara (Lukas - Biro Pers)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tiga aktivis lingkungan melakukan aksi jalan kaki dari Toba, Sumatera Utara menuju Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Mereka meminta Jokowi menutup PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang terlibat konflik lahan dengan masyarakat Natumingka.

Abdon Nababan, dari Aliansi Gerak Tutup TPL mengatakan tiga aktivis itu mulai melakukan aksi jalan kaki sejak hari ini, Senin (14/6) pagi. Mereka diperkirakan akan tiba di Jakarta 40-50 hari mendatang.

"Sejak tadi pagi jam 8, ini untuk menyampaikan aspirasi dari masyarakat korban TPL untuk disampaikan kepada presiden dan minta Presiden untuk menutup TPL," kata Abdon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (14/6).


Ia mengatakan aktivis yang jalan kaki itu didampingi tim pendukung yang membawa logistik. Ada sekitar 8-11 orang yang mendampingi.

Abdon menyebut pihaknya dari Aliansi Gerak Tutup TPL akan berusaha menghubungi Sekretariat Presiden. Abdon ingin para aktivis bisa langsung difasilitasi setibanya di Jakarta.

"Harapannya karena sudah beberapa kali Pak Jokowi juga bicara tentang ini, jadi sebenarnya aksi ini mendukung apa yang pernah dijanjikan presiden untuk mengembalikan hutan yang ada di Toba itu ke masyarakat adat," kata dia.

Sebelum aksi jalan kaki ini, pada akhir Mei lalu, masyarakat dan karyawan PT TPL sempat terlibat bentrok terkait lahan di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Bentrokan itu dipicu rencana pihak PT TPL yang ingin menanam eukaliptus di atas tanah adat masyarakat Natumingka. Akibat bentrokan itu, puluhan masyarakat setempat mengalami luka-luka.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, Roganda Simanjuntak, mengatakan bentrokan antara masyarakat dengan pihak PT TPL, sudah lama berlangsung.

Bahkan sepanjang 2020-2021, kata dia, sekitar 70 warga dilaporkan PT TPL ke polisi. Konflik lahan konsesi TPL pun terjadi di Toba, Simalungun, Taput, Humbahas.

(yoa/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK