Derita Sopir Truk Dipalak Petugas hingga Preman Tanjung Priok

CNN Indonesia
Selasa, 15 Jun 2021 08:12 WIB
Derita Sopir Truk Dipalak Petugas hingga Preman Tanjung Priok
Selain kepada petugas, para sopir kontainer juga terpaksa memberi uang kepada para preman di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok. Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)

Suhendar dan para sopir kontainer lainnya seperti "sudah jatuh ditimpa tangga" jika berada di pelabuhan. Selain diminta sejumlah uang oleh petugas, ia dan rekannya kerap didatangi sekelompok asmoro, sebutan untuk preman yang memalak sopir truk.

Para asmoro mendekat ketika truk-truk kontainer terjebak macet. Menurut Suhendar, kemacetan tersebut juga tak terlepas dari ulah petugas pelabuhan yang melambatkan operasional bongkar muat.

"Kadang-kadang pelabuhan NPCT yang bikin ulah, NPCT itu kadang-kadang lelet operator-operatornya, kebanyakan istirahat. Kan dibikin macet sama dia," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhendar menyebut para asmoro itu kerap meminta uang Rp5.000 kepada para sopir secara paksa. Mereka kadang membawa senjata berupa beceng atau senjata tajam seperti pisau.

Preman-preman ini datang secara berkelompok, jika sopir menolak mereka akan berteriak memanggil preman yang lebih besar.

"Kadang-kadang kalau dia mintanya goceng (Rp5.000), kadang nambah lagi. Jadi 10 (ribu), enggak tahunya masih kurang, jadi nambah lagi," katanya.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh salah seorang sopir truk kontainer peti kemas, Budi (bukan nama sebenarnya). Budi menyebut para asmoro langsung menghampiri truk-truk yang terjebak macet. Mereka pun naik ke atas kemudi sembari meminta sejumlah uang.

"Yang ngeri kalau udah macet gitu asmoro juga pada muncul. Preman-preman kayak gitu yang suka naik mobil, minta-mintain sopir," kata Budi.

Menanggapi ini, Polres Metro Jakarta Utara mengaku telah menindak 291 pelaku pidana premanisme dan jalanan sepanjang Maret-Mei 2021.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Guruh Arif mengatakan tidak semua dari 291 orang tersebut dijerat hukum.

"Yang tidak memenuhi unsur pidana akhirnya kita serahkan pada Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan," kata Guruh saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (14/6).

Guruh menyebut para preman ini kadang beraksi seorang diri. Mereka juga membawa senjata tajam. Namun, ada juga pengamen yang meminta uang kepada sopir secara paksa.

"Kalau kena sajam bisa langsung pidana dia," ujar Guruh.

Guruh mengklaim pihaknya secara rutin menggelar operasi premanisme di Pelabuhan Tanjung Priok. Pihaknya pun meningkatkan intensitas patroli dan pengamanan serta menambah jumlah personel di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menindak preman dan pelaku pungli yang kerap meminta sejumlah uang kepada sopir kontainer di kawasan pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

"Banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar, pungli, di Fortune, di NPCT1, kemudian di Depo Dwipa," kata Jokowi dalam video yang diunggah di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (10/6).

Sopir-sopir itu mengeluhkan biaya bongkar muat sebesar Rp15 ribu saat mengurus dokumen. Selain itu, mereka juga kerap dipalak kelompok preman dengan senjata tajam saat mengantre di pelabuhan.

"Kalau pas macet, itu banyak driver-driver yang dipalak sama preman-preman. Ini tolong bisa diselesaikan," ujar Jokowi.

(fra/iam/fra)


[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Suhendar (25) memarkir truk kontainernya beberapa ratus meter dari pintu pemeriksaan terminal peti kemas PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakart Utara, Senin (14/6) siang.

Turun dari kemudinya yang tinggi, ia berpindah ke kontainer rekannya Fikri (24) yang sudah terparkir lebih dahulu.

Suhendar biasa membawa barang-barang ekspor. Saban hari ia keluar masuk Pelabuhan Tanjung Priok. Suhendar satu dari sekian banyak sopir yang menjadi korban pungutan liar (pungli).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pungli sudah jadi rahasia umum di pelabuhan. Bahkan, kata Suhendar, sopir yang tak mau memberikan sejumlah uang akan dikerjai oleh petugas pelabuhan.

Saat melewati pintu pemeriksaan misalnya, sopir yang tidak membayar akan diminta putar balik oleh petugas.

"Misalkan di luar nih, ngecek ekspor, nomor segel, kita enggak ngasih (uang) dikerjain suruh muter lagi," kata Suhendar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Suhendar mesti membayar Rp2.000 ketika melewati pos pemeriksaan di pintu masuk pelabuhan. Ia juga harus menyerahkan Rp5.000 di tempat bongkar muat peti kemas untuk operator tango. Tak sampai di situ, Suhendar masih harus memberi Rp2.000 saat keluar lokasi.

"Kadang dimintain security," ujarnya.

Suhendar menyebut para petugas pelabuhan tidak hanya meminta para sopir memutar balik jika tak membayar Rp2.000. Mereka kerap menjahili para sopir. Peti kemas akan diangkat dan dijatuhkan ke ekor truk.

"Kadang kan dijailin, kontainer diangkat, kontainer diabrugin lagi ke buntut, kontainer diangkat, diturunin lagi kalo enggak ngasih," katanya.

Tak sampai di situ, Suhendar menyebut petugas pelabuhan lainnya juga akan memperlambat layanan bongkar muat apabila para sopir tidak membayar pungli.

Menurut Suhendar, operator tango tak langsung melayani truk kontainer yang datang. Mereka menunggu truk-truk menumpuk. Akibatnya terjadi antrean panjang hingga ke jalanan dan membuat jalan raya macet.

"Kalau enggak bayar ada risiko itu lelet. Lelet dari operasionalnya. Misal bongkar tadinya cepet kan, jadi lelet," ujarnya.

Kegiatan pungli di pelabuhan ini membuat sopir semacam Suhendar menjadi tekor. Upah yang tak seberapa, tetapi harus mengeluarkan uang tambahan agar barang-barang yang ia bawa cepat dibongkar.

Biasanya, bos Suhendar memberikan uang beberapa ratus ribu untuk biaya solar, Tol, makan, dan lainnya. Sisa uang tersebut baru menjadi haknya.

Saat melakukan pengiriman jarak jauh, ia bisa mengantongi Rp200 ribu. Sementara dalam pengiriman jarak dekat ia hanya menerima Rp60 ribu. Kadang ia juga tidak menerima sepeserpun.

Suhendar pun memberanikan diri menolak memberi pungli. Ia menawar dan beralasan mesti menginap di pabrik selama tiga hari. Namun, para petugas pelabuhan tetap saja tak terima.

"Tetep aja dia kalau enggak dikasih dikerjain kita, disuruh muter lagi," kata Suhendar.

Tarif pungli yang lebih besar mesti Suhendar bayarkan saat ia mengambil barang-barang impor. Petugas pelabuhan, kata Suhendar, mematok harga Rp20-30 ribu. Terlebih jika peti diturunkan dari kapal.

Menurut Suhendar bosnya mengetahui jika ia kerap dipalak di pelabuhan maupun di jalanan. Beberapa kali ia mengadu jika mesti membayar operator tango Rp30 ribu. Namun, bosnya tidak mau mengganti uang tersebut.

"Enggak ngasih sama sekali, enggak diganti. Kalau bosnya pengertian mah kadang diganti, kebanyakan enggak ngerti semua," ujarnya.

Dipalak Preman Kala Jalanan Macet

Selain kepada petugas, para sopir kontainer juga terpaksa memberi uang kepada para preman di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok. Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)

Suhendar dan para sopir kontainer lainnya seperti "sudah jatuh ditimpa tangga" jika berada di pelabuhan. Selain diminta sejumlah uang oleh petugas, ia dan rekannya kerap didatangi sekelompok asmoro, sebutan untuk preman yang memalak sopir truk.

Para asmoro mendekat ketika truk-truk kontainer terjebak macet. Menurut Suhendar, kemacetan tersebut juga tak terlepas dari ulah petugas pelabuhan yang melambatkan operasional bongkar muat.

"Kadang-kadang pelabuhan NPCT yang bikin ulah, NPCT itu kadang-kadang lelet operator-operatornya, kebanyakan istirahat. Kan dibikin macet sama dia," ujarnya.

Suhendar menyebut para asmoro itu kerap meminta uang Rp5.000 kepada para sopir secara paksa. Mereka kadang membawa senjata berupa beceng atau senjata tajam seperti pisau.

Preman-preman ini datang secara berkelompok, jika sopir menolak mereka akan berteriak memanggil preman yang lebih besar.

"Kadang-kadang kalau dia mintanya goceng (Rp5.000), kadang nambah lagi. Jadi 10 (ribu), enggak tahunya masih kurang, jadi nambah lagi," katanya.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh salah seorang sopir truk kontainer peti kemas, Budi (bukan nama sebenarnya). Budi menyebut para asmoro langsung menghampiri truk-truk yang terjebak macet. Mereka pun naik ke atas kemudi sembari meminta sejumlah uang.

"Yang ngeri kalau udah macet gitu asmoro juga pada muncul. Preman-preman kayak gitu yang suka naik mobil, minta-mintain sopir," kata Budi.

Menanggapi ini, Polres Metro Jakarta Utara mengaku telah menindak 291 pelaku pidana premanisme dan jalanan sepanjang Maret-Mei 2021.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Guruh Arif mengatakan tidak semua dari 291 orang tersebut dijerat hukum.

"Yang tidak memenuhi unsur pidana akhirnya kita serahkan pada Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan," kata Guruh saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (14/6).

Guruh menyebut para preman ini kadang beraksi seorang diri. Mereka juga membawa senjata tajam. Namun, ada juga pengamen yang meminta uang kepada sopir secara paksa.

"Kalau kena sajam bisa langsung pidana dia," ujar Guruh.

Guruh mengklaim pihaknya secara rutin menggelar operasi premanisme di Pelabuhan Tanjung Priok. Pihaknya pun meningkatkan intensitas patroli dan pengamanan serta menambah jumlah personel di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menindak preman dan pelaku pungli yang kerap meminta sejumlah uang kepada sopir kontainer di kawasan pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

"Banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar, pungli, di Fortune, di NPCT1, kemudian di Depo Dwipa," kata Jokowi dalam video yang diunggah di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (10/6).

Sopir-sopir itu mengeluhkan biaya bongkar muat sebesar Rp15 ribu saat mengurus dokumen. Selain itu, mereka juga kerap dipalak kelompok preman dengan senjata tajam saat mengantre di pelabuhan.

"Kalau pas macet, itu banyak driver-driver yang dipalak sama preman-preman. Ini tolong bisa diselesaikan," ujar Jokowi.


HALAMAN:
1 2