Rawa Bening dan Para Tukang Gosok Batu Akik Tanpa Pelanggan
CNN Indonesia
Selasa, 22 Jun 2021 13:57 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perajin di Pasar Rawa Bening kini hanya bisa berharap dari pecinta sejati batu akik usai trennya menurun. (Foto: CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sulaeman (62) melamun di kursi sembari menyandarkan punggungnya ke tiang di lapaknya yang gelap. Sebuah lampu bohlam putih menyala di atas meja, menyinari mesin gosok batu akik yang dingin.
Mata tua Sulaeman berpendar menatap lapak-lapak gosok lain yang juga sepi. Kadang ia menatap sepotong batu rafflesia yang ia potong sebelumnya. Tidak seperti batu akik yang berkilau, mata itu terlihat suram. Hari itu Saeman tampak sedih dan gelisah.
"Keadaan begini kadang-kadang kalo dipikirin bisa stres. Jam segini belum dapet duit sepeser pun," kata Sulaeman saat ditemui CNNIndonesia.com di sudut sentra batu akik Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulaeman telah menjadi perajin batu akik sejak 1981, saat para penjual masih menjajakan barangnya di luar area Pasar Rawa Bening dan peminat masih cukup banyak.
Pria asal Sukabumi, Jawa Barat itu merupakan kampung perajin batu akik, telah belajar menggosok batu sejak sekolah dasar (SD).
"Namanya orang kampung orang susah, bisa gosok batu, akhirnya ada yang bawa ke Jakarta," kata Sulaeman.
Dia sempat mencicipi manisnya tren batu akik pada 2014. Saat itu, dalam satu hari ia bisa mengantongi uang Rp500-600 ribu. Masa jaya itu hanya sebentar. Begitu tren batu akik merosot, pendapatannya menurun. Ia hanya bisa mengantongi Rp100-150 ribu per hari.
Keadaan ini semakin buruk saat pagebluk Covid-19. Paling banyak, Sulaeman hanya menggosok lima bongkah batu dengan upah Rp20-25 ribu per buah.
"Ada enggak ada [pelanggan] jam 4 [sore] tutup. Kadang sama sekali enggak ada," keluh dia.
Tukang gosok batu lainnya, Sulaeman, menunjuk kursi meja rekan-rekanya yang kosong tanpa pelanggan. Jika ada mesin gosok berdesing, kata dia, mereka sedang mengerjakan bahan milik sendiri.
Karena tidak ada klien, beberapa rekan Sulaeman memutuskan tutup. Hal ini menjadi pilihan dari pada harus membayar uang sewa lapak dan listrik.
"Sekarang juga semua ngeluh," ucapnya getir.
Jeki (38) salah satu penjual asesoris dari batu alam di Pasar Rawa Bening mengaku pada tahun itu, ia bisa mendapatkan omzet Rp100 juta dalam sehari. Dari jumlah kotor itu ia mengantongi Rp20 juta bersih.
Infografis Tren Tanaman Hias dari Tahun ke Tahun. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
"Pendapatan tuh ya ratusan juta sekali untung. Sehari untung Rp20 juta gampang," kata Jeki sambil merangkai batu-batu biru menjadi gelang di kiosnya.
Saat permintaan pasar begitu tinggi, Jeki mendatangkan cincin titanium yang menjadi wadah batu akik dari China. Selain itu, ia juga merangkai kalung dengan mata batu akik. Barang ini begitu diburu oleh ibu-ibu.
Karena tren batu akik, banyak pedagang batu cincin di pasar Rawa Bening yang kaya mendadak. Tidak sedikit dari mereka lantas membeli mobil atau barang mahal lainnya.
Bahkan, beberapa dari mereka membeli kios Pasar Rawa Bening yang saat itu harganya meroket hingga Rp1,5 miliar. Padahal, ukurannya hanya sekitar 1,5 x 1,5 meter.
"Karena orang kan booming, prediksi orang makin ramai nih ke depan, Rp1,5 miliar murah kali ya waktu itu," kata Jeki.
"Orang kan itu lagi rame, jual tanah, jual rumah, beli cincin, simpen toko, setok sebanyak-banyaknya," lanjutnya.
Baca halaman selanjutnya...
Penjual sekaligus perajin batu mulia di Pasar Rawa Bening, Dimas (26), mengaku dalam sehari paling sedikit ia bisa mengantongi Rp500 ribu di saat tren sedang tinggi.
"Dulu paling banyak seharinya ada Rp5 juta. Itu saya masih pedagang kecil ibaratnya, apalagi pedagang gede," ujarnya, yang mulai berdagang selulus SMA saat fenomena batu akik belum meledak.
Menurut Dimas, saat itu banyak pedagang batu akik yang kaget karena mendapatkan untung yang begitu besar. Permintaan pasar sangat tinggi. Sementara, batu tidak dibanderol dengan harga tertentu seperti halnya emas.
Beberapa dari pedagang batu lantas membeli mobil, tanah, hingga rumah. Terutama yang pedagang yang masih berusia muda. Selain itu, banyak dari mereka juga menyetok batu dan cincin dalam jumlah yang tidak wajar.
"Gila-gilaan. Dulu titanium yang paling gila itu. Ton-tonan, berapa kontainer dulu itu," kata Dimas.
Namun, gemerlap batu akik tidak berumur panjang. Tidak sampai setahun, banyak pedagang batu akik ambruk setelah tren berkurang.
Menurut Jeki, hal ini dipengaruhi oleh barang-barang impor yang membanjiri pasar. Batu akik dan asesorisnya bisa ditemukan di mana-mana. Kata dia, itu membuat orang bosan.
Di sisi lain, ia memahami bahwa barang impor dari China semakin murah.
"Cincin-cincin kayak gitu dulu kan barang impor. Kalau barang impor makin lama bukan makin mahal, pasti makin murah karena makin banjir. Kalau barangnya sedikit itu pasti stabil harganya," tutur Jeki.
Kemerosotan itu membuat tidak sedikit pedagang batu ataupun cincin babak belur. Sebab, mereka telanjur menyetok barang dalam jumlah banyak, bahkan hingga membeli kios.
Akibatnya, mereka terpaksa menjual barang-barang itu dalam harga murah.
Jeki sendiri telah memprediksi bahwa harga tinggi barang-barang dari China yang membanjiri pasaran tidak akan berlangsung lama.
"Itu jual kemana? Orang udah enggak buru lagi. Ada juga yang beli tapi murah kan. Ibaratkan udah rugi, enggak dijual numpuk, dijual rugi. Ya, udah rugi aja dijual," selorohnya.
Sementara, Dimas pada saat itu sudah bermain aman. Ia hanya menyetok sedikit barang lalu menjualnya. Begitu habis dan mendapatkan untung, mereka baru menyetok lagi.
Nahas bagi pedagang batu yang salah memperhitungkan. Misalnya, pedagang batu akik yang ikut-ikutan. Golongan ini merupakan pedagang batu yang beralih profesi dari pekerjaan mereka sebelumnya.
"Pas [tren batu akik] itu turun langsung ke bawah, udah banyak yang tumbang. Ya, sekarang Abang liat aja banyak yang tutup," kata Dimas.
Menurut Dimas, 2014 bukanlah tahun yang manis. Meskipun minat pasar begitu tinggi, ia menilai kebanyakan pembeli hanya ikut-ikutan. Fenomena itu membuat ekosistem perdagangan batu akik tidak stabil.
Saat ini, meskipun pandemi, konsumen yang membeli batu akik adalah orang yang benar-benar memiliki hobi mengoleksi batu mulia. Meskipun pendapatannya menurun hingga hanya Rp13 juta per bulan, Dimas merasa tahun ini lebih baik dari 2014.
"Lebih bagus sekarang dari pada dulu. Dulu kan orang ngikut-ngikut doang," ujarnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sulaeman (62) melamun di kursi sembari menyandarkan punggungnya ke tiang di lapaknya yang gelap. Sebuah lampu bohlam putih menyala di atas meja, menyinari mesin gosok batu akik yang dingin.
Mata tua Sulaeman berpendar menatap lapak-lapak gosok lain yang juga sepi. Kadang ia menatap sepotong batu rafflesia yang ia potong sebelumnya. Tidak seperti batu akik yang berkilau, mata itu terlihat suram. Hari itu Saeman tampak sedih dan gelisah.
"Keadaan begini kadang-kadang kalo dipikirin bisa stres. Jam segini belum dapet duit sepeser pun," kata Sulaeman saat ditemui CNNIndonesia.com di sudut sentra batu akik Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulaeman telah menjadi perajin batu akik sejak 1981, saat para penjual masih menjajakan barangnya di luar area Pasar Rawa Bening dan peminat masih cukup banyak.
Pria asal Sukabumi, Jawa Barat itu merupakan kampung perajin batu akik, telah belajar menggosok batu sejak sekolah dasar (SD).
"Namanya orang kampung orang susah, bisa gosok batu, akhirnya ada yang bawa ke Jakarta," kata Sulaeman.
Dia sempat mencicipi manisnya tren batu akik pada 2014. Saat itu, dalam satu hari ia bisa mengantongi uang Rp500-600 ribu. Masa jaya itu hanya sebentar. Begitu tren batu akik merosot, pendapatannya menurun. Ia hanya bisa mengantongi Rp100-150 ribu per hari.
Keadaan ini semakin buruk saat pagebluk Covid-19. Paling banyak, Sulaeman hanya menggosok lima bongkah batu dengan upah Rp20-25 ribu per buah.
"Ada enggak ada [pelanggan] jam 4 [sore] tutup. Kadang sama sekali enggak ada," keluh dia.
Tukang gosok batu lainnya, Sulaeman, menunjuk kursi meja rekan-rekanya yang kosong tanpa pelanggan. Jika ada mesin gosok berdesing, kata dia, mereka sedang mengerjakan bahan milik sendiri.
Karena tidak ada klien, beberapa rekan Sulaeman memutuskan tutup. Hal ini menjadi pilihan dari pada harus membayar uang sewa lapak dan listrik.
"Sekarang juga semua ngeluh," ucapnya getir.
Jeki (38) salah satu penjual asesoris dari batu alam di Pasar Rawa Bening mengaku pada tahun itu, ia bisa mendapatkan omzet Rp100 juta dalam sehari. Dari jumlah kotor itu ia mengantongi Rp20 juta bersih.
Infografis Tren Tanaman Hias dari Tahun ke Tahun. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
"Pendapatan tuh ya ratusan juta sekali untung. Sehari untung Rp20 juta gampang," kata Jeki sambil merangkai batu-batu biru menjadi gelang di kiosnya.
Saat permintaan pasar begitu tinggi, Jeki mendatangkan cincin titanium yang menjadi wadah batu akik dari China. Selain itu, ia juga merangkai kalung dengan mata batu akik. Barang ini begitu diburu oleh ibu-ibu.
Karena tren batu akik, banyak pedagang batu cincin di pasar Rawa Bening yang kaya mendadak. Tidak sedikit dari mereka lantas membeli mobil atau barang mahal lainnya.
Bahkan, beberapa dari mereka membeli kios Pasar Rawa Bening yang saat itu harganya meroket hingga Rp1,5 miliar. Padahal, ukurannya hanya sekitar 1,5 x 1,5 meter.
"Karena orang kan booming, prediksi orang makin ramai nih ke depan, Rp1,5 miliar murah kali ya waktu itu," kata Jeki.
"Orang kan itu lagi rame, jual tanah, jual rumah, beli cincin, simpen toko, setok sebanyak-banyaknya," lanjutnya.
Baca halaman selanjutnya...
Tren Tinggi Picu Kekagetan dan Salah Strategi
Keramaian pembeli di Pasar Rawa Bening saat tren batu akik masih pada puncaknya, 19 September 2014. (Foto: Safir Makki)
Penjual sekaligus perajin batu mulia di Pasar Rawa Bening, Dimas (26), mengaku dalam sehari paling sedikit ia bisa mengantongi Rp500 ribu di saat tren sedang tinggi.
"Dulu paling banyak seharinya ada Rp5 juta. Itu saya masih pedagang kecil ibaratnya, apalagi pedagang gede," ujarnya, yang mulai berdagang selulus SMA saat fenomena batu akik belum meledak.
Menurut Dimas, saat itu banyak pedagang batu akik yang kaget karena mendapatkan untung yang begitu besar. Permintaan pasar sangat tinggi. Sementara, batu tidak dibanderol dengan harga tertentu seperti halnya emas.
Beberapa dari pedagang batu lantas membeli mobil, tanah, hingga rumah. Terutama yang pedagang yang masih berusia muda. Selain itu, banyak dari mereka juga menyetok batu dan cincin dalam jumlah yang tidak wajar.
"Gila-gilaan. Dulu titanium yang paling gila itu. Ton-tonan, berapa kontainer dulu itu," kata Dimas.
Namun, gemerlap batu akik tidak berumur panjang. Tidak sampai setahun, banyak pedagang batu akik ambruk setelah tren berkurang.
Menurut Jeki, hal ini dipengaruhi oleh barang-barang impor yang membanjiri pasar. Batu akik dan asesorisnya bisa ditemukan di mana-mana. Kata dia, itu membuat orang bosan.
Di sisi lain, ia memahami bahwa barang impor dari China semakin murah.
"Cincin-cincin kayak gitu dulu kan barang impor. Kalau barang impor makin lama bukan makin mahal, pasti makin murah karena makin banjir. Kalau barangnya sedikit itu pasti stabil harganya," tutur Jeki.
Kemerosotan itu membuat tidak sedikit pedagang batu ataupun cincin babak belur. Sebab, mereka telanjur menyetok barang dalam jumlah banyak, bahkan hingga membeli kios.
Akibatnya, mereka terpaksa menjual barang-barang itu dalam harga murah.
Jeki sendiri telah memprediksi bahwa harga tinggi barang-barang dari China yang membanjiri pasaran tidak akan berlangsung lama.
"Itu jual kemana? Orang udah enggak buru lagi. Ada juga yang beli tapi murah kan. Ibaratkan udah rugi, enggak dijual numpuk, dijual rugi. Ya, udah rugi aja dijual," selorohnya.
Sementara, Dimas pada saat itu sudah bermain aman. Ia hanya menyetok sedikit barang lalu menjualnya. Begitu habis dan mendapatkan untung, mereka baru menyetok lagi.
Nahas bagi pedagang batu yang salah memperhitungkan. Misalnya, pedagang batu akik yang ikut-ikutan. Golongan ini merupakan pedagang batu yang beralih profesi dari pekerjaan mereka sebelumnya.
"Pas [tren batu akik] itu turun langsung ke bawah, udah banyak yang tumbang. Ya, sekarang Abang liat aja banyak yang tutup," kata Dimas.
Menurut Dimas, 2014 bukanlah tahun yang manis. Meskipun minat pasar begitu tinggi, ia menilai kebanyakan pembeli hanya ikut-ikutan. Fenomena itu membuat ekosistem perdagangan batu akik tidak stabil.
Saat ini, meskipun pandemi, konsumen yang membeli batu akik adalah orang yang benar-benar memiliki hobi mengoleksi batu mulia. Meskipun pendapatannya menurun hingga hanya Rp13 juta per bulan, Dimas merasa tahun ini lebih baik dari 2014.
"Lebih bagus sekarang dari pada dulu. Dulu kan orang ngikut-ngikut doang," ujarnya.