Sejarah Peristiwa Jogja Kembali, Hengkangnya Belanda dari RI

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 07/07/2021 13:20 WIB
Peristiwa Jogja Kembali menandai mundurnya militer Belanda dari Yogyakarta, yang saat itu masih merupakan ibu kota Indonesia. Berikut ulasan sejarahnya. Peristiwa Jogja Kembali menandai mundurnya militer Belanda dari Yogyakarta, yang saat itu masih merupakan ibu kota Indonesia. (Foto Monumen Yogya Kembali: Crisco 1492 via Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejarah Peristiwa Jogja Kembali merupakan kejadian pengembalian Ibu Kota Yogyakarta serta jajaran pemerintahan dan militer Republik Indonesia usai Agresi Militer Belanda II.

Menurut catatan sejarah yang dihimpun berbagai sumber, Agresi Militer Belanda II ini berdampak ke sejumlah pihak dan menuai kecaman dari PBB serta Amerika Serikat.

Dewan Keamanan PBB dan Amerika Serikat saat itu menuntut pembebasan kabinet Republik Indonesia. Pihak Belanda dan Indonesia pun menyetujuinya dengan sepakat mengadakan Perjanjian Roem Royen pada 14 April 1947 - 7 Mei 1949.


Sebutan Perjanjian Roem Royen ini diambil dari nama dua orang pimpinan delegasi negara yaitu Mohammad Roem dan Herman Van Roijen.

Perjanjian Roem Royen berlangsung di Hotel Indes Jakarta, dengan tujuan menghasilkan kesepakatan atas gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda.

Selain itu, dalam perjanjiannya juga meminta pengembalian kekuasaan Ibu Kota Yogyakarta kepada Indonesia.

Ilustrasi YogyakartaSejarah Peristiwa Jogja Kembali merupakan kejadian mundurnya militer Belanda sekaligus pengembalian kekuasaan Ibu Kota Yogyakarta kepada Indonesia. (Foto: iStock/Graphiqa-Stock)


Kembalinya Ibu Kota Yogyakarta

Keputusan dari hasil Perjanjian Roem Royen ini dinilai sangat lamban, sampai akhirnya menghadirkan Bung Hatta dari pengasingan di Bangka dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX menegaskan dalam perundingan bahwa Yogyakarta adalah bagian dari Republik Indonesia yang siap membantu mempertahankan kemerdekaan.

Hal lain yang memperkuat Yogya bisa kembali ke Indonesia yaitu dari hasil perundingan tiga pihak antara BFO atau Majelis Konsultatif Federal, Indonesia-Belanda yang diawasi PBB.

Ketiganya menyatakan bahwa Belanda harus menarik mundur pasukannya sejak Agresi Militer II, 19 Desember 1948.

Kemudian ketika insiden Serangan Oemoem 1 Maret 1949, dunia internasional meyakini bahwa RI dan TNI masih ada, meskipun pihak Belanda mempropagandakan sebaliknya.

Setelah cukup lama berunding dan sampai pada puncaknya di 29 Juni 1949, kota Yogyakarta mulai bersih dari kawanan tentara Belanda yang berhasil dipulangkan.

Sejarah Peristiwa Jogja Kembali bukan hanya milik warga Yogyakarta melainkan diklaim bagi seluruh rakyat Indonesia.


Pasca-Peristiwa Jogja Kembali

Dikarenakan Yogya telah kembali resmi menjadi bagian wilayah Republik Indonesia, secara berangsur pula saat itu para pemimpin serta tokoh negara pun kembali ke Yogya.

Pemerintahan baru pun mulai ditata dan berjalan pada 1 Juli 1949, lalu disusul oleh kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Usai peristiwa bersejarah Jogja kembali, Kolonel Soegiarto selaku walikotamadya Yogyakarta saat itu menggagas untuk membangun sebuah monumen.

Peletakan batu pertama Monumen Yogya Kembali ini berlangsung pada 29 Juni 1985 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sejarah peristiwa Jogja kembali juga diabadikan dalam Monumen Yogya Kembali yang terletak di depan Hotel Inna Garuda, Malioboro, dengan batu tulis yang berisi pesan sebagai berikut:

"Dengan jaminan tidak ada letusan senjata, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memutuskan di sini lah garis batas penarikan tantara Belanda dari Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, tertanggal 29 Juni 1949."

(avd/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK