Said Aqil: Virus Lebih Ganas, Kita Belum Mampu Bikin Vaksin

CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 15:33 WIB
Ketum PBNU Said Aqil Siraj mengkritik pemerintah yang hingga kini belum bisa membuat vaksin sendiri, sementara virus corona mengganas. Ketum PBNU Said Aqil Siraj mengkritik pemerintah yang hingga kini belum bisa membuat vaksin sendiri, sementara virus corona mengganas. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyinggung bahwa Indonesia masih belum mampu membuat vaksin virus corona (Covid-19) sampai saat ini. Padahal virus tersebut sudah bermutasi menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.

Said berpendapat saat ini dibutuhkan vaksin yang lebih canggih untuk melawan virus corona varian delta. Varian itu, kata dia, sudah bermutasi lebih ganas dari kondisi awal.

"Pandemi ini sudah berubah varian, muncul yang lebih ganas, itu varian delta. Itu butuh vaksin yang lebih canggih lagi, lebih canggih lagi. Kita belum mampu membuat vaksin yang pertama, tapi pandeminya sudah meningkat ke level ketiga," kata Said saat berpidato di acara Haul Emas KH Wahab Chasbullah ke-50 yang disiarkan di kanal YouTube NU Channel.


Lebih lanjut, Said menilai saat ini dunia tengah memasuki era perang baru berbentuk perang biologi. Terlebih, saat ini banyak negara tengah berlomba membuat vaksin akibat pandemi Covid-19.

Said menyebut beberapa negara produsen vaksin corona terbesar di dunia seperti Amerika Serikat, RRC hingga Jerman tengah mengalami pertempuran tersebut. Menurutnya, negara-negara yang mampu memproduksi vaksin akan menjadi pemenang dalam perang biologi ini.

"Negara yang tak mampu, hanya impor saja, itulah negara yang kalah," kata Said.

Berbanding terbalik, Said menilai kondisi Indonesia saat ini hanya sebagai penonton. Pasalnya, Indonesia baru bisa melakukan impor vaksin.

Meski demikian, Said masih belum mengetahui sejauh mana pengaruh perang vaksin tersebut bagi Indonesia. Namun, Ia berharap dampaknya tak sampai berbahaya bagi Indonesia di kemudian hari.

"Tapi yang jelas kita akan didikte oleh negara yang punya vaksin. Itu jelas. Sejauh mana pengaruhnya? kita liat nanti," kata dia.

Pada 20 Juni lalu, Indonesia kembali kedatangan vaksin Covid-19 Sinovac dari China. Vaksin sebanyak 10 juta bulk itu merupakan kedatangan tahap ke-17 yang berjarak kurang dari sepuluh hari dari kedatangan satu juta vaksin Sinopharm pada 11 Juni.

Kedatangan vaksin tahap ke-17 itu menunjukkan bahwa vaksin yang diterima oleh pemerintah Indonesia berjumlah 104.728.400 dosis. Rinciannya yakni, 3 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk jadi, 91,5 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk bulk, 8.288.000 dosis vaksin Astrazeneca dalam bentuk jadi, dan 2 juta dosis vaksin Shinoparm dalam bentuk jadi.

(rzr/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK