Tiga Hari, DKI Makamkan 462 Jenazah dengan Protap Covid

CNN Indonesia | Kamis, 24/06/2021 19:09 WIB
Hingga 23 Juni, angka keterisian tempat tidur di DKI juga hanya tersisa 10 persen dari 9.852 kapasitas di 140 rumah sakit yang disiapkan. Petugas bersiap memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (15/6/21). (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan jenazah yang dimakamkan dengan prosedur tetap (protap) Covid-19 dalam tiga hari terakhir. Selama tiga hari tersebut, total jenazah covid yang dimakamkan sebanyak 462 jenazah.

Secara berturut-turut sejak 22 Juni, sebanyak 150 jenazah dimakamkan dengan protokol Covid-19. Angkanya meningkat pada 23 Juni menjadi 180. Lalu, pada 24 Juni hari ini per pukul 12.00 WIB, angkanya mencapai 132 kasus.

"Lonjakan bukan hanya terjadi pada angka kasus positif saja, tetapi juga pada jumlah pemakaman dengan protap covid-19 di Jakarta," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia dalam keterangannya.


Lonjakan tingkat pemakaman dengan protokol Covid-19 seiring dengan lonjakan kasus positif harian beberapa hari terakhir, terutama per Kamis (24/6) yang kembali menyentuh rekor dengan 7.505 kasus.

Dengan penambahan itu, Dwi mengatakan, tingkat keterisian tempat tidur isolasi maupun ICU di RS rujukan Covid-19 Jakarta juga menipis.

Hingga 23 Juni, lanjut Dwi, angka keterisian tempat tidur di DKI hanya 10 persen, dari 9.852 kapasitas di 140 rumah sakit yang disiapkan untuk merawat pasien Covid-19. Sedangkan, tingkat keterisian ICU mencapai 86 persen atau hanya tersisa 170 ICU.

Dwi menyebut dari total kasus positif tersebut tersebar di dua klaster, yakni perkantoran dan keluarga. Untuk klaster perkantoran mulai 14-20 Juni, ditemukan sebanyak 576 kasus positif dari 105 kantor. Lalu, untuk klaster keluarga dalam rentan waktu yang sama ditemukan 10.967 kasus positif dari 912 keluarga.

"Kami juga menyarankan warga mengurangi mobilitas, taati aturan bekerja dari kantor sebanyak 25% kapasitas dan sisanya bekerja dari rumah. Keluar rumah jika benar-benar penting, tentu kita semua tidak ingin jika kasusnya semakin bertambah ke depannya," kata Dwi.

(thr/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK