Penambahan kasus virus corona (Covid-19) harian di Indonesia tembus 10 ribu kasus lebih dalam sembilan hari berturut-turut, bahkan pada Kamis (24/6) lalu kasus pecah rekor tertinggi dengan penambahan 20.574 kasus dalam sehari.
Tambahan angka kematian covid-19 juga juga meroket pada Jumat (26/6) kemarin dengan penambahan lebih dari 400 kasus yang merupakan jumlah kematian harian tertinggi nomor tiga sejakpandemiIndonesia. Lonjakan akhir-akhir ini disebut-sebut sebagai dampak kumulatif dari libur panjang Idulfitri 1442 Hijriah.
Indonesia sempat mengalami situasi serupa di Januari-Februari 2021 lalu atau disebut sebagai dampak dari libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan beberapa epidemiolog bahkan menyebut puncak pertama covid-19 Indonesia terjadi di 30 Januari dengan penambahan 14.518 kasus per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab dalam kurun waktu 18 pekan setelah itu, kasus mengalami stagnasi di bawah 7 ribu kasus dalam seharinya. Pun kemudian mirip, libur nataru dan libur lebaran ini juga menyebabkan melonjaknya tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di sejumlah Rumah Sakit, sehingga menjadikannya penuh.
CNNIndonesia.com merangkum beberapa data dalam perbandingan kurun waktu enam pekan pasca libur nataru dan pasca libur lebaran, sebagaimana berikut:
Signifikansi Kenaikan Kasus Lebih Lama Libur Lebaran
Penambahan kasus konfirmasi covid-19 harian pada periode Januari-Februari lebih tinggi dibandingkan pada Mei-Juni. Secara kumulatif, penambahan kasus di enam pekan libur panjang nataru sebanyak 448.792 kasus, atau apabila di rata-rata 74.798 kasus dalam sepekan, meski penambahannya variatif.
Pada pekan pertama Januari kasus bertambah 54.525 kasus dalam sepekan. Kemudian pekan kedua 71.877 kasus, pekan ketiga 82.051 kasus, pekan keempat 86.342 kasus, pekan kelima 85.112 kasus, dan pekan keenam 68.885 kasus.
Bila melihat perkembangan data itu, maka pada libur panjang Nataru terlihat kasus mengalami lonjakan dalam empat pekan, kemudian dua pekan setelahnya mulai menunjukkan ada penurunan.
Sementara pada kasus libur panjang pasca lebaran, secara kumulatif Indonesia mencatat penambahan 322.343 kasus dalam enam pekan. Pada pekan pertama pasca libur lebaran atau memasuki pekan kedua di Mei, kasus bertambah 27.246 kasus dalam sepekan.
Kemudian pekan kedua 38.601 kasus, pekan ketiga 39.627 kasus, pekan keempat 48.816 kasus, pekan kelima 64.334 kasus, dan pekan keenam 103.719 kasus. Dari rentetan data itu, dapat dilihat bahwa kasus mengalami kenaikan signifikan dan belum menurun.
Dari kedua data itu, maka dapat ditarik kesimpulan sesuai data, bahwa signifikasi kenaikan kasus covid-19 lebih lama bertahan di libur panjang pasca lebaran, meskipun secara jumlahnya lebih tinggi libur nataru.
Kasus Kematian Lebih Banyak Nataru
Jumlah warga yang meninggal akibat terpapar covid-19 selama periode enam pekan di Januari-Februari lebih tinggi daripada enam pekan di periode Mei-Juni. Dalam kurun waktu itu, jumlah kematian warga di nataru berjumlah 10.243 orang, sementara dalam kurun waktu pasca lebaran jumlah kematian berjumlah 8.233 orang.
Dalam dua periode itu juga terjadi rekor jumlah kematian harian tertinggi selama pandemi. Pada tanggal 28 Januari 2021 rekor kasus kematian tercatat dalam 476 kasus sehari, dan pada 25 Juni 2021 kemarin kasus kematian mencapai 422 kasus yang menjadikannya rekor urutan ketiga tertinggi.
Jumlah warga yang dinyatakan pulih dari infeksi virus corona pada libur lebaran ternyata lebih rendah daripada libur nataru. Dalam perbandingan enam pekan, libur lebaran mencatat secara kumulatif 237.425 orang sembuh, sementara pada libur nataru 382.020 orang pulih selama kurun waktu enam pekan.
Jumlah kasus sembuh yang relatif sedikit menunjukkan bahwa periode rawat inap di rumah sakit maupun isolasi mandiri di rumah lebih lama.
Testing di Lebaran Meningkat Daripada Nataru
Jumlah pemeriksaan warga terhadap virus corona pada libur lebaran lebih tinggi daripada pemeriksaan sewaktu libur nataru dalam kurun waktu perbandingan sama, yakni enam pekan. Pada libur lebaran kumulatif tes dilakukan terhadap 2.425.933 orang, sementara pada nataru dilakukan terhadap 1.1678.835 orang.
Namun perlu diketahui, jumlah pemeriksaan pada periode Januari-Februari hanya menggunakan metode tes polymerase chain reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Sementara sejak 2 Maret 2021, pemerintah mencantumkan rapid test antigen sebagai tambahan tes di laporan data harian.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar pemeriksaan 1:1.000 penduduk per pekan. Dengan asumsi populasi Indonesia mencapai 270 juta jiwa, maka sewajarnya 270 ribu orang diperiksa per pekan atau dalam perbandingan data ini selama enam pekan, maka ideal tes yakni 1.620.000 orang.
Apabila dilihat, dalam hal ini pemeriksaan baik pada libur nataru maupun libur lebaran sudah melampaui standar pemeriksaan covid-19 dari WHO.
Positivity rate merupakan persentase perhitungan dari penambahan kasus positif Covid-19 dibagi jumlah orang yang diperiksa kemudian dikali 100 persen. WHO menetapkan ambang batas minimal angka positivity rate kurang dari 5 persen.
WHO mengkategorikan positivity rate dalam empat tingkatan. Pertama kurang dari dua persen maka disebut low incidents. Kemudian 2-4,99 persen dikatakan fase moderate; 5-19,9 persen disebut high incidents; dan lebih dari 20 persen dikatakan selanjutnya sebagai very high incidents.
Dalam perbandingan libur nataru dan lebaran, dapat dilihat bahwa rata-rata positivity rate dalam enam pekan di libur nataru lebih tinggi daripada libur lebaran. Pada nataru positivity rate mencapai 27,04 persen, sementara positivity rate libur lebaran selama enam pekan sebesar 13,1 persen.
Namun belakangan, Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo menilai bahwa positivity rate sejatinya hanya dihitung dengan parameter pembagi pemeriksaan menggunakan PCR dan Tes Cepat Molekuler (TCM) saja, sementara rapid test antigen tidak bisa dijadikan tolok ukur positivity rate.
Itu artinya, masih sulit membandingkan data positivity rate dari sebelum periode pemberlakuan penambahan antigen di laporan harian di Maret 2021. Sebab, pemerintah saat ini menghitung positivity rate tetap berdasarkan jumlah orang yang diperiksa per harinya, baik menggunakan PCR, TCM, dan antigen.
Penambahan kasus virus corona (Covid-19) harian di Indonesia tembus 10 ribu kasus lebih dalam sembilan hari berturut-turut, bahkan pada Kamis (24/6) lalu kasus pecah rekor tertinggi dengan penambahan 20.574 kasus dalam sehari.
Tambahan angka kematian covid-19 juga juga meroket pada Jumat (26/6) kemarin dengan penambahan lebih dari 400 kasus yang merupakan jumlah kematian harian tertinggi nomor tiga sejakpandemiIndonesia. Lonjakan akhir-akhir ini disebut-sebut sebagai dampak kumulatif dari libur panjang Idulfitri 1442 Hijriah.
Indonesia sempat mengalami situasi serupa di Januari-Februari 2021 lalu atau disebut sebagai dampak dari libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan beberapa epidemiolog bahkan menyebut puncak pertama covid-19 Indonesia terjadi di 30 Januari dengan penambahan 14.518 kasus per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab dalam kurun waktu 18 pekan setelah itu, kasus mengalami stagnasi di bawah 7 ribu kasus dalam seharinya. Pun kemudian mirip, libur nataru dan libur lebaran ini juga menyebabkan melonjaknya tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di sejumlah Rumah Sakit, sehingga menjadikannya penuh.
CNNIndonesia.com merangkum beberapa data dalam perbandingan kurun waktu enam pekan pasca libur nataru dan pasca libur lebaran, sebagaimana berikut:
Signifikansi Kenaikan Kasus Lebih Lama Libur Lebaran
Penambahan kasus konfirmasi covid-19 harian pada periode Januari-Februari lebih tinggi dibandingkan pada Mei-Juni. Secara kumulatif, penambahan kasus di enam pekan libur panjang nataru sebanyak 448.792 kasus, atau apabila di rata-rata 74.798 kasus dalam sepekan, meski penambahannya variatif.
Pada pekan pertama Januari kasus bertambah 54.525 kasus dalam sepekan. Kemudian pekan kedua 71.877 kasus, pekan ketiga 82.051 kasus, pekan keempat 86.342 kasus, pekan kelima 85.112 kasus, dan pekan keenam 68.885 kasus.
Bila melihat perkembangan data itu, maka pada libur panjang Nataru terlihat kasus mengalami lonjakan dalam empat pekan, kemudian dua pekan setelahnya mulai menunjukkan ada penurunan.
Sementara pada kasus libur panjang pasca lebaran, secara kumulatif Indonesia mencatat penambahan 322.343 kasus dalam enam pekan. Pada pekan pertama pasca libur lebaran atau memasuki pekan kedua di Mei, kasus bertambah 27.246 kasus dalam sepekan.
Kemudian pekan kedua 38.601 kasus, pekan ketiga 39.627 kasus, pekan keempat 48.816 kasus, pekan kelima 64.334 kasus, dan pekan keenam 103.719 kasus. Dari rentetan data itu, dapat dilihat bahwa kasus mengalami kenaikan signifikan dan belum menurun.
Dari kedua data itu, maka dapat ditarik kesimpulan sesuai data, bahwa signifikasi kenaikan kasus covid-19 lebih lama bertahan di libur panjang pasca lebaran, meskipun secara jumlahnya lebih tinggi libur nataru.
Kasus Kematian Lebih Banyak Nataru
Jumlah warga yang meninggal akibat terpapar covid-19 selama periode enam pekan di Januari-Februari lebih tinggi daripada enam pekan di periode Mei-Juni. Dalam kurun waktu itu, jumlah kematian warga di nataru berjumlah 10.243 orang, sementara dalam kurun waktu pasca lebaran jumlah kematian berjumlah 8.233 orang.
Dalam dua periode itu juga terjadi rekor jumlah kematian harian tertinggi selama pandemi. Pada tanggal 28 Januari 2021 rekor kasus kematian tercatat dalam 476 kasus sehari, dan pada 25 Juni 2021 kemarin kasus kematian mencapai 422 kasus yang menjadikannya rekor urutan ketiga tertinggi.
Ilustrasi Covid-19 di RI. (CNN Indonesia/ Yulia Adiningsih)
Jumlah warga yang dinyatakan pulih dari infeksi virus corona pada libur lebaran ternyata lebih rendah daripada libur nataru. Dalam perbandingan enam pekan, libur lebaran mencatat secara kumulatif 237.425 orang sembuh, sementara pada libur nataru 382.020 orang pulih selama kurun waktu enam pekan.
Jumlah kasus sembuh yang relatif sedikit menunjukkan bahwa periode rawat inap di rumah sakit maupun isolasi mandiri di rumah lebih lama.
Testing di Lebaran Meningkat Daripada Nataru
Jumlah pemeriksaan warga terhadap virus corona pada libur lebaran lebih tinggi daripada pemeriksaan sewaktu libur nataru dalam kurun waktu perbandingan sama, yakni enam pekan. Pada libur lebaran kumulatif tes dilakukan terhadap 2.425.933 orang, sementara pada nataru dilakukan terhadap 1.1678.835 orang.
Namun perlu diketahui, jumlah pemeriksaan pada periode Januari-Februari hanya menggunakan metode tes polymerase chain reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Sementara sejak 2 Maret 2021, pemerintah mencantumkan rapid test antigen sebagai tambahan tes di laporan data harian.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar pemeriksaan 1:1.000 penduduk per pekan. Dengan asumsi populasi Indonesia mencapai 270 juta jiwa, maka sewajarnya 270 ribu orang diperiksa per pekan atau dalam perbandingan data ini selama enam pekan, maka ideal tes yakni 1.620.000 orang.
Apabila dilihat, dalam hal ini pemeriksaan baik pada libur nataru maupun libur lebaran sudah melampaui standar pemeriksaan covid-19 dari WHO.
Positivity rate merupakan persentase perhitungan dari penambahan kasus positif Covid-19 dibagi jumlah orang yang diperiksa kemudian dikali 100 persen. WHO menetapkan ambang batas minimal angka positivity rate kurang dari 5 persen.
WHO mengkategorikan positivity rate dalam empat tingkatan. Pertama kurang dari dua persen maka disebut low incidents. Kemudian 2-4,99 persen dikatakan fase moderate; 5-19,9 persen disebut high incidents; dan lebih dari 20 persen dikatakan selanjutnya sebagai very high incidents.
Dalam perbandingan libur nataru dan lebaran, dapat dilihat bahwa rata-rata positivity rate dalam enam pekan di libur nataru lebih tinggi daripada libur lebaran. Pada nataru positivity rate mencapai 27,04 persen, sementara positivity rate libur lebaran selama enam pekan sebesar 13,1 persen.
Namun belakangan, Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo menilai bahwa positivity rate sejatinya hanya dihitung dengan parameter pembagi pemeriksaan menggunakan PCR dan Tes Cepat Molekuler (TCM) saja, sementara rapid test antigen tidak bisa dijadikan tolok ukur positivity rate.
Itu artinya, masih sulit membandingkan data positivity rate dari sebelum periode pemberlakuan penambahan antigen di laporan harian di Maret 2021. Sebab, pemerintah saat ini menghitung positivity rate tetap berdasarkan jumlah orang yang diperiksa per harinya, baik menggunakan PCR, TCM, dan antigen.