ANALISIS

Poster Politik Emas Greysia/Apriyani:Pencitraan Menjengkelkan

CNN Indonesia | Selasa, 03/08/2021 19:57 WIB
Politikus dan pejabat ramai-ramai mengucapkan selamat pada Greysia/Apriyani yang meraih emas Olimpiade. Pengamat menyebut ada motif politik di baliknya. Greysia Polii/Aprilyani Rahayu menjadi ganda putri pertama Indonesia yang meraih medali emas dalam Olimpiade. (Pool via REUTERS/LINTAO ZHANG)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah politikus hingga pejabat lomba-lomba mengucapkan selamat dan suka cita atas keberhasilan atlet Indonesia  Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih medail emas bulutangkis ganda putri pada Olimpiade Tokyo 2020. Ucapan selamat riuh di media sosial melalui poster lengkap dengan potret wajah para politikus.

Namun cibiran banyak datang dari pengguna media sosial. Selain dinilai berlebihan, para politikus dan pejabat tersebut dinilai tak punya andil langsung di balik keberhasilan ganda putri Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Apalagi jika ada poster yang memuat foto politikus, lebih besar dari foto Greysia/Apriyani sendiri.


Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, menyatakan langkah menunggangi kemenangan para atlet untuk kepentingan politik merupakan hal sangat menjengkelkan.


"Menunggangi kemenangan para atlet seperti Gresya/Apriyani untuk kepentingan politik tentu sangat menjengkelkan," kata Lucius, Selasa (3/7) saat dihubungi.

Menurutnya, langkah tersebut tak jauh berbeda dengan langkah para politikus yang menunggangi pandemi Covid-19 dengan menyebarluaskan berbagai poster berisi pesan soal kepatuhan melaksanakan protokol kesehatan yang menonjolkan foto dirinya sendiri.

Dirinya juga melihat ada nilai berbeda antara kepentingan politik para politisi dibandingkan kemenangan Greysia/Apriyani yang cenderung bertolak belakang yaitu kemenangan ganda putri tersebut yang diperoleh lewat sebuah perjuangan dilandasi sportivitas.

Langkah para politikus itu, kata dia, menunjukkan bahwa mereka memanfaatkan momentum kemenangan Greysia/Apriyani sehingga memperlihatkan ketidakjujuran dan ketidaktulusan.

"Para politikus tampaknya memang sudah cukup lama tak memiliki momen untuk mempromosikan diri dan partai politik mereka. Situasi pandemi membuat ikhtiar politisi agar lebih dikenal jadi terhambat," katanya.

Lucius juga menilai langkah para politikus yang marak mengunggah poster ucapan selamat kepada Greysia/Apriyani juga terkait dengan waktu penyelenggaraan Pemilu 2024 yang sudah semakin dekat.

Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mencari simpati publik karena para politikus menyadari bahwa bulu tangkis merupakan salah satu olahraga kebanggaan hampir seluruh masyarakat Indonesia.

"Waktu terus berjalan dan di depan mata Pemilu 2024 akan terjadi. Ketika satu momen besar kemenangan Greysia/Apriyani datang, para politisi langsung bereaksi karena menyadari betapa kebanggaan akan kemenangan sepasang atlit bulu tangkis itu menjadi kebanggaan seluruh bangsa," tuturnya.

Pencitraan demi Popularitas

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie menilai para politikus dan pejabat itu sekadar mendompleng kesuksesan dua atlet tersebut. Kuat motif pencitraan untuk mengerek popularitas semata.

"Ini juga bagian mencari dukungan publik, imaging politik," kata Jerry saat dihubungi, Selasa (3/8).

Jerry menilai, poster-poster dari politikus itu tidak akan terlalu berpengaruh banyak ke tingkat elektabilitas mereka.

Ia menyebut para politikus itu mencari kesempatan dalam kesempitan. "Biar viral dan dikenal netizen atau youtuber. Kalau politisi sudah punya nama, paling mereka ogah dengan cara seperti ini," ujarnya.

Jerry menilai penyebaran poster itu justru menjadi tidak etis apabila tujuannya hanya kepentingan politik meski jadi hak merek sebagai pengguna media sosial.

"Saya sarankan lebih baik anggaran yang dipakai bikin poster bisa disumbangkan buat atlet yang berprestasi," tuturnya.

Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio di sisi lain menilai poster-poster tersebut sekadar mengikuti tren dan usaha mereka untuk meningkatkan popularitas.

"Itu ngikutin tren aja. Berusaha untuk meningkatkan popularitas, tapi kalau semuanya (mengucapkan), banyak, ya jadi enggak kelihatan popularitasnya, enggak unik," tutur Hendri.

Terkait foto politikus yang bersangkutan lebih besar daripada foto Greysia/Apriyani, menurut Hendri, hal itu malah akan merugikan. Pasalnya, mereka hanya akan menjadi cibiran banyak orang.

"Apalagi kalau fotonya dia yang bersangkutan lebih besar dari pahlawan-pahlawan kita. Yang ada cibiran, jadi memang harus hati-hati memanfaatkan momentum, harus tepat dan mengerti caranya," kata dia yang juga dikenal sebagai pendiri lembaga survei KedaiKopi tersebut.

Halaman selanjutnya respons dari para politikus soal tudingan pencitraan

Bantah Bermuatan Politis

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK