Raup Rp1 M dari Swasta, Nurdin Abdullah Pakai Tawaran Amal

CNN Indonesia | Jumat, 06/08/2021 01:57 WIB
Gubernur nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah memberi tawaran Salah satu aset Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah yang disita KPK. (Foto: Arsip Humas KPK)
Makassar, CNN Indonesia --

Terdakwa Gubernur nonaktif Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengaku memberi tawaran "beramal" lewat sumbangan masjidnya, di Pucak, Maros, kepada pengusaha konstruksi Haeruddin hingga berhasil mendapatkan Rp1 miliar.

Tawaran itu diberikan dalam pertemuan keduanya di kantor Gubernur, beberapa waktu lalu. Nurdin mengklaim perjumaan itu dilakukan untuk memberikan apresiasi kepada Haeruddin atas pekerjaan yang telah diselesaikan di Kabupaten Soppeng.

"Saya tahu Pak Haeruddin adalah orang dermawan dan sosial. Saat itu saya bilang kalau memang ikhlas dan mau beramal. Saya lagi bangun masjid di Kompleks Unhas yang anggarannya mencapai Rp25 miliar. Beliau [meng]-iyakan," ujarnya, yang dihadirkan dalam sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Makassar secara virtual dari Rutan KPK, Jakarta, Kamis (5/8).


NA juga menyebutkan, bahwa Haeruddin pernah bilang dalam pertemuan telah menyiapkan sejumlah bantuan.

"Saya telepon dia pada saat di Soppeng, karena soal pengerjaan proyek yang cepat dan bagus. Ajudan berkali-kali ingin sampaikan Haeruddin ingin bertemu, kemudian bertemu di kantor gubernur," jelasnya.

Pada sidang yang sama, Haeruddin, di hadapan Ketua Majelis Hakim Ibrahim Palino, mengaku pernah dimintai langsung oleh terdakwa untuk menyumbang pembangunan masjid.

"Betul, saya pernah ketemu dengan Pak Nurdin di Pemprov dan itu pertemuan tidak sampai 10 menit kemudian pamit. Pak Nurdin menawarkan saya untuk menyumbang masjid dan saya pun langsung iyakan Rp1 miliar," aku dia.

Uang itu kemudian diserahkannya kepada Syamsul Bahri, ajudan dari Nurdin Abdullah, yang datang ke rumahnya.

"Saya serahkan secara tunai kepada Syamsul Bahri. Setelah itu saya tidak konfirmasi lagi karena saya yakin uang itu digunakan untuk masjid," kata dia, yang merupakan pemilik PT Lompulle, kontraktor proyek di Soppeng.

"Saya tidak pernah mengerjakan proyek Pemprov Sulsel dan sumbangan ke masjid itu murni sedekah untuk amal, bukan mengharap proyek," Heruddin menambahkan.

Soal aliran dana sumbangan masjid itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulsel telah mencairkan anggaran dari proposal pembangunan yang diajukan pengurus masjid Rp400 juta. Pembangunan itu menelan anggaran sekitar Rp950 juta. 

Dalam persidangan yang sama, Direktur BPD Sulsel Amri Maulana menjelaskan uang Rp400 juta itu merupakan dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah disepakati untuk digunakan dalam pembangunan masjid tersebut.

"Rp400 juta ini diusulkan oleh komite CSR dan diputuskan oleh direksi. Kemudian transfer oleh komite pengurus masjid pada bulan Desember 2020. Saya lupa siapa yang bawa proposal itu yang mulia," kata Amri, Kamis (5/8).

Setelah itu, kata Amri dirinya kemudian ditelpon oleh ajudan terdakwa, Syamsul Bahri untuk meninjau lokasi pembangunan masjid.

"Di sana saya bertemu dengan pengurus masjid bernama Suardi. Pak Suardi ini sebagai ketua pengurus masjid," ujarnya di hadapan majelis hakim.

Sebelumnya, Nurdin didakwa menerima gratifikasi dan suap dengan total Rp13 miliar.

(mir/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK