Dituduh Curi HP, Bocah di Rote Ndao NTT Dianiaya Anggota TNI

CNN Indonesia
Sabtu, 21 Agu 2021 19:04 WIB
Seorang bocah SD berusia 13 tahun dituduh mencuri HP. Lantaran tak merasa mencuri, bocah tersebut tak mau mengaku dan berujung penganiayaan oleh anggota TNI. Foto Ilustrasi kekerasan pada anak (Unsplash/Pixabay)
Kupang, CNN Indonesia --

Seorang siswa SD berusia 13 tahun di Kelurahan Metina, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penganiayaan hingga pingsan oleh seorang anggota TNI yang bertugas di Kodim/1627 Rote Ndao, Kamis (19/8).

Bocah di bawah umur berinisial PS itu kini dirawat di RSUD Baa, akibat mengalami luka pada tubuhnya,

Joni Seuk, ayah korban menceritakan, anaknya dijemput seorang oknum anggota TNI yang bertugas di Kodim/1627 Rote Ndao berinisial AOK dan rekannya berinisial B dirumah mereka, Kamis malam (19/8) sekitar pukul 19:00 Wita. Anaknya kemudian dibawah ke rumah B. PS dijemput lantaran dituduh mencuri HP milik AOK.


AOK kemudian mengantar korban ke rumah B tengah malam. Saat itu PS tak mengadukan apapun pada Joni.

"Waktu pulang, dia (PS) hanya diam-diam saja dan tidak cerita apapun," kata Joni Seuk.

Keesokan harinya, Jumat (20/8) anaknya dicari lagi oleh AOK saat sedang bermain di Pantai Baa, namun saat itu ia tak bilang pada Joni.

Malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, AOK kembali datang bersama B dan sejumlah rekannya. PS saat itu ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari namun ketahuan.

Saat itu penganiayaan terjadi hingga mulut PS berdarah sebelum dibawa ke rumah B lagi.

Karena takut, Joni Seuk dan istrinya menyusul untuk melihat kondisi anak mereka. Saat tiba di rumah B, mereka melihat anaknya sudah tidak berdaya diduga akibat penganiayaan.

Ibu korban, Ati Seuk Hanas menuturkan, tak tega melihat kondisi anaknya namun tak berani untuk membela, mereka memilih pulang.

Tengah malam, PS diantar pulang AOK namun dalam kondisi telanjang.

Menurutnya saat itu PS diantar pulang karena sudah mengaku mengambil HP lantaran tidak tahan dianiaya. 

"Anak kami terpaksa mengaku bahwa dia yang ambil handphone, karena sudah tidak tahan dengan penganiayaan itu. Sampai di rumah anak kami bingung mau ambil handphone dimana karena bukan dia yang ambil," ujar Aty.

Keadaan ini menambah amarah AOK, sehingga anak mereka kembali dianiaya hingga tak berdaya lalu dibawa lagi ke rumah B.

Sabtu pagi sekitar pukul 09:00 Wita pagi baru anak mereka dibawa pulang ke rumah oleh dua orang kerabat AOK. Tiba di rumah anak mereka langsung pingsan sehingga langsung dilarikan ke RSUD Baa, untuk mendapatkan pertolongan medis.

Keluarga korban lainnya, Ferdy Farudin menjelaskan, PS mengalami trauma berat karena tidak ingin ditinggalkan sendirian dalam ruang perawatan.

"Anak kami trauma berat, kemarin saya mau pulang dia pegang kuat-kuat saya pu tangan. Dia bilang jangan pergi nanti mereka datang ambil saya lagi untuk pukul," kata Ferdy.

Sementara itu Komanda Kodim/1627 Rote Ndao, Letnan Kolonel Inf Educ Permadi membenarkan peristiwa ini. Ia menegaskan akan mengedapankan proses hukum pada anggotanya.

Penyidikan akan dilakukan Detasemen Polisi Militer (Denpom) Kupang.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Denpom dalam hal ini Kupang, untuk menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku di militer," kata Educ.

Ia mengatakan dirinya bertanggung jawab selaku Dandim agar kejadian serupa tak terulang.

Educ juga mengatakan pihaknya akan melakukan pendekatan pada keluarga.

(ell/sur)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER