Fenomena Aneh Pasien Covid-19 di Surabaya, Diduga Varian Baru

CNN Indonesia | Rabu, 08/09/2021 20:42 WIB
Seorang pasien di Surabaya menunjukkan hasil CT Value yang sangat rendah di angka 1,8 dan dikhawatirkan kena infeksi Covid-19 mutasi baru. Tenaga kesehatan melakukan tes Antigen kepada warga saat penyekatan di akses masuk Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/6/2021). (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Surabaya, CNN Indonesia --

Tim Medis di rumah sakit darurat Covid-19 Surabaya, atau Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), menemukan fenomena aneh dari sejumlah pasien Covid-19 yang tengah dirawat di sana. Mereka merupakan pasien dari kelompok Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang ke Jawa Timur.

Penanggungjawab RSLI, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi mengatakan salah seorang pasien itu menunjukkan hasil CT Value yang sangat rendah, berada di angka 1,8. Dikhawatirkan hal itu merupakan tanda-tanda infeksi Covid-19 mutasi baru.

"Karena kami menemukan nilai CT value 1,8 pada satu pasien," kata Samsulhadi, Rabu (8/9).


CT value atau cycle threshold value adalah suatu nilai yang muncul dalam pemeriksaan PCR. CT value PCR berfungsi untuk menentukan status apakah seseorang positif atau negatif terkait infeksi virus Covid-19.

Selain itu, CT value juga dapat menunjukkan kemungkinan jumlah virus corona di dalam tubuh serta menentukan risiko pasien untuk mengalami komplikasi atau gejala berat Covid-19.

Usai menemukan hasil yang rendah, tim pun mengulang tes usap metode PCR ke pasien tersebut hingga 12 hari yang bersangkutan dirawat. Namun, sambungnya, CT value pasien tersebut masih tetap menunjukkan angka 1,8.

Tak hanya pada satu orang, Samsulhadi menyebut hasil CT value yang rendah juga ditemukan di sejumlah pasien PMI lain. Angka CT Value yang rendah itu terus bertahan bahkan hingga hari ke 10 mereka dirawat.

"Setelah diulang, ternyata nilainya memang masih 1,8. Juga beberapa pasien PMI yang sudah 10 hari dirawat, tapi nilai CT Value-nya masih di bawah 15," ucap dia.

Menurut Samsulhadi, ini merupakan fenomena baru sekaligus hal aneh yang ditemukan pihaknya. Sejumlah dokter di RSLI pun terus bekerja untuk menindaklanjuti.

"Karena fenomena yang aneh, saya sudah meminta dr Fauqa untuk menindaklanjuti," katanya.

Senada, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan RSLI, Fauqa Arinil Aulia, mengatakan bahwa pihaknya akhir-akhir ini menemukan sejumlah pasien dengan CT value yang rendah cenderung ekstrem.

Temuan itu, bahkan bertentangan dengan temuan dan teori kasus-kasus Covid-19 yang ditemukan sebelumnya di RSLI. Di mana CT value pasien akan bertahap naik dan membaik menjelang pekan ke 2 dirawat.

"Padahal teorinya, pada varian lain, progresnya baik, CT Value naik. Bahkan hari ke 13 sudah negatif. Sedangkan sekarang ini kok malah kebalikannya, minggu kedua seperti mulai kembali terserang, dengan indikasi nilai CT Value yang masih rendah, di bawah 25 bahkan di bawah 5," kata Fauqa.

Dengan temuan ini, Fauqa mengatakan pihaknya pun saat ini tengah mewaspadai varian MU. Mutasi Covid-19 jenis B.1.621 ini seperti diketahui telah menginfeksi lebih dari 39 negara. Varian MU ini disebut memiliki resistensi terhadap vaksin.

"Seperti yang baru dirilis WHO, yaitu varian Mu yang termasuk Varian of Interest (VoI), sekarang ini perkembangannya sudah melanda di lebih 39 negara," ujarnya.

Meski mewaspadai, kata dia, varian Mu ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab mutasi ini masuk dalam VoI, atau sifatnya tidak berubah dari gejala klinis, perkembangan di penyakitnya dan juga cara terapinya penanganannya masih sama.

Yang dikhawatirkan adalah adalah Varian of Concern (VoC) contohnya varian Delta, dan Varian of High Consequence (VoHC) yang sekarang memang belum terbukti ada.

"Varian Delta kemarin termasuk VoC, seperti kita tahu kemarin sangat heboh, outbreak-nya luas dan mereka yang terinfeksi Delta, nilai CT Valuenya rata-rata dibawah 25,dan ada yang ekstrim dibawah 5," kata dia.

Meski begitu, RSLI akan melakukan penanganan kepada para pasien tersebut secara holistik. Pihaknya juga akan terus memonitor jika muncul potensi para pasien dengan CT value rendah itu, terinfeksi varian baru.

"Kami sudah tindaklanjuti dan mengirimkan 78 sampel untuk whole genome sequencing (WGS) dengan tujuan untuk lebih detail mengetahui karakterisitik virus. Dan sampai saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratoriumnya. Proses di Tropical Disease Centre (TDC) Universitas Airlangga (Unair)," ucapnya.

Sementara itu, RSLI sendiri saat ini tengah merawat 157 pasien dari total 410 bed yang tersedia. Mereka terdiri dari 8 orang pasien umum/mandiri sedangkan sisanya 149 orang adalah dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). PMI yang dirawat di RSLI itu, kebanyakan datang Hongkong, Brunei, Malaysia, Singapura, Taiwan dan lainnya.

(frd/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK