Sukarno Tutup Kuping Dengar Musik, Simbol Anti-Imperialisme

CNN Indonesia | Kamis, 16/09/2021 16:34 WIB
Presiden Sukarno pernah menutup telinga saat mendengarkan musik yang dimainkan beberapa orang bule di Athena, Yunani pada 1965. Presiden Sukarno. (AFP PHOTO/INTERNATIONAL NEWS PHOTOS/DOUG CHEVALIER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sukarno duduk menutup telinga dengan kedua telunjuknya, sambil menghisap rokok dan berkacamata hitam. Beberapa orang bule berdiri memainkan gitar di belakangnya. Mereka tersenyum melihat aksi Sukarno menutup kuping. Foto itu beredar di media sosial.

Dosen Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Wildan Sena Utama menyebut foto Sukarno itu diambil saat kunjungan ke Athena, Yunani, tahun 1965.

Wildan menjelaskan saat itu Sukarno tengah menjalankan politik anti-imperialisme dan neokolonialisme di berbagai aspek. Sukarno memiliki konsepsi New Emerging Forces (Nefos), kekuatan ketiga sebagai perlawanan atas neoimperialisme Barat kala itu.


Intervensi imperialisme dan kolonialisme Barat, kata Wildan, tidak hanya dalam aspek politik, ekonomi, militer, tetapi juga kebudayaan. Sukarno menganggap nilai-nilai Barat yang liberal, tidak progresif, dan mengangkat identitas yang diametral dengan identitas Timur, bertentangan dengan politik yang sedang dijalankan Indonesia.

"Dalam hal ini termasuk musik. Dan ini tidak sesuai dengan politik antiimperialisme Sukarno yang total, dalam artian meresap ke semua bidang," ujarnya.

Wildan mengatakan musik, film, dan produk-produk kebudayaan Barat, terutama Amerika Serikat, kurang mendapat tempat karena tidak sesuai dengan proyek nation-building Sukarno. Sang Proklamator ingin membangun Indonesia berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dinamika itu berlangsung sejak awal 1960-an hingga puncaknya 1965, saat Sukarno digulingkan dari kekuasaan.

Pada ulang tahun ke-15 Republik Indonesia, 17 Agustus 1959, Sukarno menyampaikan pidato dengan mengusung tema Manipol/Usdek (Manifesto politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia). Dia dengan tegas menentang imperialisme dan neokolonialisme.

Melansir artikel yang ditulis Soeripto Putera Djaja di Majalah Sketsmasa (1962), Manipol berisikan Tri Program yang berfokus pada melengkapi sandang pangan rakyat, menyelenggarakan keamanan rakyat dan negara, serta melanjutkan perjuangan menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik.

Program politik ini berimplikasi pada larangan musik barat, seperti Elvis Presley dan The Beatles. Tidak hanya musisi Barat yang terdampak, musisi Indonesia dengan gaya The Beatles pun kena imbasnya. Dalam pidato tersebut, Sukarno dengan lantang mempertanyakan pemuda-pemudi yang tidak antiimperialisme.

"Hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi... Kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock'n-rock'n rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok gila-gilaan?" kata Sukarno.

Pertanyaan retorik yang dilontarkan Sukarno bersambung dengan perintahnya sebagai dasar kebijakan larangan musik ngak-ngik-ngok.

"Maka itu, pemuda-pemuda, awas-awas, ... kalau masih ada beatle-beatlean, kalau masih ada rock and roll, rock and rollan. Ya, seperti kawanmu yang bernama Koes Bersaudara itu, apa itu. Apa kita tidak punya sendiri yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri?" sambungnya.

Pidato Sukarno diwujudkan dalam penangkapan terhadap kelompok musik yang dianggap masih beraliran ngak-ngik-ngok seperti Koes Plus. Koes Plus pernah mendekam di Penjara Glodok, Jakarta Pusat, pada 29 Juni 1965 tanpa pengadilan dan dibebaskan begitu saja pada 29 September 1965.

Bahkan, Radio Republik Indonesia (RRI) tidak lagi menyiarkan lagu-lagu rock and roll, cha-cha-cha, dan tango sesuai arahan Sukarno sejak 1959. Sementara itu lagu-lagu irama Lenso maupun lagu-lagu seperti Bengawan Solo ciptaan Gesang, lebih banyak diputar.

(cfd/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK