Veronica Koman Klaim Ada 2 Versi Penembakan Nakes di Papua

CNN Indonesia
Rabu, 22 Sep 2021 14:49 WIB
Aktivis HAM Veronica Koman mengatakan selain versi yang beredar di media, ada pula kronologi penembakan nakes versi masyarakat Papua. Aktivis HAM Veronica Koman mengatakan selain versi yang beredar di media, ada pula kronologi penembakan nakes versi masyarakat Papua. (Foto: Screenshot via Facebook VeronicaKoman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivis HAM dan pengacara publik Papua, Veronica Koman menyebut ada dua versi kronologi terkait penyerangan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua.

Dalam kejadian tersebut, satu orang nakes bernama Gabriella Maelani (22) meninggal dunia.

"Versi satu jelas yang banyak di-share di media. Versi kedua yang beredar di kalangan orang Papua," kata Veronica kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/9).


Lebih lanjut, Veronica menjelaskan versi kronologi yang disiarkan oleh media kebanyakan menggambarkan kekejaman TPNPB-OPM dalam menyerang nakes.

Versi yang kedua, kata Vero, diduga dipicu oleh penembakan yang dilakukan seseorang menggunakan baju dokter terhadap TPNPB, sehingga terjadi insiden penembakan di gedung kesehatan.

Ia mengatakan, di Papua banyak TNI yang merangkap sebagai guru dan dokter. Ia menilai, hal itu yang menyebabkan banyak kecurigaan di Papua.

Meski begitu, ia sedih mendengar kabar bahwa dalam insiden tersebut seorang nakes meninggal. Namun, ia menyebut kebenaran kronologi tersebut harus tetap diselidiki.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, nakes yang meninggal itu bukan karena disiksa oleh TPNPB.

"Versinya orang Papua tidak betul ada penyiksaan. Gabriella lompat kabur, bukan dilempar ke jurang sama OPM," ucapnya.

Terkait itu, Vero meminta agar ada investigasi independen. Menurutnya, pelacakan kronologi yang benar berpengaruh ke berbagai aspek, terutama rasisme terhadap orang Papua.

"Kalau misalnya tindakan barbar itu tidak betul, itu kan memperparah stigma dan rasisme ke orang Papua. Itu barbar banget," ucapnya.

"Kalau misalnya melek soal HAM, kita bisa pisahkan. Yang kena OPM, bukan orang Papua. Pada umumnya kelompok minoritas, termasuk Tionghoa, satu yang buat salah, semua kena. Contoh kasus LGBT, ada gay yang berbuat apa, satu komunitas kena. Makanya itu penting untuk diluruskan," imbuhnya.

Selain itu, Vero juga menilai pernyataan dari saksi harus diperhatikan. Ia mempertanyakan apakah saksi tersebut memberikan keterangan dalam kondisi mendapat tekanan atau tidak.

"Banyak tentara di sekelilingnya. Ini wilayah konflik, jadi beda. Misalnya di Jawa. Jadi bisa ditekan," ucapnya.

Sebelumnya, TPNPB-OPM mengakui telah menyerang fasilitas publik, seperti puskesmas dan gedung sekolah di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua pada 13-14 September 2021.

Mereka mengklaim aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan untuk dapat memisahkan diri dari Indonesia. OPM menyatakan siap jika perbuatannya dibawa ke hukum internasional.

Kantor Staf Presiden (KSP) menyebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melanggar Undang-Undang HAM usai nakes tewas dalam penyerangan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9).

Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani mengatakan KKB juga melanggar sejumlah undang-undang, seperti UU Kesehatan, UU Keperawatan, UU Rumah Sakit, dan UU Kekarantinaan Kesehatan.

(yla/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER