PBNU: 94 Persen Alkes Impor Tanda Sistem Kesehatan Rapuh

CNN Indonesia | Sabtu, 25/09/2021 16:22 WIB
Dalam acara Munas dan Konferensi Besar NU, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengkritik tingginya impor alat-alat kesehatan (alkes). Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj di Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan rapuhnya sistem kesehatan nasional salah satunya karena tingginya impor alat-alat kesehatan (alkes).

"Saat ini, sekitar 94 persen alkes yang beredar adalah produk impor. Dominasi produk impor adalah menandai rapuhnya sistem kesehatan nasional," ujar Said Aqil saat memberi sambutan di acara Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU, yang disiarkan di kanal Youtube Televisi Nahdlatul Ulama, Sabtu (25/9).

Said Aqil menyarankan pemerintah memperbaiki sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan rasio dan keandalan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan Puskesmas.


Ia juga meminta pemerintah mengurangi kesenjangan distribusi fasilitas dan tenaga kesehatan termasuk dokter, spesialis, perawat dan bidan serta memperkuat ekosistem kesehatan.

Menurutnya, hal itu bisa dimulai dari kemandirian farmasi, penambahan dokter dan nakes, kapasitas rumah sakit-Puskesmas dan produksi Alkes.

Ia juga menyoroti sistem kesehatan dari sisi masyarakat. Protokol kesehatan, kata Said Aqil, tak boleh kendor meski kasus Covid-19 belakangan ini mulai landai.

Menurutnya ada kemungkinan terjadi lonjakan gelombang ketiga. Pernyataan tersebut merujuk keterangan epidemiolog yang mengatakan pola kurva sekitar 3-5 bulan akan naik. Lonjakan itu diperkirakan akan terjadi pada akhir 2021.

Sebelumnya, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) juga mengatakan hal serupa. Mereka meminta seluruh rumah sakit yang menjadi rujukan pasien virus corona agar selalu siaga mengantisipasi lonjakan gelombang ketiga.

Sekretaris Jenderal Persi Lia Gardenia Partakusuma mengatakan Indonesia berpotensi mengalami lonjakan Covid-19 tiga bulan pasca negara tetangga mengalami lonjakan.

Menurutnya, kasus-kasus Covid-19 pada pembelajaran tatap muka (PTM) bisa menjadi ancaman serius akan lonjakan Covid-19.

Sejauh ini kasus harian Covid-19 di Indonesia mengalami tren penurunan. Kasus harian tak lebih dari angka 10 ribu. Jumlah tersebut sangat berbeda dengan kondisi pada Juli lalu. Ketika itu, kasus harian Covid-19 menyentuh angka 50 ribu per hari.

Secara keseluruhan kasus Covid di Indonesia mencapai 4,2 juta, sementara angka kematian 141 ribu jiwa.

Namun, Indonesia tak bisa serta merta berbangga diri mengingat lonjakan kasus di negara tetangga masih tergolong tinggi. Di Malaysia misalnya, kasus harian Covid masih di kisaran angka 14 ribu.

(isa/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK