Jakarta, CNN Indonesia -- Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyiagakan rumah sakit (RS) rujukan Covid-19, khususnya di daerah perbatasan, terkait potensi gelombang ketiga Virus Corona di akhir 2021.
Sekretaris Jenderal PERSI Lia Gardenia Partakusuma menyebut RS di perbatasan memiliki kerentanan yang cukup tinggi lantaran menjadi fasilitas perawatan dan karantina bagi warga yang selesai melakukan perjalanan luar negeri maupun dalam negeri beda pulau.
"PERSI sudah membuat edaran September kemarin untuk tetap menyiagakan RS, terutama daerah-daerah perbatasan," kata Lia dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid-19 ID, Selasa (12/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belajar dari pengalaman lalu, lanjutnya, Indonesia berpotensi mengalami lonjakan Covid-19 tiga bulan usai anegara tetangga mengalaminya. Selain itu, menurutnya, ada potensi lonjakan Covid-19 akibat pembelajaran tatap muka (PTM).
Selain itu, relaksasi yang dilakukan pemerintah seperti membuka sejumlah tempat wisata menurutnya kerap membuat tenaga kesehatan ketar-ketir. Ia menyebut, relaksasi tempat wisata kalaupun diperbolehkan adalah wisata lokal, sehingga warga tak perlu bepergian ke luar provinsi atau pulau lain.
"Yang kami takutkan sebenarnya bukan hanya hari libur, tapi bagaimana sebenarnya pergerakan penduduk manusia dari satu tempat ke tempat lain terutama daerah-daerah perbatasan," imbuhnya.
Untuk itu, Lia meminta pemerintah benar-benar menggencarkan penapisan lewat tes, telusur, tindak lanjut (3T) secara luas dan agresif.
Lia juga mengingatkan kepada seluruh manajemen RS untuk benar-benar mempersiapkan dengan apik kapasitas tempat tidur, alat kesehatan, obat, hingga oksigen.
"Waspada itu penting, kami dari RS akan tetap melayani masyarakat. Tapi tolong jaga juga teman-teman tenaga kesehatan agar tidak terjadi lonjakan yang tidak diperlukan hanya karena ketidakwaspadaan kita," ujar Lia.
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 sebelumnya mewanti-wanti segenap masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap penularan virus corona, kendati jumlah sebaran kasus positif di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito menyebut, kewaspadaan juga harus ditambah mengingat Indonesia berpotensi 'dihantam' gelombang tiga penularan virus corona yang diprediksi terjadi akhir tahun 2021.
Buka halaman selanjutnya soal kasus yang melandai di RI.
Satgas Bicara soal Kasus yang Melandai di RI
Ilustrasi. Petugas medis melakukan tes swab kepada salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT), Kalimantan Utara. (ANTARA FOTO/FACHRURROZI)
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengakui dalam tiga bulan terakhir jumlah pemeriksaan deteksi virus corona (covid-19) terhadap warga lebih banyak menggunakan metode rapid test antigen, ketimbang metode polymerase chain reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM).
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut, kendati PCR sampai saat ini merupakan golden standard test covid-19. Namun dengan agresifnya rapid test antigen menurutnya menunjukkan bahwa penularan kasus covid-19 di Indonesia menurun, sehingga pemeriksaan mayoritas screening dan bukan penelusuran kontak erat.
"Angka gabungan PCR dan TCM yang rendah ini dapat menandakan jumlah orang yang bergejala maupun kontak eratnya juga menurun drastis," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (12/10).
Wiku membeberkan, selama periode lonjakan kasus covid-19 kedua yang terjadi pada sekitaran Juli 2021 lalu, PCR dan TCM lebih banyak digunakan ketimbang rapid test antigen. Apabila diukur, saat itu pemerintah melakukan pemeriksaan PCR dan TCM kepada 702.749 orang, sementara untuk rapid test antigen hanya 444.044 orang.
Namun periode pascalonjakan kedua itu, ketika kasus sudah mulai turun, jumlah pemeriksaan covid-19 di Indonesia didominasi rapid test antigen yang naik empat kali lipat. Misalnya pada sepekan terakhir, pemeriksaan menggunakan rapid test antigen mencapai 963.237 orang, sementara PCR dan TCM hanya berada di 265.197 orang.
"Dan, sudah empat minggu berturut-turut, jumlah orang yang diperiksa dalam seminggu 1.203.873 orang," kata Wiku.
Kendati demikian, Wiku juga mewanti-wanti kepada seluruh pelayanan kesehatan agar menggunakan rapid test antigen sesuai standar pemerintah.
Ada tiga aspek yang perlu dipenuhi. Pertama yakni alat rapid test tersebut memiliki akurasi tinggi yang dibuktikan dengan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Kedua, sampel diambil petugas kesehatan yang terlatih, dan ketiga dilengkapi tes konfirmasi PCR atau TCM jika tersedia untuk orang bergejala ataupun kontak erat.