SUARA ARUS BAWAH

Geliat Penolakan Warga Soal Rencana Jalan Ataturk di Jakarta

CNN Indonesia
Selasa, 19 Okt 2021 14:26 WIB
Sejumlah warga yang ditemui menilai jika tokoh Turki, Musatafa Kemal Attaturk, jadi nama jalan Jakarta, bisa jadi nama tokoh dari negara-negara lain pun ikut. Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan merupakan salah satu jalur protokol di DKI Jakarta. (CNN Indonesia/ Ryan Hadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama tokoh pendiri negara atau founding father Turki, Mustafa Kemal Ataturk disebut diusulkan untuk menggantikan atau menjadi salah satu nama jalan di DKI Jakarta. Hal itu merupakan buah dari diubahnya nama jalan di depan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Ankara menjadi nama proklamator sekaligus Presiden pertama RI Sukarno.

Kedubes Turki di Jakarta mengatakan mulanya Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara mengusulkan untuk mengubah nama jalan di depan kedutaan RI dari Holland Street menjadi Jalan Sukarno.

"Dan permintaan (Indonesia soal penamaan jalan Soekarno) ini telah diterima otoritas Turki sebagai prinsip resiprokal, yaitu mengubah nama salah satu jalan yang berdekatan/bersebelahan dengan Kedutaan Besar Turki di Jakarta menjadi Jalan Ataturk," kata Kedubes Turki melalui surat elektronik kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/10).


Kedubes Turki juga menjelaskan, proses pemilihan jalan di Jakarta masih berlangsung mengingat diperlukannya konsultasi lebih lanjut dengan pihak berwenang di Indonesia. Sebelumnya diberitakan bahwa kemungkinan jalan yang dipilih adalah di wilayah Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu Kedutaan Besar Turki di Jakarta diketahui beralamat di Jl. HR. Rasuna Said Kav 1, Kuningan Timur, Jakarta Selatan.

Di Indonesia, usulan nama Ataturk itu pun menjadi polemik. Pasalnya sosok yang diajukan dikenal sekuler dan dianggap sebagai tokoh kerap yang merugikan Islam.

Di satu sisi, berangkat dari polemik tersebut, CNNIndonesia.com lantas mencoba meminta tanggapan sejumlah warga terkait rencana penggantian nama jalan tersebut.

Dwi (23), salah seorang Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) asal Jawa Tengah mengaku tidak setuju dengan rencana perubahan nama salah satu ruas jalan dengan tokoh asing. Ia justru mempertanyakan dalih pemberian nama jalan yang disampaikan pemerintah sebagai bagian dari kerja sama ataupun simbol kedekatan antara Indonesia dengan Turki.

Menurut Dwi, untuk menunjukkan kedekatan antarnegara tidak harus melalui mekanisme pemberian nama jalan di masing-masing wilayah.

"Kayaknya enggak harus seperti itu deh caranya. Menurut saya untuk menunjukkan kedekatan antara Indonesia dengan Turki bisa dengan cara-cara yang lain," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/10),

Lebih lanjut, Dwi mengatakan, dengan pola pikir seperti itu bukan tidak mungkin ke depannya akan ada lebih banyak ruas-ruas jalan yang menggunakan nama tokoh-tokoh asing di Indonesia.

"Ya kalau setiap perjanjian kerja sama atau untuk menunjukkan kedekatan harus lewat mekanisme seperti itu mah tidak bakal berhenti di Ataturk saja. Bakal ada negara-negara lain yang meminta hal serupa," tuturnya.

Sebagai informasi, per 2019 saja, merujuk dari situs Kemenlu RI, Indonesia telah menjalin kerjasama bilateral dengan 162 negara serta satu teritori khusus yang berupa nonself governing territory. Selain itu setidaknya lebih dari 130 perwakilan Indonesia ada di luar negeri baik berupa KBRI, Konsul Jenderal RI, Perutusan Tetap RI, dan Konsulat RI.

Dwi 23 tahun, Calon Pegawai Migran Indonesia asal Jawa Tengah.Dwi menilai jika nama Ataturk jadi nama jalan di Indonesia sebagai tanda kedekatan bilateral, maka akan ada lagi tokoh-tokoh dari negara lain. (CNN Indonesia/Taufik Hidayatullah)

Penolakan lainnya juga disampaikan salah seorang pedagang buah di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Muatip (48). Menurutnya, rencana pemberian nama jalan dengan tokoh asing tidak seharusnya dilakukan pemerintah RI.

Muatip juga menilai sosok Ataturk yang digadang-gadang bakal menjadi nama jalan di ibu kota negara Indonesia tersebut kurang familiar dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

"Harusnya enggak perlu dilakukan ya, karena untuk apa juga gitu kan memakai nama tokoh luar negeri [sebagai nama jalan] di sini," tuturnya.

Selain itu, menurut Muatip dengan dikenalnya Ataturk sebagai yang kontroversial sebagai tokoh liberal sekuler Turki di mata rakyat Indonesia, maka tidak sepantasnya digunakan sebagai salah satu nama jalan di DKI Jakarta.

"Kalau dekat kan harusnya tahu nilai-nilai yang dijunjung masyarakat Indonesia seperti apa. Harusnya saling menghormati lah," ujarnya.

Muatip 48 tahun, Pedagang Buah di Kawasan Gatot Subroto, Jakarta SelatanMuatip 48 tahun, Pedagang Buah di Kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan (CNN Indonesia/Taufik Hidayatullah)

Buka halaman selanjutnya.

Indonesia Tak Kekurangan Tokoh

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER