Ditjen PAS Respons Dugaan Penyiksaan Sipir ke Napi Lapas Pakem Yogya

CNN Indonesia
Senin, 01 Nov 2021 20:07 WIB
Kabag Humas dan Protokol Ditjen PAS Kemenkumham, Rika Aprianti memastikan bakal memberikan sanksi jika dugaan penyiksaan oleh sipir terbukti. Ilustrasi lapas. Kabar dugaan penyiksaan sipir kepada napi mencuat di Lapas Pakem, Yogyakarta. (Istockphoto/menonsstocks)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham memastikan tengah menyoroti dugaan penyiksaan hingga pelecehan oknum sipir terhadap para narapidana narkotika di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, Sleman.

Kabag Humas dan Protokol Ditjen PAS Kemenkumham, Rika Aprianti mengungkapkan pihaknya langsung turun ke lapangan untuk mengonfirmasi dugaan kesewenang-wenangan petugas Lapas sebagaimana kabar yang tersiar. Pihaknya memastikan bakal memberi tindakan tegas apabila ditemukan bukti-bukti pelanggaran.

"Semua hal yang terkait dengan tata laksana, kegiatan pembinaan, itu menjadi perhatian kita bersama. Tindakan tegas akan diberikan apabila terbukti ada pelanggaran. Kita tunggu pemeriksaan dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Yogyakarta melalui Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Yogyakarta," ujar Rika kepada CNNIndonesia.com melalui pesan suara, Senin (1/11).


Rika menjelaskan kasus dugaan penganiayaan seperti ini tidak bisa disimpulkan secara dini. Menurutnya, perlu ada pemeriksaan secara menyeluruh guna memastikan dugaan tersebut sebelum menjatuhkan putusan.

Ia menambahkan tujuan pemidanaan adalah memberikan pembinaan kepada setiap narapidana. Jika ada yang melakukan penyalahgunaan prosedur termasuk penyiksaan, tekan dia, sanksi tegas merupakan keniscayaan.

"Petugas sudah tahu konsekuensi itu," ungkapnya.

Sebelumnya, sebanyak 10 mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, Sleman, mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY terkait dugaan penyiksaan yang dilakukan oleh para oknum sipir di dalam Lapas.

Seorang eks narapidana, Vincentius Titih Gita Arupadatu (35), mengaku mengalami penyiksaan sejak hari pertama dipindah ke Lapas Pakem dari rutan tempat dulunya ia ditahan sambil menanti vonis. Dia mendekam di Lapas Pakem 26 April 2021 sampai 19 Oktober lalu.

Siksaan para oknum sipir itu mulai dari memaksa para warga binaan untuk jalan jongkok, berguling, serta koprol hingga dipukul memakai benda-benda layaknya kabel, kayu, torpedo sapi kering, potongan selang berisi cor-coran semen.

Vincent mengaku pernah menjadi saksi beberapa bentuk penyiksaan para sipir terhadap rekan sesama warga binaan yang menurutnya tak manusiawi. Dia berkisah suatu waktu ada narapidana dihukum berguling-guling sejauh kurang lebih 100 meter hanya karena tak memakai pakaian di dalam kamar sel.

Ia melanjutkan, para warga binaan di sana turut mengalami pelecehan seksual saat proses penggeledahan. Para narapidana ditelanjangi di gelanggang dan disiram air sambil disaksikan para petugas lapas.

Satu wujud penyiksaan lain yang sulit hilang dari benak Vincent dialami warga binaan lain yang baru saja mendarat ke lapas dari rutan. Narapidana yang tak ia kenali itu ketahuan sipir memasang manik-manik atau tasbih pada bagian penis.

"Ketahuan, itu dia suruh ngeluarin (secara paksa). Luka kan itu. Habis itu timun, dikeluarin bijinya dimasukin sambal. Maaf, terus suruh masturbasi dan setelah itu timunnya suruh makan. Itu benar-benar keterlaluan banget," tutur Vincent.

Anggara Adiyaksa, aktivis hukum yang ikut mendampingi pelaporan ke ORI menyebut ada setidaknya 35 mantan warga binaan yang mengaku menjadi korban dugaan penyiksaan di Lapas Narkotika Pakem.

"Yang berani (buka suara) 35 orang. Ada yang masih trauma juga," ucap Anggara.

(ryn/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER