Kesaksian Eks Napi Lapas Pakem: Disiksa Sipir, Dipaksa Masturbasi

CNN Indonesia
Senin, 01 Nov 2021 17:53 WIB
Sebanyak 10 mantan narapidana Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, Sleman mengadu soal dugaan penyiksaan keji yang dilakukan oleh para oknum sipir. Ilustrasi narapidana. Sebanyak 10 mantan narapidana Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, Sleman mengadu soal dugaan penyiksaan keji yang dilakukan oleh para oknum sipir. Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 10 mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, Sleman mengadu ke Ombdusman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY terkait dugaan penyiksaan yang dilakukan oleh para oknum sipir di dalam lapas.

Di depan Ketua ORI Perwakilan DIY Budhi Masturi, mereka membeberkan dugaan perilaku tak manusiawi yang dialamatkan kepada para mantan warga binaan tersebut.

Salah satu eks narapidana, Vincentius Titih Gita Arupadatu (35) mengaku mengalami penyiksaan sejak hari pertama dipindah ke Lapas Pakem dari rutan tempat dulunya ia ditahan sambil menanti vonis persidangan. Dia mendekam di Lapas Pakem 26 April 2021 sampai 19 Oktober lalu.


"Begitu saya masuk ke lapas, baru penyiksaan itu. Jadi saya dikirim (bersama) 12 orang. Itu sampai pada masuk ke kamar pada enggak bisa, sampai ngesot semua, enggak ada yang bisa jalan," kata Vincent di Kantor ORI DIY, Sleman, Senin (1/11).

Kondisi itu, kata Vincent, akibat siksaan para oknum sipir mulai dari memaksa para warga binaan untuk jalan jongkok, berguling, serta koprol, hingga dipukul memakai benda-benda layaknya kabel, kayu, torpedo sapi kering, potongan selang berisi cor-coran semen.

"Dipukul ke seluruh badan, sampai badan warnanya biru, hitam, merah semua. Itu selama 3 hari (pertama). Dan itu kita masuk sel masih dicari terus kesalahaannya," ungkapnya.

Kata Vincent, luka mereka juga tidak diobati. Malah para warga binaan diceburkan ke kolam lele sehingga luka-luka mereka berujung infeksi.

"Yang mengalami seperti itu ada puluhan orang," lanjut warga Kotagede, Yogyakarta itu.

Menurut Vincent, penyiksaan juga diberikan dalam bentuk sanksi atas pelanggaran peraturan dalam lapas yang sebenarnya juga tidak tertulis. Kata dia, setiap regu pengamanan (rupam) memiliki kebijakan masing-masing untuk mengatur warga binaannya.

"Tapi aturan itu sebenarnya juga enggak jelas. Jadi kaya setiap jam 10 (pagi) kita mendengar Indonesia Raya. Kita hormat, cuma mendengarkan tapi ada (warga binaan) yang mengumandangkan nah itu tahu-tahu ditarik, dipukuli, dimasukin ke sel kering selama dua bulan lebih," bebernya.

Berdasarkan kesaksian Vincent, perlakuan macam ini selain datang dari para oknum rupam, juga dilancarkan oleh oknum petugas Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) mulai dari pagi hingga malam. Dia menyebut penyiksaan demi penyiksaan ini dilakukan demi kesenangan atau hiburan para oknum tersebut.

Bahkan Vincent mengaku pernah jadi saksi beberapa bentuk penyiksaan para sipir terhadap rekan sesama warga binaan yang menurutnya tak manusiawi. Dia berkisah suatu waktu ada narapidana dihukum berguling-guling sejauh kurang lebih 100 meter hanya karena tak memakai pakaian di dalam kamar sel.

"Itu ngguling bolak-balik itu. Kan pusing itu muntah-muntah. Nah muntahan itu suruh ngambil pakai tangan, lalu disuruh makan sampai habis. Saya saksinya," tegasnya.

Satu wujud penyiksaan lain yang sulit hilang dari benak Vincent dialami warga binaan lain yang baru saja mendarat ke lapas dari rutan. Narapidana yang tak ia kenali itu ketahuan sipir memasang manik-manik atau tasbih pada bagian penis.

"Ketahuan, itu dia suruh ngeluarin (secara paksa). Luka kan itu. Habis itu timun, dikeluarin bijinya dimasukin sambal. Maaf, terus suruh masturbasi dan setelah itu timunnya suruh makan. Itu benar-benar keterlaluan banget," tutur Vincent.

Vincent melanjutkan, para warga binaan di sana turut mengalami pelecehan seksual saat proses penggeledahan. Para narapidana ditelanjangi di gelanggang dan disiram air sambil disaksikan para petugas lapas.

"Padahal kalau SOP saya pernah baca di lapas itu penggeledahan ada, tapi cuma disaksikan satu orang. Tapi kalau itu seluruh jajaran, ada ibu-ibu, ada petugas-petugas yang lain," sebutnya.

Selama mendekam di lapas tersebut, menurut Vincent, hak-hak para warga binaan tak pernah terpenuhi. Mulai dari memperoleh informasi, hak beribadah, hingga hak cuti bersyarat keluar lapas.

Berlanjut ke halaman berikutnya...

35 Mantan Napi Buka Suara, Masih Banyak yang Trauma

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER