Walhi Sebut Banjir Jabar Meningkat Imbas Izin Tambang dan Properti

CNN Indonesia
Selasa, 30 Nov 2021 09:37 WIB
Menurut Walhi keparahan bencana hidrometeorologi di Jawa Barat tak lepas dari mitigasi perubahan iklim yang kurang karena karena izin tambang dan properti. Ilustrasi. Pascabanjir bandang di Garut Jawa Barat. (ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut saat ini Jawa Barat (Jabar) sudah mengalami perubahan iklim yang sangat signifikan. Hal itu terbukti dari maraknya bencana alam, khususnya hidrometeorologi atau banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jabar.

"Penilaian dan hasil kajian kami penting sekali untuk disampaikan bahwa Jabar sudah terjadi perubahan iklim yang sangat signifikan," kata Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Jabar Wahyudin di CNNIndonesia TV, Senin (29/11).

Menurut Wahyudin, ada sejumlah faktor penyebab perubahan iklim di Jabar. Beberapa yang disorot adalah izin tambang dan izin bisnis properti yang mengubah penampang bumi atau tutupan vegetasi.


Wahyudin mengatakan izin tambang di Jabar itu semakin marak ketika perizinan saat ini diserahkan ke pusat melalui online single submission atau OSS.

"Karena ada sistem OSS, jadi setiap pemohon perizinan sangat mudah sekali memohon izin melalui mekanisme OSS, apalagi dengan beberapa kebijakan yang melonggarkan, ada misalnya UU Minerba, Omnibus Law, dan sebagainya," tutur dia.

Kemudian, faktor lainnya, menurut dia yakni izin bisnis properti yang sangat tinggi di Jabar. Menurutnya, hal ini sangat berdampak buruk terhadap keberlangsungan lingkungan.

Wahyudin juga menilai bahwa salah satu yang jadi penyebab perubahan iklim di Jabar yakni salah satunya proyek strategis nasional seperti kereta cepat Jakarta-Bandung serta pembangunan sejumlah jalan bebas hambatan.

"Beberapa hal tersebut tentu sangat mengubah bencana alam dan menyebabkan perubahan alih fungsi yang sangat signifikan, dengan banyaknya keluar izin-izin tambang dan sebagainya," tutur Wahyudin.

"Perubahan iklim ini jadi salah satu faktor utama selain tadi yang saya sampaikan beberapa faktor lain, salah satunya perubahan iklim ini yang menyebabkan intensitas hujan yang begitu tinggi," imbuhnya.

Di sisi lain, dengan keadaan seperti itu, upaya pemerintah, baik pusat maupun Pemprov Jabar tidak berbanding lurus dengan kerusakan yang terjadi.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar mencatat 57 banjir terjadi selama hampir dua pekan pada awal November 2021. Selain itu, dari data BPBD Jabar, ada sejumlah kabupaten/kota yang masuk dalam daerah rawan bencana alam di musim penghujan.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Cianjur, Garut, Sukabumi, dan Bogor. Kemudian, di wilayah pantai utara Jabar yaitu Cirebon, Karawang, dan Indramayu.

Berdasarkan data yang diakses dari Unit Data Informasi Pusdalops BPBD Jabar (Barata), bencana alam yang terjadi selama hampir dua pekan juga meliputi 220 kejadian tanah longsor, dan 77 angin puting beliung.

(dmi/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER