Said Aqil Tak Akan ke Israel, Yahya Staquf Singgung Kampanye Hitam
CNN Indonesia
Rabu, 08 Des 2021 17:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ketum PBNU Said Aqil Siraj (ketiga kiri depan) dan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (kedua kanan) akan bersaing di Muktamar NU Lampung. (dok. Istimewa/Panitia Muktamar NU)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) petahana Said Aqil Siroj menyatakan pihaknya tak akan mengakui atau datang ke Israel selama negara itu tak mengakui kemerdekaan Palestina.
Sementara itu, calon Ketua Umum lainnya, Yahya Cholil Staquf menyinggung adanya upaya kampanye hitam menjelang Muktamar NU lewat isu Israel.
"Dan saya menjaga netralitas sikap terhadap luar negeri. Atau sikap PBNU terhadap politik luar negeri. Selama Israel tak mengakui Palestina, maka PBNU menolak akui Israel. Apalagi sampai datang ke Israel," kata Said saat menggelar konferensi pers terkait kesediaannya menjadi calon Ketum PBNU di Muktamar NU di lampung, di Jakarta Pusat, Rabu (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkeinginan untuk terus berkontribusi mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah sambil berharap Israel bisa berdamai secara hakiki dengan Palestina.
"Kalau saling mengakui, ayo kita hormati perdamaian itu. Tapi yang betul-betul damai. Bukan politik, bukan diplomasi. Tapi betul-betul perdamaian," kata Said, yang juga menjabat Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia itu.
Lebih lanjut, Said juga berjanji akan menjaga NU dari gerakan keagamaan yang liberal dan radikal. Ia menjelaskan pemahaman liberal itu berupa sikap yang menjauhkan diri dari pesantren, ulama, dan kitab kuning.
"Saya akan jaga NU. NU harus berangkat dari kitab kuning, Islam berkeadaban, Islam berakhlak dan tetap dengan pesantren dan hormat menghormati dan taat pada ulama pesantren," ucap dia.
Pada kesempatan itu, Said juga menegaskan tak memiliki obsesi untuk maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada 2024 bila terpilih sebagai Ketum PBNU.
"Enggak ada obsesi seperti itu, tidak ada. Karena saya bukan maqom-nya. Bukan bidangnya lah sebagai pejabat politik," kata Said.
"Tidak ada obsesi untuk lebih naik lagi. Tidak ada sama sekali [kepikiran Capres]. Tidak ada," lanjutnya.
Diketahui, isu kedekatan dengan Israel sempat menjadi polemik saat mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan American Jewish Community (AJC) Global Forum, 2018.
Dalam acara itu, Yahya juga bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sejumlah kelompok keagamaan, terutama yang dekat dengan salah satu capres gagal di 2019, mencibir kunjungan itu.
Yahya Staquf Buka Suara soal Kampanye Hitam di halaman berikutnya...
Saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu (10/11), Yahya Staquf, yang lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai calon Ketum PBNU, mengakui ada serangan kampanye hitam jelang Mukmatar dengan mengusung isu kunjungannya ke Israel itu.
"Ada kampanye-kampanye hitam, tapi enggak gitu-gitu amatlah. Ada kampanye hitam soal Israel. Ini barang lama ini. Kalau di orang NU sudah, 'Hah?' gitu lho," kata Yahya dengan gestur heran dan tertawa.
Yahya menjelaskan saat itu ia hadir di Israel untuk memperjuangkan nasib Palestina. Ia berpendapat harus ada pihak yang membuka diri terhadap Israel demi menemukan solusi terbaik bagi Palestina.
"[Konflik Israel-Palestina] ini sudah lebih 70 tahun. Orang-orang melakukan semua yang bisa dilakukan, belum ada hasilnya. Kan kita harus explore hal-hal baru, cara-cara baru mencari jalan keluar," jelasnya, yang merupakan kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu.
Pasalnya, kata dia, warga Israel pun beragam tak melulu kaum yahudi. Ada pula kelompok Islam Arab atau pun pihak-pihak yang menginginkan perdamaian. Dari sisi itu lah ia hendak mencari solusi.
"Kalau sumbangan-sumbangan aja, donasi Palestina, selesai. Harus ada yang melakukan sesuatu," ucapnya.
Dia menyampaikan saat itu dunia sudah lupa dengan penderitaan Palestina. Ia pun bersyukur kunjungannya ke Yerusalem kembali menarik perhatian internasional terhadap konflik Palestina-Israel.
"Saya enggak tahu kebetulan atau (kunjungan ke Israel) jadi penyebab, bergulir lagi toh ini proses-proses perundingan tentang Israel-Palestina sampai lahir Abraham Accords," ucap Yahya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) petahana Said Aqil Siroj menyatakan pihaknya tak akan mengakui atau datang ke Israel selama negara itu tak mengakui kemerdekaan Palestina.
Sementara itu, calon Ketua Umum lainnya, Yahya Cholil Staquf menyinggung adanya upaya kampanye hitam menjelang Muktamar NU lewat isu Israel.
"Dan saya menjaga netralitas sikap terhadap luar negeri. Atau sikap PBNU terhadap politik luar negeri. Selama Israel tak mengakui Palestina, maka PBNU menolak akui Israel. Apalagi sampai datang ke Israel," kata Said saat menggelar konferensi pers terkait kesediaannya menjadi calon Ketum PBNU di Muktamar NU di lampung, di Jakarta Pusat, Rabu (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkeinginan untuk terus berkontribusi mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah sambil berharap Israel bisa berdamai secara hakiki dengan Palestina.
"Kalau saling mengakui, ayo kita hormati perdamaian itu. Tapi yang betul-betul damai. Bukan politik, bukan diplomasi. Tapi betul-betul perdamaian," kata Said, yang juga menjabat Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia itu.
Lebih lanjut, Said juga berjanji akan menjaga NU dari gerakan keagamaan yang liberal dan radikal. Ia menjelaskan pemahaman liberal itu berupa sikap yang menjauhkan diri dari pesantren, ulama, dan kitab kuning.
"Saya akan jaga NU. NU harus berangkat dari kitab kuning, Islam berkeadaban, Islam berakhlak dan tetap dengan pesantren dan hormat menghormati dan taat pada ulama pesantren," ucap dia.
Pada kesempatan itu, Said juga menegaskan tak memiliki obsesi untuk maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada 2024 bila terpilih sebagai Ketum PBNU.
"Enggak ada obsesi seperti itu, tidak ada. Karena saya bukan maqom-nya. Bukan bidangnya lah sebagai pejabat politik," kata Said.
"Tidak ada obsesi untuk lebih naik lagi. Tidak ada sama sekali [kepikiran Capres]. Tidak ada," lanjutnya.
Diketahui, isu kedekatan dengan Israel sempat menjadi polemik saat mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan American Jewish Community (AJC) Global Forum, 2018.
Dalam acara itu, Yahya juga bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sejumlah kelompok keagamaan, terutama yang dekat dengan salah satu capres gagal di 2019, mencibir kunjungan itu.
Yahya Staquf Buka Suara soal Kampanye Hitam di halaman berikutnya...
Yahya Staquf Cari 'Jalan Lain' Selesaikan Israel-Palestina
Konflik Israel dan Palestina jadi pusat titik panas di Timur Tengah. Indonesia sendiri tak memiliki hubungan diplomasi dengan Israel dengan alasan penjajahan Palestina. (Foto: AHMAD GHARABLI / AFP)
Saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu (10/11), Yahya Staquf, yang lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai calon Ketum PBNU, mengakui ada serangan kampanye hitam jelang Mukmatar dengan mengusung isu kunjungannya ke Israel itu.
"Ada kampanye-kampanye hitam, tapi enggak gitu-gitu amatlah. Ada kampanye hitam soal Israel. Ini barang lama ini. Kalau di orang NU sudah, 'Hah?' gitu lho," kata Yahya dengan gestur heran dan tertawa.
Yahya menjelaskan saat itu ia hadir di Israel untuk memperjuangkan nasib Palestina. Ia berpendapat harus ada pihak yang membuka diri terhadap Israel demi menemukan solusi terbaik bagi Palestina.
"[Konflik Israel-Palestina] ini sudah lebih 70 tahun. Orang-orang melakukan semua yang bisa dilakukan, belum ada hasilnya. Kan kita harus explore hal-hal baru, cara-cara baru mencari jalan keluar," jelasnya, yang merupakan kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu.
Pasalnya, kata dia, warga Israel pun beragam tak melulu kaum yahudi. Ada pula kelompok Islam Arab atau pun pihak-pihak yang menginginkan perdamaian. Dari sisi itu lah ia hendak mencari solusi.
"Kalau sumbangan-sumbangan aja, donasi Palestina, selesai. Harus ada yang melakukan sesuatu," ucapnya.
Dia menyampaikan saat itu dunia sudah lupa dengan penderitaan Palestina. Ia pun bersyukur kunjungannya ke Yerusalem kembali menarik perhatian internasional terhadap konflik Palestina-Israel.
"Saya enggak tahu kebetulan atau (kunjungan ke Israel) jadi penyebab, bergulir lagi toh ini proses-proses perundingan tentang Israel-Palestina sampai lahir Abraham Accords," ucap Yahya.