Yahya Staquf Jelaskan 'Kemesraan' Bertemu PM Israel Netanyahu

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Minggu, 24/06/2018 09:17 WIB
Yahya Staquf Jelaskan 'Kemesraan' Bertemu PM Israel Netanyahu Yahya Cholil Staquf jelaskan pertemuannya dengan PM Israel Netanyahu. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh Nadlatul Ulama (NU) Yahya Cholil Staquf menjelaskan pertemuan kontroversialnya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat berkunjung ke Israel. Yahya menjelaskan jika pertemuannya tersebut di luar rencananya.

"Saya sendiri tidak ajukan permintaan bertemu, tapi saya menerima. Sama seperti saat saya bertemu wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, saya tidak tahu siapa yang proses, tiba-tiba kami bertemu," kata Yahya dalam wawancara khusus dengan CNNIndonesia TV, Sabtu (23/6).


Yahya pun menjawab tudingan banyak pihak yang menilai jika dirinya terlihat mesra dengan Netanyahu. Menurut anggota dewan pertimbangan presiden (wantimpres) itu, dia hanya ingin menunjukkan sopan santun.


"Soal kemesraan sama lah. Kita juga tahu kan kalau pak Jokowi ketemu Prabowo mesra juga kelihatannya. Ini kan soal sopan santun pergaulan," kata Yahya.

[Gambas:Video CNN]

Katib Aam Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) mengaku menceritakan kecaman rakyat Indonesia terhadap kebrutalan Israel terhadap rakyat Palestina. Kepada Netanyahu, Yahya menjelaskan dalam konteks hubungan Indonesia-Israel, masyarakat Indonesia dalam keadaan yang secara emosional memiliki sentimen sangat negatif kepada Israel akibat insiden-insiden yang baru terjadi.

"Tentu dari pihak PM Israel melontarkan pembelaan ini itu, tapi menurut saya sih ini yang akan jadi diskusi yang tidak ada ujungnya," tutur Yahya.


Yahya lebih lanjut menjelaskan jika Netanyahu menginginkan ada normalisasi hubungan antara Indonesia dan Israel.

"Netanyahu saat itu membawa pembicaraan ke arah keinginan atau harapan untuk normalisasi hubungan Indonesia dan Israel," kata Yahya.

Menanggapi hal itu, Yahya menegaskan bahwa normalisasi relasi Israel-Indonesia akan sangat sulit tewujud jika masalah Palestina belum terselesaikan. Yahya menganggap penjajakan hubungan kedua negara baru bisa terjalin jika ada komitmen kredibel dan nyata dari Israel untuk mau berdamai dengan Palestina.

"Saya katakan, baru dari situ pemerintah Indonesia bisa bicara normalisasi hubungan [dengan Israel]. Selama masalah Palestina tidak ada jalan keluar, akan sangat sulit untuk memulihkan hubungan RI dan Israel," ungkap Yahya.


Yahya berharap perjuangan diplomatik tanpa kekerasan dikedepankan dalam konflik Israel-Palestina. Yahya juga mengungkit cara-cara diplomasi yang dilakukan Indonesia saat ingin merdeka melawan penjajah Belanda.

"Kemerdekaan satu negara itu tidak hanya klaim sepihak, ini soal legitimasi internasional. Ini butuh perjuangan diplomatik yang sabar yang tidak hanya mengedepankan kekerasan," kata Yahya.

Yahya berkunjung ke Israel selama empat hari mulai dari 10 sampai 14 Juni. Dia menegaskan lawatannya ke Israel bukan ditujukan untuk bertemu Netanyahu, tapi menghadiri undangan sebagai pembicara dalam forum global yang digelar oleh American Jewish Committee (AJC).

Selain tokoh-tokoh Yahudi, forum itu juga dihadiri oleh tokoh lintas agama dunia. Yahya mengatakan tujuan utama dia menghadiri forum itu adalah mendorong pendekatan orang per orang dalam menyelesaikan masalah Israel dan Palestina.

(DAL/DAL)