Usman Hamid Sentil Kapolri soal Aparat Rasis ke Pengungsi Afghanistan

CNN Indonesia
Kamis, 20 Jan 2022 12:19 WIB
Amnesty Internasional Indonesia merespons penanganan aksi unjuk rasa yang tidak pantas dilakukan terhadap pengungsi Afghanistan. Usman Hamid kritik kepolisian tangani pengungsi Afghanistan di Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amnesty Internasional Indonesia (AII) meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit memperluas peraturan kepolisian terkait penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi para pengungsi atau imigran yang singgah di Indonesia.

Desakan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif AII, Usman Hamid, merespons penanganan aksi unjuk rasa yang dilakukan pengungsi Afghanistan, pada Rabu (19/1) kemarin. Usman menilai, banyak perlakuan tidak pantas yang dilakukan kepolisian dalam menangani pengungsi tersebut.

"Saya kira itu perlu mendapat perhatian khusus dari Kapolri," ujarnya kepada wartawan di Kantor AII, Jakarta Pusat, Rabu (19/1).


"Saya sendiri tadi menyaksikan dan melihat, bagaimana menurut saya perilaku sejumlah aparat, rasanya tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang aparat penegak hukum," imbuhnya.

Usman menegaskan, kepolisian seharusnya tetap mengedepankan perspektif HAM dalam melakukan penindakan di lapangan. Terlepas dari kewarganegaraan, etnis, maupun agama tertentu.

Oleh sebab itu, ia menilai, penting bagi Kapolri untuk memperluas aturan kepolisian terkait penanganan imigran atau pengungsi dari luar negeri.

"Sehingga aparat kepolisian di tingkat lapangan juga bisa mendapatkan panduan, petunjuk, arahan yang lebih sesuai dengan hak asasi manusia," jelas Usman.

Polisi Bertindak Rasis

Di sisi lain, Usman juga menyoroti sejumlah pernyataan dari aparat yang seharusnya tidak dilontarkan kepada para pengungsi. Semisal, pernyataan-pernyataan untuk melarang pengungsi dengan dasar, 'ini bukan negara mereka'.

"Itu sebenarnya tidak pantas bahkan bisa dianggap sebagai tindakan yang rasis atau nasionalis yang berlebihan atau bahkan anti terhadap orang asing," ungkapnya.

Usman menegaskan, meski tidak memiliki status kewarganegaraan yang jelas, bukan berarti mereka bisa diperlakukan sewenang-wenang. Para pengungsi, kata dia, tetaplah manusia yang harus tetap dihargai.

Karenanya, ia mengecam keras dan tidak dapat dibenarkan segala tindakan kekerasan yang dilakukan aparat terhadap pengungsi Afghanistan.

"Misalnya, mendorong mereka secara paksa, atau apalagi sampai melakukan pemukulan atau melakukan tindakan kekerasan yang tidak perlu sebenarnya," tegasnya.

Dugaan pemukulan oleh aparat kepolisian tersebut diakui oleh salah satu koordinator aksi, Mohammad Ali. Ali mengaku mengaku dipukul oleh polisi ketika mencoba melakukan pertemuan dengan pihak AII.

"Keras sekali bukan seperti manusia, saya tadi dipukul didorong padahal kan saya mau masuk, tapi saya didorong," kata Ali kepada wartawan.

Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, sejumlah perwakilan pengungsi memang berusaha keluar bus. Namun sejumlah aparat kepolisian menghalangi mereka di pintu keluar bus. Adu mulut sempat terjadi dengan tensi yang meninggi.

Terpisah Kepala Bagian Operasional Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Saufi Salamun membantah pihaknya telah melakukan pemukulan terhadap massa aksi. Ia berdalih bahwa seluruh tindakan telah dilakukan secara terukur untuk pengamanan.

"Tidak ada kekerasan, semua profesional, anggota kami tahu tindakannya sudah jelas tidak ada kekerasan," kata Saufi.

"Cuman memang ada ketegasan, kan kalau tidak bisa diatur kita harus lakukan sesuatu. Semua anggota di Jakarta Pusat sudah tahu humanis dan soft approach," imbuhnya.

(tfq/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER