Deret Kontroversi Arteria: Kemenag Bangsat hingga Jaksa Bahasa Sunda
5. Cekcok dengan Wanita Kerabat Jenderal di Bandara
Arteria terlibat cekcok dengan seorang wanita yang mengaku kerabat jenderal bernama Anggiat Pasaribu di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada November 2021 silam.
Cekcok terjadi lantaran Arteria bersama ibundanya dinilai membawa barang terlalu banyak ke dalam bagasi kabin pesawat.
"Barang saya katanya banyak, mana banyak. Saya kan tiga orang, saya, tenaga ahli, sama ibu orangtua saya. Kami punya dua koper, yang satu peralatan punggungnya ibu, yang satu kamera, apa yang banyak?" ujar Arteria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arteria dan Anggiat pun sempat saling membuat laporan polisi di Polres Bandara Soetta.
Namun, permasalahan antara keduanya berakhir setelah Anggiat meminta maaf langsung kepada Arteria dengan mendatangi Kantor Fraksi PDIP DPR RI.
6. Minta Jaksa Agung Copot Kajati Bahasa Sunda
Arteria mengkritik oknum kajati yang menggunakan bahasa Sunda dalam sebuah rapat. Ia pun meminta Jaksa Agung mengambil tindakan tegas dengan memecat oknum Kepala Kejati tersebut.
Namun, Arteria tak menyebut oknum kepala Kejati dan momen rapat yang dimaksudkannya tersebut.
"Ada kritik sedikit, Pak JA (Jaksa Agung), ada Kajati Pak, yang dalam rapat dalam raker itu ngomong pake bahasa Sunda, ganti Pak itu," kata Arteria dalam rapat Komisi III DPR dengan Jaksa Agung di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/1).
Pernyataan ini pun mendapatkan kritik dari berbagai kalangan. Bahkan, Majelis Adat Sunda bersama perwakilan adat Minang dan sejumlah komunitas adat kasundaan sudah melaporkan Arteria ke Polda Jabar.
"Iya, kami hari ini melaporkan saudara Arteria Dahlan, anggota DPR RI yang telah menyatakan dalam berita yang viral di Youtube dan media sosial meminta mencopot kepala kejaksaan tinggi yang berbicara dalam rapat menggunakan bahasa Sunda," kata Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Kamis (20/1).
7. Parkir 5 Mobil dengan Pelat Nomor Sama di DPR
Arteria diketahui memarkir lima mobil mewah miliknya di parkiran Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Merek dari lima mobil mewah itu adalah Mitsubishi Grandis, Toyota Fortuner, Toyota Vellfire, Nissan X-Trail, dan Mitsubishi Pajero.
Anehnya, lima mobil mewah itu menggunakan pelat nomor kepolisian yang sama yakni 4196-07.
Arteria sudah buka suara soal ini. Arteria mengaku setiap mobil miliknya yang terparkir di sana memiliki pelat masing-masing. Namun, dia mengaku bakal kesulitan jika setiap mobil dipasangkan pelat permanen.
"Iya (kalau mau dipake) itu gue pakai pelat RF-nya dong, gue lepas (pelat dasar) pakai pelat RF-nya, bisa RF, bisa pelat DPR, bisa pelat aslinya. Masa 3-3 nya gue mau pakai? Ngerti nggak? Kalau itu pelat gue pake permanen kan susah. Gitu, gue bisa pake pelat mobil nomor aslinya, bisa pake pelat DPR, bisa pake pelat RF," ujar Arteria pada Rabu (19/1).
Ia juga berkata, mobil-mobil itu diparkir di DPR karena rumahnya sedang dalam tahap renovasi saat ini.
[Gambas:Video CNN]
Nama anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Arteria Dahlan, kembali menjadi sorotan publik pada pekan ini.
Hal itu terjadi setelah Arteria meminta Jaksa Agung, ST Burhanuddin, mencopot kepala kejaksaan tinggi (kajati) yang menggunakan bahasa Sunda saat berbicara dalam sebuah rapat.
Pernyataan Arteria itu pun memicu tanggapan miring dari kelompok sastra, kepala daerah di Jawa Barat yang notabene daerah asal Suku Sunda, hingga rekannya di DPR baik beda parpol maupun yang satu fraksi. Kekinian, pada Kamis (20/1), DPP PDIP memanggil Arteria untuk 'diceramahi'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di satu sisi, sorotan tajam publik terhadap tingkah atau pernyataan pedas yang keluar dari mulut Arteria bukan yang pertama kali terjadi saat ini.
Sebelumnya, anggota DPR periode 2019-2024 yang terpilih dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI itu sudah sering mendapatkan sorotan tajam publik karena berbagai macam pernyataan dan tingkah kontroversialnya.
Berikut beberapa pernyataan dan tingkah kontroversial pria kelahiran 7 Juli 1975 itu:
1. Minta Dipanggil Yang Terhormat
Arteria pernah memprotes Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tidak memanggil dirinya dengan sebutan 'Yang Terhormat' dalam sebuah rapat kerja antara Komisi III DPR dengan KPK pada 2017.
"Ini mohon maaf ya, saya kok enggak merasa ada suasana kebangsaan di sini. Sejak tadi saya tidak mendengar kelima pimpinan KPK memanggil anggota DPR dengan sebutan 'Yang Terhormat'," kata Arteria kala itu.
Menurutnya pimpinan KPK seharusnya memanggil anggota DPR dengan sebutan 'Yang Terhormat', seperti yang dilakukan Kapolri dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
2. Sebut Kemenag Bangsat
Arteria sempat menyebut Kementerian Agama (Kemenag) dengan sebutan bangsat. Pernyataan itu dilontarkan Arteria dalam sebuah rapat terkait kasus First Travel pada 2018 silam.
Saat itu, Arteria meminta Kejaksaan Agung tidak hanya menginventarisasi aset First Travel, tetapi juga aktif melacaknya karena itu berkaitan dengan kerugian yang diderita masyarakat.
"Saya satu komisi satu bulan sama [kasus First Travel] ini, Pak. Ini masalah dapil, Pak. Yang dicari jangan kayak tadi Bapak lakukan inventarisasi, pencegahannya, Pak. Ini Kementerian Agama bangsat, Pak, semuanya, Pak," tutur Arteria kepada Jaksa Agung HM Prasetyo ketika itu.
Menurut dia, kasus penipuan tersebut terjadi lantaran pengawasan Kemenag lemah.
Setelah dihujani kritikan, Arteria meminta maaf apabila pernyataannya menyinggung Kemenag. Arteria mengaku kesal lantaran salah satu pejabat Kemenag malah menyalahkan calon jemaah umrah yang gagal berangkat.
3. Sebut Profesor Emil Salim Sesat
Arteria menyebut ekonomi Emil Salim sesat pada 2019. Hal itu terjadi ketika Arteria dan Emil berdebat saat bersama-sama menjadi pembicara di acara Mata Najwa.
Arteria menyatakan pemikiran Emil sesat saat mengungkapkan sebuah argumen bahwa KPK menyampaikan laporan pertanggungjawaban setiap tahun.
"Tidak ada Prof. Prof, sesat nih," kata Arteria sambil menunjuk Emil ketika itu.
Setelah pernyataan itu menuai kritik dari publik, Arteria berdalih hanya menyampaikan kebenaran.
4. Sebut Penegak Hukum Tak Boleh Kena OTT
Arteria mengatakan bahwa aparat penegak hukum (APH) yang bertugas di Indonesia tak seharusnya menjadi objek operasi tangkap tangan (OTT) dalam kasus dugaan korupsi.
Ia menyampaikan pendapatnya itu saat mengikuti sebuah diskusi daring bertajuk 'Hukuman Mati bagi Koruptor, Terimplementasikah?' pada Kamis (18/11).
Dalam hal ini, aparat yang dirujuk Arteria adalah polisi, jaksa dan hakim.
"Bahkan ke depan di Komisi III, kita juga sedang juga menginisiasi. Saya pribadi, saya sangat meyakini yang namanya polisi, hakim, jaksa itu tidak boleh di-OTT. Bukan karena kita prokoruptor, karena mereka adalah simbol-simbol negara di bidang penegakan hukum," kata Arteria saat menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta diskusi.
Merespons pernyataan Arteria tersebut, Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai logika berpikir politikus PDIP itu bengkok.
Peneliti ICW, Kurnia Ramadhan mengatakan Arteria seakan tidak memahami arti siapapun sama di muka hukum. Pernyataan Arteria terkait adanya kegaduhan saat OTT juga dinilai sulit dipahami.
"ICW melihat ada yang bengkok dalam logika berpikir Arteria Dahlan terkait dengan OTT aparat penegak hukum. Selain bengkok, pernyataan anggota DPR RI fraksi PDIP itu juga tidak disertai argumentasi yang kuat," ujar Kurnia.
Baca halaman selanjutnya, cekcok Anggiat Pasaribu hingga Pelat Nomor Seragam
Ribut dengan Kerabat Jenderal dan Jaksa Bahasa Sunda
Anggiat Pasaribu (kiri) meminta maaf kepada Anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan (tengah) yang disaksikan Ibunda Arteria Dahlan, Wasniar (duduk kanan) saat melakukan mediasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/11/2021). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
5. Cekcok dengan Wanita Kerabat Jenderal di Bandara
Arteria terlibat cekcok dengan seorang wanita yang mengaku kerabat jenderal bernama Anggiat Pasaribu di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada November 2021 silam.
Cekcok terjadi lantaran Arteria bersama ibundanya dinilai membawa barang terlalu banyak ke dalam bagasi kabin pesawat.
"Barang saya katanya banyak, mana banyak. Saya kan tiga orang, saya, tenaga ahli, sama ibu orangtua saya. Kami punya dua koper, yang satu peralatan punggungnya ibu, yang satu kamera, apa yang banyak?" ujar Arteria.
Arteria dan Anggiat pun sempat saling membuat laporan polisi di Polres Bandara Soetta.
Namun, permasalahan antara keduanya berakhir setelah Anggiat meminta maaf langsung kepada Arteria dengan mendatangi Kantor Fraksi PDIP DPR RI.
6. Minta Jaksa Agung Copot Kajati Bahasa Sunda
Arteria mengkritik oknum kajati yang menggunakan bahasa Sunda dalam sebuah rapat. Ia pun meminta Jaksa Agung mengambil tindakan tegas dengan memecat oknum Kepala Kejati tersebut.
Namun, Arteria tak menyebut oknum kepala Kejati dan momen rapat yang dimaksudkannya tersebut.
"Ada kritik sedikit, Pak JA (Jaksa Agung), ada Kajati Pak, yang dalam rapat dalam raker itu ngomong pake bahasa Sunda, ganti Pak itu," kata Arteria dalam rapat Komisi III DPR dengan Jaksa Agung di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/1).
Pernyataan ini pun mendapatkan kritik dari berbagai kalangan. Bahkan, Majelis Adat Sunda bersama perwakilan adat Minang dan sejumlah komunitas adat kasundaan sudah melaporkan Arteria ke Polda Jabar.
"Iya, kami hari ini melaporkan saudara Arteria Dahlan, anggota DPR RI yang telah menyatakan dalam berita yang viral di Youtube dan media sosial meminta mencopot kepala kejaksaan tinggi yang berbicara dalam rapat menggunakan bahasa Sunda," kata Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Kamis (20/1).
7. Parkir 5 Mobil dengan Pelat Nomor Sama di DPR
Arteria diketahui memarkir lima mobil mewah miliknya di parkiran Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Merek dari lima mobil mewah itu adalah Mitsubishi Grandis, Toyota Fortuner, Toyota Vellfire, Nissan X-Trail, dan Mitsubishi Pajero.
Anehnya, lima mobil mewah itu menggunakan pelat nomor kepolisian yang sama yakni 4196-07.
Arteria sudah buka suara soal ini. Arteria mengaku setiap mobil miliknya yang terparkir di sana memiliki pelat masing-masing. Namun, dia mengaku bakal kesulitan jika setiap mobil dipasangkan pelat permanen.
"Iya (kalau mau dipake) itu gue pakai pelat RF-nya dong, gue lepas (pelat dasar) pakai pelat RF-nya, bisa RF, bisa pelat DPR, bisa pelat aslinya. Masa 3-3 nya gue mau pakai? Ngerti nggak? Kalau itu pelat gue pake permanen kan susah. Gitu, gue bisa pake pelat mobil nomor aslinya, bisa pake pelat DPR, bisa pake pelat RF," ujar Arteria pada Rabu (19/1).
Ia juga berkata, mobil-mobil itu diparkir di DPR karena rumahnya sedang dalam tahap renovasi saat ini.


