ANALISIS

Kasus Minyak Goreng dan Mafia yang Sulit Terungkap

CNN Indonesia
Jumat, 25 Mar 2022 09:53 WIB
Tiga bulan berlalu, kelangkaan minyak goreng masih terjadi. Selama itu pula polisi belum juga menetapkan tersangka mafia di baliknya. Minyak goreng sebanyak 24 ton ditimbun disebuah rumah di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Pengamat menyebut kasus minyak goreng menunjukkan kuasa mafia. (Foto: Arsip Polda Banten)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelangkaan minyak goreng di pelbagai wilayah Indonesia sudah berlangsung setidaknya selama tiga bulan. Namun selama itu pula pemerintah dan aparat kepolisian belum juga menemukan biang keladinya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi mengatakan setidaknya ada tiga tersangka mafia minyak goreng yang diduga menjadi biang kerok kenaikan harga serta kelangkaan barang pokok tersebut di pasaran.

Dalam agenda rapat dengar pendapat dengan anggota Komisi VI DPR pada Kamis pekan lalu, kata dia, polisi telah mengantongi nama-nama tersangka itu. Luthfi bahkan menjanjikan para mafia tersebut akan diumumkan oleh kepolisian pada Senin (21/3).

Kendati demikian hingga satu minggu berlalu, masih belum ada titik terang siapa sosok tersangka mafia minyak goreng yang dimaksud Luthfi tersebut.

Berbeda dengan pernyataan Mendag, Polri justru mengklaim penyebab kenaikan harga dan langkanya minyak goreng di pasaran lantaran banyaknya pedagang dadakan yang tidak mengikuti kebijakan pemerintah. Polisi juga mengaku tak menemukan praktik mafia selama proses pendalaman beberapa waktu terakhir.

"Yang ditemukan di lapangan cukup banyaknya pedagang dadakan, reseller dan pelaku usaha yang tidak mengikuti kebijakan pemerintah. Jadi sementara ini temuan kami lebih personal pelaku usaha, buka mafia minyak goreng," ujar Kasatgas Pangan Polri Irjen Helmy Santika, Rabu (23/3).

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai pernyataan kepolisian terkait nihilnya mafia minyak goreng di lapangan sebagai bentuk 'cuci tangan' aparat dalam kasus tersebut.

Sebab menurut Jamil, kelangkaan serta naiknya harga minyak goreng secara masif dalam tiga bulan terakhir, mustahil terjadi tanpa ada keterlibatan dan persekongkolan pemain besar di dalamnya.

"Jadi hanya ada satu kemungkinan kenapa mereka belum dapat diringkus. Mereka sangat kuat sehingga aparat hukum tak kuasa meringkusnya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/3).

Karenanya, Jamil mempertanyakan klaim kepolisian yang menihilkan kehadiran sosok mafia dan justru menyalahkan para pedagang dadakan atau spekulan sebagai biang kerok kenaikan serta kelangkaan minyak goreng di pasaran.

Pasalnya, berdasarkan data milik Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), pasar minyak goreng di Indonesia hanya dikuasai oleh lima perusahaan besar saja. Kondisi tersebut, kata dia, tak pelak menimbulkan monopoli pasar yang dapat berujung pada munculnya sosok mafia bisnis minyak goreng.

"Hal itu terjadi karena industri minyak goreng dimonopoli oleh lima perusahaan besar. Dengan adanya monopoli, tentu sangat terbuka munculnya mafia bisnis minyak goreng," tuturnya.

Lebih lanjut, Jamil mengatakan indikasi tersebut juga semakin menguat ketika pemerintah mencabut harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan dan mengganti penetapan HET sebesar Rp14 ribu per liter untuk minyak goreng curah.

Sebab, tidak berselang lama pasca kebijakan tersebut dikeluarkan pemerintah, pasokan minyak goreng kemasan langsung membanjiri pasar ritel dan tradisional. Sementara sebaliknya, stok minyak curah di pasaran justru menjadi kian langka di pelbagai daerah.

Karenanya, ia menilai kondisi tersebut tidak mungkin hanya disebabkan oleh maraknya pedagang dadakan yang tidak mengikuti kebijakan pemerintah seperti yang diklaim kepolisian. Menurutnya, kondisi tersebut hanya bisa diciptakan setelah ada persekongkolan besar, yang masif dan terstruktur dengan melibatkan banyak pihak.

"Hal itu tak mungkin terjadi tanpa adanya penumpukan minyak goreng dalam jumlah yang banyak. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh pemain besar yang menguasai distribusi minyak goreng." tegasnya.

"Jadi, melihat gejala tersebut tampaknya sulit untuk mengatakan tidak ada monopoli dan mafia minyak goreng. Mereka ini yang mengendalikan ada tidaknya minyak goreng di pasar," imbuh Jamil.

Infografis Kronologi Harga Minyak Goreng Mahal dan LangkaInfografis Kronologi Harga Minyak Goreng Mahal dan Langka. (CNN Indonesia/Basith Subastian)

Polisi Diminta Buka Data Kasus Minyak Goreng Langka

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER