Taring Padi Buka Suara soal Karya yang Dicopot dari Pameran di Jerman

Dika Kardi | CNN Indonesia
Jumat, 24 Jun 2022 15:47 WIB
Kelompok seni asal Yogyakarta, Taring Padi, menjelaskan makna sebenarnya dari karya yang dituding Antisemit dan dicopot dari pameran di Jerman. Ilustrasi. Salah satu karya seni Taring Padi yang dipamerkan saat pameran Documenta Fifteen di Kassel, Jerman, 18 Juni 2022. (REUTERS/WOLFGANG RATTAY)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Kelompok seni asal YogyakartaTaring Padi membantah karya instalasinya yang dipamerkan di Kassel, Jerman, mengandung unsur anti-Semitisme atau anti-Yahudi.

"Ini sama sekali tidak terkait dengan anti-Semitisme," demikian pernyataan Taring Padi yang diunggah melalui instagram-nya, Rabu (21/6) lalu.

Kendati demikian, Taring Padi tetap meminta maaf atas karya mereka yang bertajuk Keadilan Rakyat atau People's Justice (2002) tersebut telah memicu polemik di Jerman.


"Kami mohon maaf apabila detail spanduk ini disalahartikan selain dari maksud aslinya. Kami meminta maaf atas luka yang ditimbulkan dalam konteks ini," demikian sambungan pernyataan kelompok yang telah eksis sejak sekitar 1998an silam itu.

Taring Padi menegaskan karya yang dipamerkan di negara federasi tersebut sama sekali tak dimaksudkan untuk mengangkat isu anti-Semitisme. Melainkan, perlawanan terhadap rezim Presiden kedua RI, Soeharto. Diketahui, Soeharto yang berlatar belakang jenderal militer telah mencengkeram Indonesia selama 32 tahun dan terguling oleh reformasi pada 1998 silam.

"Pemasangan spanduk Keadilan Rakyat (2002) adalah bagian dari kampanye melawan militerisme dan kekerasan yang kita saksikan selama 32 tahun kediktatoran militer Suharto di Indonesia dan warisannya, yang terus berdampak hingga saat ini," tulisnya.

Taring Padi mengklaim semua tokoh yang tergambar pada karya Keadilan Rakyat ini mengacu pada simbolisme perpolitikan di Indonesia.

"Semisal, untuk pemerintahan yang korup, para jenderal militer dan tentara mereka, yang dilambangkan sebagai babi, anjing dan tikus untuk mengkritik sistem kapitalis yang eksploitatif dan kekerasan militer," demikian keterangan Taring Padi.

Taring Padi menerangkan, karya instalasi itu kali pertama dipajang di Festival Seni Australia Selatan di Adelaide pada 2002 silam. Sejak itu, spanduk itu ditampilkan di berbagai tempat dan konteks yang berbeda.

Dalam pernyataannya, Taring Padi yang merupakan kolektif seniman berkomitmen mendukung dan menghormati keberagaman. Karya mereka diklaim tak dibuat mengandung konten yang bertujuan untuk menggambarkan populasi mana pun secara negatif.

Karakter, tanda, karikatur, dan kosa kata visual lainnya dalam karya merupakan budaya yang secara khusus terkait dengan pengalaman Taring Padi sendiri. Sementara, lukisan Keadilan Rakyat yang berada di Friedrichsplatz adalah representasi pertama spanduk dalam konteks Eropa dan Jerman.

"Sebagai tanda hormat dan dengan sangat menyesal kami membukut karya terkait yang dianggap menyinggung dalam konteks khusus ini di Jerman," ujarnya.

"Karya tersebut kini menjadi monumen kesedihan atas ketidakmungkinan dialog pada saat itu. Kami berharap monumen ini sekarang dapat menjadi titik awal untuk dialog baru," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, karya instalasi kelompok seni asal Yogyakarta, Taring Padi, dicopot dari pameran seni kontemporer internasional bergengsi, Documenta Fifteen, di Kassel, Jerman, karena dituduh bernada anti-Semitisme atau anti-Yahudi.

Pencopotan karya Taring Padi bertema Keadilan Rakyat itu dilakukan menyusul kecaman dari pengunjung, masyarakat Eropa, hingga pemerintah Israel melalui kedutaan besarnya di Jerman.

Karya itu berupa lukisan mural bergambar sosok tentara dengan kepala babi yang mengenakan syal dengan gambar Star of David dan helm bertuliskan "Mossad" yang merupakan badan intelijen Israel.

Kiasan yang dinilai antisemit juga terlihat dalam karya Taring Padi lainnya yang bergambar sosok pria mengenakan topi hitam dengan lambang rahasia "SS" Nazi yang diasosiasikan dengan kaum Yahudi Ortodoks. Pria itu bertaring dan bermata merah.

Karya Taring Padi itu pun dengan cepat memicu perdebatan hingga protes dari warga Jerman yang memiliki sejarah kelam terkait gerakan anti-Yahudi. Protes dan kecaman terhadap karya seni Taring Padi itu pun kian meluas ketika pameran Documenta resmi dibuka pada Sabtu pekan lalu.

Baru dua hari dipamerkan, panitia pameran akhirnya menutup lukisan mural Taring Padi tersebut dan mencopotnya pada Senin pekan ini. Meski begitu, banyak pihak yang menilai langkah itu terlambat dan tidak cukup.

(kum/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER