Waketum PKB Jazilul Sepakat Kunci Jadi Presiden adalah Islam dan Jawa

CNN Indonesia
Kamis, 29 Sep 2022 20:56 WIB
Waketum PKB mengatakan kunci memenangi pilpres saat ini masih Islam dan Jawa, namun partai-partai berbasis Islam masih kesulitan meraup suara mayoritas. Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid menyebut kunci untuk memenangi pemilihan presiden (pilpres) di Indonesia saat ini adalah Islam dan Jawa.

Menurut Jazilul, kesimpulan tersebut dihitung berdasarkan suara pemeluk agama Islam di Indonesia yang saat ini mencapai 86 persen. Sedangkan, pemilih dari etnis Jawa mencapai sekitar 40 persen.

"Jika kita melihat pada pemilu presiden, maka kata kuncinya untuk menjadi pemenang atau menjadi presiden, kata kuncinya: satu Islam dan yang kedua Jawa," kata dia dalam diskusi di kanal YouTube ICMI, Kamis (29/9).

Meskipun demikian, Jazilul menilai partai-partai berbasis Islam saat ini tetap mengalami kesulitan untuk meraup suara mayoritas dalam pemilu. Pasalnya, kata dia, ideologi politik di Indonesia kini telah beralih ke politik pragmatisme atau politik transaksional.

Jazilul mengatakan kondisi itu kemudian dipersulit sebab mayoritas partai Islam seperti PKB, PAN, PPP, maupun PKS tak cukup memiliki modal atau ongkos politik.

Wakil Ketua MPR itu berpendapat bahwa partai-partai Islam tak cukup memiliki sumber ekonomi yang seperti pengusaha atau ekonom.

"Artinya kegagalan politik umat Islam dalam tanda kutip itu karena kegagalan umat Islam untuk masuk menjadi kekuatan ekonomi, kekuatan usaha," katanya.

Jazilul mengakui penurunan perolehan suara partai Islam di pemilu karena berhadapan dengan politik pragmatisme. Menurut dia, politik pragmatisme atau transaksional, melihat politik seperti pasar.

"Jadi partai politik itu seperti dunia pasar malam, semua ditransaksikan juga pada akhirnya, ideologinya menurun," kata Jazilul.

Sebagai informasi, terkait sulitnya orang luar Jawa jadi presiden pun pernah diungkap Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsa rPandjaitan. Dalam dialog dengan Rocky Gerung di saluran Youtube beberapa waktu lalu,Luhut mengatakan orang-orang dari luar Jawa harus sadar diri jika berpikiran untuk maju sebagai presiden dalam waktu dekat.

"Apa harus jadi presiden aja kau bisa mengabdi? Harus tahu diri juga lah, kalau kau bukan orang Jawa," ujar Luhut saat berbincang dengan Rocky yang dikutip dari akun youtube RGTV Channel, Rabu (21/9).

"Ini bicara antropologi. Kalau Anda bukan orang Jawa dan pemilihan langsung [terjadi] hari ini--saya enggak tahu 25 tahun lagi--udah lupain deh. Enggak usah kita memaksakan diri kita, sakit hati," lanjutnya.

Rocky kemudian mengamini pernyataan Luhut bahwa itulah fakta antropologi yang ada di Indonesia. Dia juga menilai keadaan tersebut menjadi salah satu aspek yang membatalkan ambisi orang luar Jawa menjadi presiden.

Luhut menimpali dengan mengatakan dirinya termasuk orang yang nyaris tak mungkin jadi Presiden karena keadaan tersebut. Menko Marves itu pun hanya dapat menerima situasi sehingga memilih menjauh dari keriuhan bursa calon presiden.

"Antropologi kita basisnya adalah ethnicity, dan faktualitas itu yang kadangkala membatalkan ambisi orang menjadi presiden," kata Rocky Gerung yang sebelumnya juga dikenal sebagai akademisi filsafat tersebut.

"Ya termasuk saya. Saya double minoritas. Sudah Batak, Kristen lagi. Jadi saya bilang sudah cukup itu, kita harus tahu," timpal Luhut.

(thr/kid)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER