ANALISIS

PR Calon Panglima TNI Yudo: Papua hingga Berjarak Jelang Pemilu 2024

CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 09:11 WIB
Jokowi resmi menunjuk KSAL Laksamana Yudo Margono sebagai calon Panglima TNI Andika Perkasa. Pekerjaan rumah besar banyak menanti Yudo. KSAL Yudo Margono diajukan Jokowi jadi calon Panglima TNI. (CNN Indonesia/Kadafi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masa jabatan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa bakal segera berakhir. Presiden Joko Widodo telah resmi menunjuk Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono sebagai calon Panglima TNI.

Yudo bakal menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai calon Panglima TNI di DPR pada Rabu (30/11) esok. DPR kemudian akan menggelar rapat paripurna pada Kamis (1/12) sebagai persetujuan penunjukan Yudo Margono.

Ada sejumlah pekerjaan rumah menanti Yudo jika resmi menggantikan Andika. Pengamat militer dan pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyoroti masa abdi Andika yang terbilang singkat juga bakal dialami Yudo.

Fahmi menyebut Yudo bakal pensiun pada November 2023. Atas dasar itu, ia menilai Yudo tak perlu harus merasa terbebani karena cukup menyesuaikan prioritas-prioritas dari pekerjaan-pekerjaan rumah yang ada, serta melanjutkan agenda-agenda yang sudah diawali Andika dan belum tuntas.

"Semisal dalam penanganan masalah Papua, pembangunan pertahanan Ibu Kota Negara (IKN), pemantapan interoperabilitas matra, maupun respons strategis atas potensi eskalasi di Utara dan Selatan perairan Indonesia," ujar Khairul kepada CNNIndonesia.com, Senin (28/11) malam.

Menurut Khairul, Indonesia membutuhkan sosok Panglima yang kuat secara manajerial dan kemampuan berfikir strategis, mampu membangun komunikasi sosial termasuk dalam kerangka diplomasi pertahanan.

Di balik itu, Khairul juga menilai RI butuh panglima TNI yang low profile, terutama dalam hal-hal yang bersifat politis.

Pasalnya Yudo masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan besar seperti isu dinamika lingkungan strategis, juga menyangkut pengembangan organisasi, soal moral, kompetensi dan kesejahteraan prajurit maupun modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista).

"Di sisi lain, juga harus tetap menjaga sinergitas dengan Polri dan lembaga-lembaga lain," kata Khairul.

Khairul pun menjabarkan lima tugas berat yang turut menanti Yudo yakni pemantapan interoperabilitas atau kordinasi matra melalui penguatan peran Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) seperti peremajaan dan modernisasi alutsista, termasuk soal pemeliharaan, penggunaan dan keselamatan pengguna.

Lalu, penyelesaian masalah-masalah kekerasan yang tidak patut oleh prajurit, baik di lingkungan TNI maupun di tengah masyarakat seperti pelibatan dan tugas perbantuan TNI dalam hal-hal yang kurang relevan dengan tugas pokoknya serta tidak memiliki alas hukum yang kuat.

"Misalnya, pengamanan gedung Mahkamah Agung (MA) yang tengah banyak dipersoalkan," sindir Khairul.

Selanjutnya, komitmen dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip netralitas TNI, HAM, demokrasi dan supremasi sipil. Termasuk, dalam hal pengawasan parlemen. Menurutnya, Indonesia tidak ingin terjadi lagi reaksi berlebihan atas kerja-kerja pengawasan DPR di kemudian hari.

Khairul juga menyinggung janji Andika Perkasa seraya memberikan pesan untuk Yudo.

"(Yudo) tidak boleh banyak janji atau prioritas. Nanti ditagih publik malah susah sendiri, waktunya kan terbatas," jelas Khairul.

Dihubungi terpisah, Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan Panglima baru mesti memiliki sejumlah kemampuan.

Tak hanya memahami cara pandang ke dalam organisasi, yakni melihat sejauh mana kekuatan dan kelemahan organisasi yang harus diperhitungkan sebelum konsep pemberdayaan pegawai dimulai.

Menurut orang yang akrab disapa Nuning, Panglima TNI baru juga mesti memahami lingkungan strategis secara Outward Looking, bukan saja Inward Looking.

"Ke depan kita harus siap memiliki Deterence Strategy (penangkalan) dalam hadapi perang. Bukan hanya perang Konvensional, tapi juga perang modern, perang nuklir, biologi dan kimia (nubika), dan perang siber," kata Nuning .

"Dari sudut pandang intelijen Badan Intelijen Strategis (BAIS), TNI juga harus meningkatkan sumber daya manusianya," tambah Nuning.

Upaya tersebut dilakukan guna meningkatkan kepiawaian dalam mencari informasi ancaman dari negara lain.

Adapun, Nuning berharap kepada Panglima TNI baru agar memberi atensi pada peremajaan alutsista dan peningkatan kesejahteraan prajurit, serta TNI bisa menjadi Tentara berkelas dunia (World Class Army) ke depannya.

Masalah Papua hingga Tantangan Jelang Pemilu 2024

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER