Poin-poin Kesaksian Bharada E soal Ferdy Sambo, Putri dan Brigadir J
Merasa Berdosa dan Dihantui Mimpi Buruk
Richard mengaku merasa berdosa karena menuruti perintah atasannya yaitu Ferdy Sambo untuk menghabisi nyawa Brigadir J. Richard juga mengaku sering mengalami mimpi buruk setidaknya selama tiga pekan usai Yosua tewas.
Ia mengaku merasa sangat bersalah. Rasa bersalah itu membuat dia pada akhirnya membongkar kasus pembunuhan tersebut, menepis skenario yang dibuat Sambo.
"Itu alasanmu mau menceritakan yang benar?" tanya hakim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, saya merasa tertekan, Yang Mulia. Beruntungnya pas saya dibawa [tim Polri] itu enggak ada komunikasi dengan FS lagi," terang Richard.
Tangis Wanita Misterius
Richard mengungkap sosok perempuan misterius yang pernah datang ke rumah Ferdy Sambo jauh sebelum Brigadir J tewas ditembak. Kala itu, perempuan misterius tersebut menangis dan lekas pergi dari rumah Sambo. Sebelum perempuan itu pergi, Sambo dan istrinya Putri Candrawathi terlihat marah.
Richard membeberkan itu ketika majelis hakim Wahyu Iman Santoso menanyakan hubungan antara Sambo dengan istrinya Putri Candrawathi, termasuk pertengkaran yang pernah terjadi. Richard mengaku tidak tahu pasti. Namun, ia bercerita pernah melihat raut wajah marah dari Sambo dan Putri pada Juni 2022.
Kuat Berbisik ke Putri
Richard menyebut Brigadir J sempat ingin membopong Putri Candrawathi saat di rumah Magelang, Jawa Tengah. Namun menurutnya hal tersebut tidak jadi dilakukan.
Richard mengatakan peristiwa itu terjadi pada 4 Juli 2022 malam. Saat ia tengah duduk santai, secara tiba-tiba Brigadir J memanggil dan memintanya untuk membantu mengangkat Putri yang kala itu sedang tidak enak badan.
Richard menjelaskan Brigadir J keluar dari ruang tengah kemudian memanggilnya. Asisten rumah tangga (ART) Susi dan Kuat juga berada di rumah tersebut.
Saat ia hendak mengangkat Putri, istri eks Kadiv Propam itu memberikan kode yang mengisyaratkan tidak ingin dibantu oleh Richard. Putri juga disebut menepis tangan Brigadir J. Pada momen itu, Richard melihat Kuat duduk di samping Putri, keduanya saling berbincang. Namun, ia tak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Kuat ngapain?" tanya hakim.
"Kuat ngobrol sama ibu. Kuat duduk di samping sempat bisik-bisik, saya enggak tahu," jawab Richard.
(khr/pmg)[Gambas:Video CNN]
Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E memberi kesaksian di sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (30/11).
Richard bersaksi untuk terdakwa Ricky Rizal atau Bripka RR dan Kuat Ma'ruf yang didakwa telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Yosua.
Dalam kasus ini, Richard juga berstatus terdakwa. Selain mereka, ada dua terdakwa lain yang turut diproses hukum yaitu Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat sejumlah pengakuan baru dari Richard yang ia sampaikan di persidangan, sebagaimana berikut:
Kedekatan Putri dan Brigadir J
Richard menyebut Putri Candrawathi dan almarhum Brigadir J mempunyai hubungan yang dekat. Richard mengatakan dirinya bersama Yosua dan Matheus ditugaskan menjaga kediaman keluarga eks Kadiv Propam Ferdy Sambo dan Putri di Jalan Saguling, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
"Kedekatan antara korban dengan PC seberapa dekat?" tanya ketua majelis hakim Wahyu Iman Santoso.
"Dekat Yang Mulia karena saya stand by di Saguling," ucap Richard.
"Keterangan kemarin kan, mengatakan PC dekat dengan semua ajudan. Artinya, [dia] suka bercanda, semuanya, saudara PC seperti itu?" lanjut hakim.
"Iya, Yang Mulia," imbuhnya.
Putri dan Sambo Pisah Rumah
Richard menyebut Ferdy Sambo sudah pisah rumah dengan istrinya, Putri. Richard menuturkan sejak dirinya bergabung menjadi ajudan Sambo pada November 2021, ia ditempatkan di rumah Saguling, Duren Tiga, Jakarta Selatan bersama empat ajudan lainnya.
Diketahui, Sambo memiliki tiga rumah yakni rumah dinas di Komplek Polri Duren Tiga, rumah Saguling, dan rumah Bangka.
Hakim pun meminta agar Richard menjelaskan perbedaan antara rumah Saguling dengan rumah Bangka. Menurutnya, kediaman di Bangka digunakan untuk menerima tamu dari luar dan tempat istirahat Sambo usai pulang dari kantor. Sementara itu, tak banyak orang tahu mengenai kediaman Saguling kecuali dari pihak internal.
Richard menyebut kebiasaan Sambo pisah rumah dengan Putri ia ketahui berdasarkan pengamatannya. Tak hanya dirinya, kebiasaan itu juga disebut diketahui oleh ajudan lain.
"Mengenai kebiasaan FS pisah rumah dengan saudara PC saudara ketahui sendiri atau berdasarkan perintah lain?" tanya hakim.
"Tahu sendiri karena saya piket," jawab Richard.
"Ajudan lain tahu?" tanya hakim lagi.
"Tahu semua," jawabnya.
Bohongi Kapolri soal Pembunuhan Yosua
Richard mengaku sempat membohongi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terkait kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
Richard berujar dirinya sempat dipanggil Listyo untuk menjelaskan kematian Yosua. Namun, saat menghadap Listyo, dia menceritakan kematian Yosua berdasarkan skenario yang telah disusun atasannya yakni eks Kadiv Propam Ferdy Sambo.
Skenario dimaksud di antaranya meliputi dugaan pelecehan seksual Yosua terhadap istri Sambo, Putri Candrawathi, di rumah Saguling hingga peristiwa tembak-menembak yang melibatkan Richard dan Yosua.
Tutup Mata, Tembak dari Jarak 2 Meter
Richard mengaku menembak Brigadir J dalam jarak dua meter. Mulanya Richard menceritakan situasi di rumah dinas Ferdy Sambo yang terletak di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan saat peristiwa penembakan.
Sambo disebut membentak Brigadir J dan meminta agar berlutut di hadapannya. Sementara Richard diperintah untuk segera melepaskan tembakan.
Kemudian, Hakim Ketua Iman Wahyu Santosa menanyakan seberapa jauh jarak Richard saat menembak Brigadir J. Ia mengaku melepaskan timah panas dalam jarak dua meter. Tembakan pertama ia lakukan dengan mata tertutup.
"Saudara menembak saudara Yosua jarak berapa meter?" tanya hakim.
"Sekitar dua meter, Yang Mulia," jawab Richard.
"Saya sempat tutup mata saat tembakan pertama," katanya.
Infografis Rute CCTV Tampilkan Brigadir J hingga Rumah Irjen Sambo. (CNN Indonesia/Basith Subastian) |
Mimpi Buruk hingga Tangis Wanita Misterius dalam Kesaksian Bharada E
Terdakwa dengan status Justice Collaburation (JC) Bharada E alias Richard Eliezer Tiba di PN Jakarta Selatan pada pukul 08:35 WIB dengan mobil tahanan dan pengawalan ketat dari petugas dan kejaksaan. Selasa (18/10/2022). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Merasa Berdosa dan Dihantui Mimpi Buruk
Richard mengaku merasa berdosa karena menuruti perintah atasannya yaitu Ferdy Sambo untuk menghabisi nyawa Brigadir J. Richard juga mengaku sering mengalami mimpi buruk setidaknya selama tiga pekan usai Yosua tewas.
Ia mengaku merasa sangat bersalah. Rasa bersalah itu membuat dia pada akhirnya membongkar kasus pembunuhan tersebut, menepis skenario yang dibuat Sambo.
"Itu alasanmu mau menceritakan yang benar?" tanya hakim.
"Iya, saya merasa tertekan, Yang Mulia. Beruntungnya pas saya dibawa [tim Polri] itu enggak ada komunikasi dengan FS lagi," terang Richard.
Tangis Wanita Misterius
Richard mengungkap sosok perempuan misterius yang pernah datang ke rumah Ferdy Sambo jauh sebelum Brigadir J tewas ditembak. Kala itu, perempuan misterius tersebut menangis dan lekas pergi dari rumah Sambo. Sebelum perempuan itu pergi, Sambo dan istrinya Putri Candrawathi terlihat marah.
Richard membeberkan itu ketika majelis hakim Wahyu Iman Santoso menanyakan hubungan antara Sambo dengan istrinya Putri Candrawathi, termasuk pertengkaran yang pernah terjadi. Richard mengaku tidak tahu pasti. Namun, ia bercerita pernah melihat raut wajah marah dari Sambo dan Putri pada Juni 2022.
Kuat Berbisik ke Putri
Richard menyebut Brigadir J sempat ingin membopong Putri Candrawathi saat di rumah Magelang, Jawa Tengah. Namun menurutnya hal tersebut tidak jadi dilakukan.
Richard mengatakan peristiwa itu terjadi pada 4 Juli 2022 malam. Saat ia tengah duduk santai, secara tiba-tiba Brigadir J memanggil dan memintanya untuk membantu mengangkat Putri yang kala itu sedang tidak enak badan.
Richard menjelaskan Brigadir J keluar dari ruang tengah kemudian memanggilnya. Asisten rumah tangga (ART) Susi dan Kuat juga berada di rumah tersebut.
Saat ia hendak mengangkat Putri, istri eks Kadiv Propam itu memberikan kode yang mengisyaratkan tidak ingin dibantu oleh Richard. Putri juga disebut menepis tangan Brigadir J. Pada momen itu, Richard melihat Kuat duduk di samping Putri, keduanya saling berbincang. Namun, ia tak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Kuat ngapain?" tanya hakim.
"Kuat ngobrol sama ibu. Kuat duduk di samping sempat bisik-bisik, saya enggak tahu," jawab Richard.




Infografis Rute CCTV Tampilkan Brigadir J hingga Rumah Irjen Sambo. (CNN Indonesia/Basith Subastian)