Cerita Murid Terobos Kegelapan Kupang NTT Demi Masuk Sekolah Pagi Buta
CNN Indonesia
Jumat, 03 Mar 2023 13:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Dua siswi SMA berjalan masuk sekolah di Kupang NTT pada Rabu dini hari Wita (1/3/2022). (Antara Foto/Kornelis Kaha)
Kupang, CNN Indonesia --
Nusa Tenggara Timur (NTT) jadi sorotan imbas kebijakan yang berawal dari permintaan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat agar murid-murid masuk sekolah mulai pagi buta.
Viktor menyatakan tidak akan mundur dari wacana tersebut lantaran menurutnya kebijakan itu merupakan salah satu upaya 'memperbaiki' SDM di NTT.
Belakangan dinas setempat mengevaluasi jam masuk sekolah dari pukul 05.00 jadi 05.30 Wita, dan baru diterapkan di sepuluh SMA/SMK negeri di Kupang--ibu kota provinsi NTT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai cerita diungkapkan para siswa Kupang yang duduk di bangku kelas XII SMA atas pemberlakuan jadwal masuk sekolah di pagi buta itu beberapa hari terakhir.
Mulai dari pergi sekolah di suasana gelap dengan rasa khawatir yang sangat tinggi hingga harus berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Beberapa siswa pun sangat keberatan dengan pemberlakuan jam masuk sekolah tersebut, dan hanya terpaksa mengikuti aturan tersebut.
Salah satu murid yang keberatan adalah Desi Dopong Tonung, siswa kelas XII jurusan IPA SMA Negeri 1 Kota Kupang. Ia mengaku bisa memafhumi pemerintah daerah ingin memajukan pendidikan di NTT dan mendorong anak-anak di bumi Flobamora itu bisa masuk perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.
Namun, dia menilai cara dengan memerintahkan para murid masuk di pagi buta itu tak tepat.
"Kalau untuk tujuannya sih setuju kalau untuk maksudnya membawa NTT masuk peringkat nasional di Indonesia, namun untuk pelaksanaan di jam 5.30 pagi sangat tidak setuju," kata Desi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/3).
Menurutnya jam masuk sekolah 5.30 yang lebih dulu dibandingkan matahari terbit itu sangat mengganggu aktivitas lain sebagai siswa juga sebagai anak yang masih tumbuh kembang. Ia mencontohkan jam istirahat, yang terpaksa harus bangun lebih awal untuk bersiap dan berangkat ke sekolah.
Belum lagi dengan masalah transportasi di pagi hari yang sangat susah saat akan berangkat ke sekolah.
"Itu kurang efektif, apalagi sebagai siswa di malam hari waktu tidur semua siswa sama di bawah jam 10 (malam). Karena bisa saja ada siswa yang memilik aktivitas malam hari seperti kegiatan di gereja dan lain-lain," tutur Desi.
Eureka Bary Blegur (16) berada di dalam Kelas XII IPA 2 SMAN 1 Kota Kupang saat masuk sekolah di pagi buta, Kamis (2/3). (CNNIndonesia/Elly)
Selain itu ada pula kegiatan lain di luar sekolah yang dilakukan sejumlah murid seperti dirinya. Desi mencontohkan dia dan beberapa temannya sedang mempersiapkan diri untuk Ujian Berbasis Komputer sehingga mereka mengikuti belajar daring di beberapa aplikasi.
Dan, sambungnya, aplikasi belajar daring tersebut ada fitur live class yang bisa dilakukan hingga larut hingga terkadang memaksa mereka baru bisa tidur di atas pukul 22.00 Wita bahkan sampai tengah malam.
"Jika sudah tidur di atas jam 12 (malam), lalu harus bangun pagi jam 4 mempersiapkan ini itu, itu sangat kurang efektif untuk otak kita menerima pelajaran di sekolah saat pagi," keluh Desi.
Minta ubah sistem pembelajaran, bukan jam masuk
Selain persoalan-persoalan di atas, ada pula permasalahan lain yakni kesempatan bagi murid untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah apabila masuk pagi buta. Desi--yang tinggal bersama kerabat untuk menuntut ilmu di Kupang-- mengaku selama dua hari terakhir penerapan masuk sekolah di pagi buta, dirinya tak sempat sarapan.
Oleh karena itu, dia mengusulkan agar jangan jadwal masuk sekolah yang dirubah tetapi yang harus dirubah adalah sistem pembelajaran di sekolah yang harusnya dirubah.
"Ada alternatif yang lebih baik, mungkin lebih meningkatkan mutu pembelajaran dan sekolahnya ketimbang harus diubah jam pembelajarannya," kata dara asal Sumba Timur itu.
Dua hari pelaksanaan masuk sekolah jam pagi buta, Desi pribadi sudah merasakan gangguan pada ritme kehidupannya. Tubuhnya sudah terlalu capek setelah pulang sekolah yang berlangsung sejak subuh.
"Sehingga waktu pulang itu sudah lelah dan langsung tidur," katanya.
Dan malam hari waktu mereka juga tersita untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang harus dikumpulkan pada keesokan harinya. Dia mengatakan tidak ada waktu lain selain mengerjakan tugas-tugas itu di malam hari.
Selain itu di sekolah pun konsentrasi terhadap pelajaran terganggu karena kantuk yang mengganggu imbas persiapan masuk di pagi buta.
"Kalau tadi masuk jam kedua itu sudah tidak tahan ngantuk lagi, karena sudah bangun dari jam 4 dan beraktivitas," kata Desi.
Selain itu kebijakan yang dikeluarkan Gubernur NTT untuk masuk sekolah pagi buta juga membuat murid seperti Desi harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar ojek.
"Sebelumnya kalau naik ojek online bayarnya tiga ribu hingga empat ribu tapi sejak kemarin (Rabu 1/3) harus membayar ojek online Rp. 12 ribu karena mungkin masih terlalu pagi dan belum ada kendaraan umum," kata Desi.
Dia pun merasa tidak aman jika harus berangkat di saat kondisi Kota Kupang masih sangat gelap.
Baca keluh kesah murid lain di halaman selanjutnya
Terpisah, murid XII SMAN 1 Kota Kupang, Eureka Gery Blegur mengaku selalu merasa was-was dalam dua hari saat keberangkatan ke sekolah di pagi buta.
Pasalnya, kondisi jalan yang masih sangat gelap apalagi beberapa waktu terakhir cuaca sangat tidak mendukung karena selalu hujan saat dini hari.
"Kalau takut pas, karena saya berangkat saat masih gelap dan takut kenapa-kenapa saja di jalan. Apalagi belum banyak aktivitas di jalan sehingga jalan sangat sepi," ujarnya.
Secara pribadi Eureka mendukung kebijakan pemerintah tersebut dengan ketentuan pemerintah menjamin mereka bisa lolos masuk perguruan tinggi terkenal di Indonesia.
"Kalau pemerintah bisa memberikan jaminan bagi kami maka saya akan mendukung penuh kebijakan ini, tapi kalau tidak bisa menjamin maka pasti kita sangat keberatan dan akan melakukan protes," kata Eureka.
Dia mengungkapkan mendukung kebijakan pemerintah masuk sekolah jam 05.30 karena sebelumnya dijanjikan bisa menjamin para siswa bisa masuk perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Meskipun demikian, perempuan berusia 16 itu berharap pemerintah juga memikirkan para siswa yang tidak memiliki kendaraan sendiri.
"Yang kasihan teman-teman yang tidak miliki kendaraan. Mereka akan kesulitan mendapatkan transportasi untuk berangkat ke sekolah terutama yang rumahnya agak jauh, apa mereka harus jalan kaki di suasana gelap, apa itu tidak menimbulkan kerawanan bagi mereka. Ini yang harus dipikirkan juga oleh pemerintah," tegas Eureka.
Selain itu, serupa Desi, dirinya pun melihat pemberlakuan masuk sekolah di pagi-pagi buta itu juga berpengaruh saat jam pelajaran.
"Biasanya kalau sudah jam 8 itu sudah mulai ngantuk dan tidak konsentrasi lagi menerima pelajaran," kata Eureka.
Bukan hanya para siswi, sejumlah orang tua/wali murid di Kupang pun memprotes pelaksanaan masuk sekolah pagi buta itu.
Belakangan sejumlah pemangku kepentingan dari perkumpulan guru di tingkat daerah hingga pusat, DPRD hingga DPR, dan pemerintah pusat melalui Kemendikbud dan Kemendagri pun terjun mengomentari pelaksanaan sekolah pagi buta di NTT.
Kemendagri bahkan menyatakan bakal menemui langsung Pemprov NTT untuk membicarakan soal masuk sekolah di pagi buta itu.
Kupang, CNN Indonesia --
Nusa Tenggara Timur (NTT) jadi sorotan imbas kebijakan yang berawal dari permintaan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat agar murid-murid masuk sekolah mulai pagi buta.
Viktor menyatakan tidak akan mundur dari wacana tersebut lantaran menurutnya kebijakan itu merupakan salah satu upaya 'memperbaiki' SDM di NTT.
Belakangan dinas setempat mengevaluasi jam masuk sekolah dari pukul 05.00 jadi 05.30 Wita, dan baru diterapkan di sepuluh SMA/SMK negeri di Kupang--ibu kota provinsi NTT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai cerita diungkapkan para siswa Kupang yang duduk di bangku kelas XII SMA atas pemberlakuan jadwal masuk sekolah di pagi buta itu beberapa hari terakhir.
Mulai dari pergi sekolah di suasana gelap dengan rasa khawatir yang sangat tinggi hingga harus berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Beberapa siswa pun sangat keberatan dengan pemberlakuan jam masuk sekolah tersebut, dan hanya terpaksa mengikuti aturan tersebut.
Salah satu murid yang keberatan adalah Desi Dopong Tonung, siswa kelas XII jurusan IPA SMA Negeri 1 Kota Kupang. Ia mengaku bisa memafhumi pemerintah daerah ingin memajukan pendidikan di NTT dan mendorong anak-anak di bumi Flobamora itu bisa masuk perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.
Namun, dia menilai cara dengan memerintahkan para murid masuk di pagi buta itu tak tepat.
"Kalau untuk tujuannya sih setuju kalau untuk maksudnya membawa NTT masuk peringkat nasional di Indonesia, namun untuk pelaksanaan di jam 5.30 pagi sangat tidak setuju," kata Desi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/3).
Menurutnya jam masuk sekolah 5.30 yang lebih dulu dibandingkan matahari terbit itu sangat mengganggu aktivitas lain sebagai siswa juga sebagai anak yang masih tumbuh kembang. Ia mencontohkan jam istirahat, yang terpaksa harus bangun lebih awal untuk bersiap dan berangkat ke sekolah.
Belum lagi dengan masalah transportasi di pagi hari yang sangat susah saat akan berangkat ke sekolah.
"Itu kurang efektif, apalagi sebagai siswa di malam hari waktu tidur semua siswa sama di bawah jam 10 (malam). Karena bisa saja ada siswa yang memilik aktivitas malam hari seperti kegiatan di gereja dan lain-lain," tutur Desi.
Eureka Bary Blegur (16) berada di dalam Kelas XII IPA 2 SMAN 1 Kota Kupang saat masuk sekolah di pagi buta, Kamis (2/3). (CNNIndonesia/Elly)
Selain itu ada pula kegiatan lain di luar sekolah yang dilakukan sejumlah murid seperti dirinya. Desi mencontohkan dia dan beberapa temannya sedang mempersiapkan diri untuk Ujian Berbasis Komputer sehingga mereka mengikuti belajar daring di beberapa aplikasi.
Dan, sambungnya, aplikasi belajar daring tersebut ada fitur live class yang bisa dilakukan hingga larut hingga terkadang memaksa mereka baru bisa tidur di atas pukul 22.00 Wita bahkan sampai tengah malam.
"Jika sudah tidur di atas jam 12 (malam), lalu harus bangun pagi jam 4 mempersiapkan ini itu, itu sangat kurang efektif untuk otak kita menerima pelajaran di sekolah saat pagi," keluh Desi.
Minta ubah sistem pembelajaran, bukan jam masuk
Selain persoalan-persoalan di atas, ada pula permasalahan lain yakni kesempatan bagi murid untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah apabila masuk pagi buta. Desi--yang tinggal bersama kerabat untuk menuntut ilmu di Kupang-- mengaku selama dua hari terakhir penerapan masuk sekolah di pagi buta, dirinya tak sempat sarapan.
Oleh karena itu, dia mengusulkan agar jangan jadwal masuk sekolah yang dirubah tetapi yang harus dirubah adalah sistem pembelajaran di sekolah yang harusnya dirubah.
"Ada alternatif yang lebih baik, mungkin lebih meningkatkan mutu pembelajaran dan sekolahnya ketimbang harus diubah jam pembelajarannya," kata dara asal Sumba Timur itu.
Dua hari pelaksanaan masuk sekolah jam pagi buta, Desi pribadi sudah merasakan gangguan pada ritme kehidupannya. Tubuhnya sudah terlalu capek setelah pulang sekolah yang berlangsung sejak subuh.
"Sehingga waktu pulang itu sudah lelah dan langsung tidur," katanya.
Dan malam hari waktu mereka juga tersita untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang harus dikumpulkan pada keesokan harinya. Dia mengatakan tidak ada waktu lain selain mengerjakan tugas-tugas itu di malam hari.
Selain itu di sekolah pun konsentrasi terhadap pelajaran terganggu karena kantuk yang mengganggu imbas persiapan masuk di pagi buta.
"Kalau tadi masuk jam kedua itu sudah tidak tahan ngantuk lagi, karena sudah bangun dari jam 4 dan beraktivitas," kata Desi.
Selain itu kebijakan yang dikeluarkan Gubernur NTT untuk masuk sekolah pagi buta juga membuat murid seperti Desi harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar ojek.
"Sebelumnya kalau naik ojek online bayarnya tiga ribu hingga empat ribu tapi sejak kemarin (Rabu 1/3) harus membayar ojek online Rp. 12 ribu karena mungkin masih terlalu pagi dan belum ada kendaraan umum," kata Desi.
Dia pun merasa tidak aman jika harus berangkat di saat kondisi Kota Kupang masih sangat gelap.
Baca keluh kesah murid lain di halaman selanjutnya
Antara Ketakutan dan Iming-iming Masuk PTN Favorit
Sejumlah siswa di Kupang bersiap masuk sekolah saat pagi masih buta. (Antara Foto/Kornelis Kaha)
Terpisah, murid XII SMAN 1 Kota Kupang, Eureka Gery Blegur mengaku selalu merasa was-was dalam dua hari saat keberangkatan ke sekolah di pagi buta.
Pasalnya, kondisi jalan yang masih sangat gelap apalagi beberapa waktu terakhir cuaca sangat tidak mendukung karena selalu hujan saat dini hari.
"Kalau takut pas, karena saya berangkat saat masih gelap dan takut kenapa-kenapa saja di jalan. Apalagi belum banyak aktivitas di jalan sehingga jalan sangat sepi," ujarnya.
Secara pribadi Eureka mendukung kebijakan pemerintah tersebut dengan ketentuan pemerintah menjamin mereka bisa lolos masuk perguruan tinggi terkenal di Indonesia.
"Kalau pemerintah bisa memberikan jaminan bagi kami maka saya akan mendukung penuh kebijakan ini, tapi kalau tidak bisa menjamin maka pasti kita sangat keberatan dan akan melakukan protes," kata Eureka.
Dia mengungkapkan mendukung kebijakan pemerintah masuk sekolah jam 05.30 karena sebelumnya dijanjikan bisa menjamin para siswa bisa masuk perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Meskipun demikian, perempuan berusia 16 itu berharap pemerintah juga memikirkan para siswa yang tidak memiliki kendaraan sendiri.
"Yang kasihan teman-teman yang tidak miliki kendaraan. Mereka akan kesulitan mendapatkan transportasi untuk berangkat ke sekolah terutama yang rumahnya agak jauh, apa mereka harus jalan kaki di suasana gelap, apa itu tidak menimbulkan kerawanan bagi mereka. Ini yang harus dipikirkan juga oleh pemerintah," tegas Eureka.
Selain itu, serupa Desi, dirinya pun melihat pemberlakuan masuk sekolah di pagi-pagi buta itu juga berpengaruh saat jam pelajaran.
"Biasanya kalau sudah jam 8 itu sudah mulai ngantuk dan tidak konsentrasi lagi menerima pelajaran," kata Eureka.
Bukan hanya para siswi, sejumlah orang tua/wali murid di Kupang pun memprotes pelaksanaan masuk sekolah pagi buta itu.
Belakangan sejumlah pemangku kepentingan dari perkumpulan guru di tingkat daerah hingga pusat, DPRD hingga DPR, dan pemerintah pusat melalui Kemendikbud dan Kemendagri pun terjun mengomentari pelaksanaan sekolah pagi buta di NTT.
Kemendagri bahkan menyatakan bakal menemui langsung Pemprov NTT untuk membicarakan soal masuk sekolah di pagi buta itu.