Toko Buku Blok M, Oase Literasi di Pusat Skena Jakarta

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 11:00 WIB
Dugaan Kasus Gratifikasi, Eks Bupati Purwakarta Penuhi Panggilan Kejari
Foto: CNN Indonesia/Muhammad Naufal

Mengenakan bucket hat hijau, Jimmy dengan ramah menyapa setiap pengunjung. Ia kerap menyapa mereka dengan sebutan 'Saudara ku' atau 'Abang ku'.

Buku Ronggeng Dukuh Paruk, Laut Bercerita, hingga 1984 tertata rapi di lapaknya. Siap dijemput tuan baru yang akan membacanya.

Sejak Pandemi Covid-19, Jimmy mulai menjajakan buku di Lantai Dasar Blok M Square. Sehari-hari, Jimmy bertemu dengan berbagai orang dari berbagai lapisan usia pula yang haus akan ilmu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jimmy menceritakan awal mula ia menjajakan buku di Blok M bersamaan dengan lapaknya yang berpindah dari Kwitang.

"Nerusin bisnis abang [kakak] dulu di Kwitang dari 2006, habis Covid kita gas di Blok M," kata Jimmy.

Dari seluruh penjual buku di Blok M, bahkan di Jakarta, Jimmy berkeyakinan hampir seluruhnya merupakan pindahan dari Kwitang, ia menyebutnya dengan sebutan 'eks-Kwitang'.

Mendengar Pasar Buku Kwitang, ingatan kita tak lepas dari adegan film Ada Apa Dengan Cinta (2002) saat Rangga membawa Cinta ke Pak Limbong, penjual buku langganannya di Kwitang. Sebelum Blok M, Pasar Buku Kwitang di seberang Pasar Senen memang cukup melegenda sebagai sentra penjualan buku yang sudah eksis sejak 1980-an.

Kembali ke Jimmy, kesehariannya yang bertemu dengan banyak pencari buku membuatnya sedikit banyak paham buku apa yang tengah banyak diburu orang hari ini.

Buku-buku sosial politik, menurutnya tengah mendapatkan singgasananya kembali hari ini.

"Banyaknya sih cari buku yang relevan sama kondisi kita hari ini," kata dia.

Tetapi buku sastra, juga tak kalah laris. Jimmy menganggap, mungkin sastra menjadi hiburan bagi pembaca yang sudah dibuat letih akan rutinitas harian.

Jika minat baca di Indonesia dianggap rendah, Jimmy jadi salah satu orang yang menampik.

"Hampir setiap hari mejajakan buku, membuat Jimmy mencapai pada satu kesimpulan: "Kayaknya kita sudah memasuki puncak-puncaknya [tingkat] literasi," kata Jimmy.

Jimmy mengakui hal itu juga tak lepas dari perkembangan zaman dewasa ini yang juga tak hanya melahirkan sisi negatif, tapi bergerak ke arah yang positif.

Fenomena fear of missing out (FOMO) membaca buku juga terjadi hari ini. Namun, Jimmy mengatakan FOMO kali ini justru membawa dampak positif.

Kehadiran dan menjamurnya pembuat konten (content creator) di media sosial, khususnya yang membahas buku membuat budaya membaca mulai mendapatkan kembali tempatnya.

"Awalnya anak-anak ini enggak tahu buku tersebut, dibahas isinya. Jadi anak-anak ini tuh abang akuin minat bacanya lagi tinggi-tingginya," ujarnya.

Pernyataan Jimmy ternyata sejalan dengan realita, hasil riset terbaru lembaga survei Jakpat mencatat Gen Z jadi kelompok usia dengan minat baca buku tertinggi di Indonesia pada semester kedua 2025.

Dalam hal minat baca, Gen Z unggul dari Generasi Milenial dan Gen X. Survei Jakpat menunjukkan persentase aktivitas membaca Gen Z menyentuh angka 26 persen. Survei ini melibatkan 2.240 responden se-Indonesia.

Temuan itu seakan membawa secercah harapan sekaligus anomali positif di tengah makin bertumbuhnya sektor digital. Di tambah, di satu sisi hiburan digital seperti penggunaan medsos mulai dari YouTube, Instagram, hingga TikTok turun 9 persen ke angka 83 persen.


Belum lagi penurunan pada platform streaming video (OTT) seperti Netflix dan Vidio yang menurun drastis dari 48 persen ke 14 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Selain survei, kunjungan ke perpustakaan juga bisa jadi salah satu indikator terhadap minat baca masyarakat. Data pengunjung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup menjanjikan. Sepanjang 2024, pengunjung Perpusnas berada di angka 9.492 orang. Angka itu meningkat menjadi 13.835 pada 2025.

Tren juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan menjelang semester pertama 2026. Selama tahun berjalan 2026 hingga Mei lalu, pengunjung Perpusnas sudah mencapai 7.704 orang, dengan pengunjung tertinggi pada Januari 2026 yang mencapai 2.096 orang.

Pembaca buku tak akan mencuri

Seiring bertumbuhnya minat baca di Indonesia, Jimmy selalu membawa harapan agar minat itu terus bertumbuh subur sekaligus berharap usaha lapak buku sepertinya bisa bertahan.

Lapak Jimmy buka mengikuti jam buka Blok M Square, waktu menunjukkan sekitar Pukul 21.00 WIB, pun tiba saatnya Jimmy berbenah, merapikan dagangannya dan kembali ke rumah.

Tapi menutup toko yang dilakukan Jimmy tidak sama dengan membayangkan menutup toko pada umumnya menggunakan berbagai gembok dan aspek keamanan lainnya. Jimmy, hanya menutup lapaknya dengan terpal.

Alasannya cukup filosofis, karena Jimmy percaya kalau pencuri tak membaca buku, dan pembaca buku takkan mencuri.

"Walau kenyataannya kadang meleset juga," kata Jimmy seraya tertawa kecil.

Jimmy beberapa kali mengalami kehilangan buku dagangannya. Namun, kejadiannya bukan di saat lapaknya sudah tutup. Tapi saat pengunjung tengah ramai dan mungkin Jimmy sedang lengah.

"Beberapa kali dua buku, tapi setelahnya abang serahkan aja ke pihak berwenang," ucap dia.

(mnf/ugo) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2