BPBD Yogyakarta Ingatkan Risiko ISPA hingga Heat Stroke

CNN Indonesia
Minggu, 12 Jul 2026 05:00 WIB
Warga menunggangi kuda saat melintasi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (27/7/2025). BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat fenomena bediding atau suhu dingin terjadi akibat aktifnya angin mo
Ilustrasi. Fenomena bedding saat kemarau. (ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan suhu akibat fenomena El Nino pada musim kemarau 2026.

Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Yogyakarta Iswari Mahendrarko mengatakan langkah tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dari biasanya akibat pengaruh El Nino.

"BPBD meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan serta mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat," kata Iswari di Yogyakarta, Sabtu (11/7) mengutip Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran, BPBD juga mengimbau masyarakat mewaspadai fenomena bediding, yakni kondisi cuaca yang ditandai suhu udara dingin pada malam hingga pagi hari, tetapi berubah menjadi panas pada siang hari.

Menurut Iswari, fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau. Kondisi ini dipicu berkurangnya tutupan awan sehingga panas matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi pada siang hari.

Sebaliknya, saat malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer sehingga suhu udara menjadi lebih rendah.

"Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu cukup ekstrem. Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius," ujarnya.

Ia mengingatkan perubahan suhu yang cukup tajam tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Udara yang kering dan berdebu dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, hingga menurunkan daya tahan tubuh.

Di sisi lain, suhu yang tinggi pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Vegetasi yang mengering, suhu udara yang tinggi, serta hembusan angin kencang membuat api lebih mudah membesar apabila dipicu oleh kelalaian.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran," kata Iswari.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]