Kemenkes: Ada 50.891 Kasus ISPA Imbas Asap Karhutla Juli-Agustus 2026

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 20:59 WIB
Sejumlah anak melihat kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama Juli hingga Agustus 2026.

Hal ini disampaikan Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni dalam konferensi pers secara daring, Jakarta, Selasa (1/9).

"Sejak kami pantau, terutama bulan Juli dan Agustus setelah ada potensi terjadinya peningkatan asap kebakaran dari pada karhutla ini, itu terkumpul total kumulatif kasus ISPA sejak bulan Juli, Agustus, itu sebanyak 50.891 kasus," kata Andi.

Angka ini terdiri dari 38.291 kasus pada usia lebih dari 5 tahun dan 12.600 kasus pada usia 0-5 tahun.

Lebih lanjut, Kemenkes melalui sistem surveilans situasi khususnya mencatat sebanyak 451 kasus ISPA dilaporkan pada Senin (31/8).

Andi menjelaskan peningkatan kasus ISPA ini tidak hanya terjadi di provinsi tertentu yang memiliki Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tinggi, melainkan juga di wilayah sekitarnya.

Contohnya, kata dia, adalah di Kalimantan Utara. Ia menyebut di wilayah provinsi itu memang nyaris tidak adanya kasus karhutla di wilayah tersebut, namun peningkatan kasus ISPA tetap terjadi.

"Kenapa Kalimantan Utara itu juga bisa peningkatan kasus karena memang asap ini kan bertiup ya ke provinsi sebelahnya begitu sehingga menimbulkan resiko atau kejadian dari pada penyakit ISPA ini," lanjutnya.

Hingga saat ini, Kemenkes mencatat sebanyak 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak oleh fenomena ini.

Untuk mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes menjalankan upaya promotif, preventif, dan persiapan layanan kesehatan.

"Paling utama adalah pemantauan lapangan di lokasi terdampak karhutla termasuk pembagian masker, pengecekan kesediaan obat-obatan terutama itu juga, jadi kalau asma tentunya ada obat asma di puskesmas, di rumah sakit harus tersedia dan lain sebagainya, dan juga oksigen di fasilitas pelayanan kesehatan," jelas Andi.

(mou/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK