PERJUANGAN KATALONIA

Jalan Panjang Perjuangan Referendum Katalonia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 23/10/2014 14:24 WIB
Persaiangan Real Madrid dan Barcelona bukan hanya tataran wilayah dan klub sepak bola. Dalam persaingan itu juga terdapat gesekan politik, sejarah, dan budaya. Pendukung Barcelona mengibar-kibarkan bendera klub yang dipadukan dengan motif bendera Catalan--garis merah dan oranye. (Getty Images/Denis Doyle)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persaingan Real Madrid dan Barcelona FC bukan hanya terkait gesekan antar klub sepak bola.

Dalam persaingan itu juga terdapat gesekan politik, sejarah, dan budaya antara masyarakat Katalonia dan kerajaan Spanyol. Klub Barcelona pun menjadi salah satu simbol perlawanan Katalonia sejak pertama kali didirikan pada 1899.

Masyarakat Katalonia sedang berupaya melakukan referendum untuk memutuskan ujung akhir dari perjuangan kemerdekaan atas Spanyol yang sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu.


Berikut adalah pertanyaan dan jawaban seputar Katalonia dan Spanyol:

1. Apa itu Katalonia?

Katalonia adalah sebuah kawasan otonom di wilayah timur laut Spanyol yang terdiri dari daerah Barcelona sebagai ibu kota, Girona, Lleida, dan Tarragona. Layaknya sebuah negara, Katalonia dipimpin oleh seorang presiden, parlemen, serta perundangan sendiri.

Hingga 2013, kawasan Katalonia dihuni lebih dari tujuh juta penduduk dalam 232 kilometer persegi.

Pendapatan daerah yang memiliki bahasa asli Catalan itu sekitar 203.615 juta euro  atau (sekitar Rp3225,10 triliun). Sementara itu penghasilan per kapita penduduknya mencapai 27.698 euro (Rp438,7 juta). Jumlah itu di atas batas Uni Eropa yaitu 25 ribu euro.

2. Mengapa Bertentangan dengan Spanyol?

Katalonia memiliki sejarah lebih panjang dibandingkan Spanyol, karena sudah ada sejak abad ke-6 hingga ke-9 sebelum masehi (SM) di bawah pemerintahan Romawi.

Katalonia pernah menjadi sebuah kerajaan maritim yang kuat pada abad ke-12. Bangsa Catalan saat itu menguasai sebagian wilayah Mediterania yaitu Sardinia, Italia Selatan, Sisilia, hingga Athena.

Kawasan itu jatuh ke tangan Raja Philip V yang menjadi tanda kelahiran Spanyol. Kawasan itu sempat merdeka karena campur tangan penguasa Perancis Napoleon Bonaparte pada 1810. Namun, kemerdekaan yang diberi itu hanya bertahan dua tahun. Katalonia pun jatuh lagi ke Spanyol.

Tekanan terhadap Katalonia semakin keras ketika jenderal diktator Fransisco Franco menguasai Spanyol selama 40 tahun sejak 1935.

Selama masa itu, tidak ada hak demokrasi dan asasi untuk masyarakat Catalan, larangan penggunaan bahasa, simbol, dan lagu Catalan di tempat publik, sekolah, dan buku. Terhitung sudah lebih dari 200 ribu warga Catalan yang tewas oleh tangan dingin Franco.

Sejak Franco jatuh, Katalonia berusaha melepaskan diri dari Spanyol termasuk lewat Referendum yang semula direncanakan digelar pada 9 November nanti. Namun, pelaksanaan referendum itu ditunda.

Pihak Katalonia beralasan keinginan untuk merdeka karena Pemerintah Spanyol tidak memasukkan keterwakilan Katalonia baik dalam pemerintahan maupun sosial.

Sistem pendidikan yang tidak menyertakan bahasa Katalonia, dan pengajuan fiskal oleh pemerintah Katalonia yang ditolak oleh Spanyol menjadi isu hangat dalam rapuhnya hubungan Katalonia dengan Spanyol.

3. Posisi Barcelona di Katalonia?

Barcelona adalah pusat ibu kota Katalonia sejak abad ke-9 SM. Kota itu merupakan pusat politik, ekonomi, pendidikan, olahraga dan kebudayaan hingga kini.

Barcelona adalah kota terbesar kedua di Spanyol dengan populasi mencapai 1,6 juta jiwa. Barcelona adalah kota pelabuhan yang penting bagi Spanyol dan Eropa karena berada di tepi Laut Mediterania.

Pelabuhan Barcelona sanggup menampung transit lebih dari 41,487 ribu tons dan menjadi pelabuhan tersibuk di Eropa dan keempat terbesar di dunia.

Kota yang pernah menjadi inspirasi lagu penyanyi Faris RM ini juga merupakan salah satu kota di luar ibu kota negara dengan jumlah konsulat negara terbanyak di dunia yaitu mendekati 100 konsulat.

4. Apa yang Akan Terjadi bila mereka Referendum?

Usaha Referendum yang dilakukan baik oleh Parlemen, Pemerintah, dan Masyarakat Katalonia memang dapat dikatakan tidak kenal menyerah.

Pada 11 September 2012, sebanyak 1,5 juta penduduk Katalonia berunjuk rasa dengan meneriakkan slogan "Katalonia: Negara Baru di Eropa".

Penolakan perjanjian fiskal oleh PM Spanyol Mariano Rajoy pada 20 September 2012, memicu 80 persen anggota parlemen Katalonia setuju Katalonia menentukan nasibnya sendiri.

Semula rakyat Katalonia akan melakukan referendum Katalonia tetap menjadi bagian Spanyol atau merdeka pada 9 November nanti. Namun, pelaksaanaan referendum itu ditunda. Walaupun begitu, masih ada sebagian kelompok yang menghendaki pelaksanaan referendum tetap dilanjutkan

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK