Kejutan kembali muncul dari putra mahkota Yordania, Pangeran Ali bin Ali Hussein, setelah sang pangeran pekan ini mengumumkan pencalonannya sebagai Presiden FIFA untuk bersaing dengan Blatter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kuwait sendiri, Sheikh Ahmad merupakan bagian keluarga penguasa negeri. Mereka kerap mengintervensi permasalahan di sepak bola negara tersebut.
Tekanan Positif
Intervensi paling nyata terjadi pada Piala Dunia 1982. Saat itu, Sheikh Fahad Al-Ahmad Al-Sabah meniupkan peluit dari jajaran bangku penonton.
Pemain-pemain Kuwait berhenti bermain lantaran mengira itu adalah peluit tanda permainan telah usai. Perancis yang telah unggul 3-1 berkesempatan menjebol gawang Kuwait satu kali lagi.
Sang bos marah dan mengancam wasit untuk membatalkan gol tersebut, meski pada akhirnya kemenangan tetap di tangan Perancis.
Piala Triumph Asia 1980 ketika Kuwait menjadi tuan rumah juga dikacaukan isu politik.
Pada Piala Asia 2015 kali ini, Kuwait kembali berlaga. Pelatih Nabil Maaloul dipercaya membawa tim Kuwait meraih kejayaan seperti pada 1980. Sebelumnya, Jorvan Vieira dipecat karena tak bisa membawa Kuwait meraih hasil di Piala Gurun 2014.
"Ada tekanan besar di pundak kami, terlebih setelah permainan buruk timnas Kuwait di Piala Gurun lalu," kata Maaloul seperti dikutip Reuters. "Semoga ini bisa menjadi tekanan yang positif." (vri/vri)