Beban mental ini terlihat lebih ringan jika dibandingkan dengan seorang penjaga gawang, karena seorang kiper memang lebih 'diprediksikan' gagal menghalau bola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana dituliskan BBC, riset yang dilakukan oleh Universitas John Moores di Liverpool memberikan satu solusi yang sulit terbantahkan.
"Kiper tak memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi sehingga menempatkan bola di area ini akan menunjukkan keberhasilan 100 persen."
Riley kemudian bertutur bahwa banyak penendang penalti yang menendang bola sekeras mungkin ke tengah-tengah gawang, dengan harapan sang kiper telah lebih dahulu bergerak. "Namun cara ini tak selalu sukses," ujarnya.
Riley sendiri mengakui bahwa menempatkan bola ke pojok atas memang tidak mudah sehingga memiliki risiko tersendiri. Namun cara ini adalah alternatif yang bisa dicoba ketimbang menempatkan bola ke pojok bawah gawang.
"Memang lebih mudah untuk menendang ke pojok bawah, namun jika tendangan tak benar-benar dilakukan sempurna maka kiper masih bisa menjangkaunya."
Sementara itu, seorang psikolog olahraga Peter Naish berkata bahwa rahasia untuk mengambil penalti adalah berlatih sesering mungkin sehingga tubuh secara tidak langsung akan memiliki reaksi alamiah.
"Biasanya penendang penalti akan berpikir untuk mengarahkan bola ke tempat tertentu untuk mengecoh kiper. Namun mereka tidak memikirkan cara agar kaki atau tubuhnya bisa melakukan hal tersebut dengan baik.
"Semakin sering berlatih, maka cara menendang akan menjadi keahlian tersendiri."
"Ketika seorang penendang gagal berpikir karena, misalnya, melakukan penalti di hadapan 80 ribu orang, maka teknik menendang yang terekam dalam alam bawah sadar akan mulai mengambil alih." (vws)